Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Mantra Bertumbuh Itu Sedikit Demi Sedikit!

4 min read

mantra bertumbuh sedikit demi sedikit

Membaca buku ‘Sehari Bersama Reni’ membuat saya cukup terperangah dan memberi ide baru untuk memahamkan anak tentang bertumbuh, bertambahnya umur dan tanggungjawab. Ada mantra istimewa yang digaungkan dalam memahamI hal tersebut, ialah ‘sedikit demi sedikit’.

Ketika Anak Bertambah Umur

Bertambah umur adalah suatu hal yang tak bisa dihindarkan. Namun hal tersebut seringkali tidak berbanding lurus dengan tanggung jawab dan sikap mandiri kita.

Di pertengahan usia empat tahun, saya sudah mulai cukup rajin meminta dia mengaji, makan sendiri, belajar mencopot baju dan memakai baju, membereskan mainan, dan lainnya. Saya tekankan begitu karena dia bertambah besar.

Kira-kira apa respon anak? Dia seringkali berkilah. Kadang di satu sisi dia ingin dibilang sebagai anak besar. Misal ketika memilih makanan atau baju, biar boleh pakai baju baru atau minta permen lebih. Tapi kalau saya minta tolong untuk makan sendiri dia akan berkilah ‘ kan adek masih kecil, belum bisa melakukannya sendiri’.

Haha, ngeselin nggak tuh. Anak usia jelang lima tahun sudah bisa tawar-menawar ternyata. Sebagai orang tua, saya juga tentunya nggak boleh kalah.

Ketika anak tidak mau melaksanakan perintah, saya seringkali diamkan dulu. Kalau penting dan dia masih nggak mau, saya pakai hitungan ‘ satu, dua, tiga’, akhirnya dia mulai bergerak.

Memang ya, tanpa sadar saya sendiri merasa seperti menuntut. Bertumbuh padahal bukan sekadar memberi tahu bahwa anak bertambah umur dan harus melakukan banyak hal sendiri. Lebih dari itu, proses tersebut harus berjalan dengan memberi contoh dan pendampingan.

Saya katakan ‘menuntut’ karena ternyata rasanya terlalu tiba-tiba. Padahal seharusnya saya memahamkan terlebih dahulu tentang apa, kenapa dan bagaimana seharusnya memaknai bertumbuh bagi seorang anak kecil.

Bertumbuh bukan sekadar euforia dengan rangkaian ulang tahun maupun banyak tuntutan. Bertumbuh lebih dari sekadar itu. Hal itu butuh proses, dan proses tentunya tidak bisa ujug-ujug. Beruntungnya, saya dipertemukan dengan buku Clara Ng berjudul ‘Sehari Bersama Reni’ yang kami baca lewat e-book di iPusnas.

Blurb Buku ‘Sehari Bersama Reni’ karya Clara Ng

Reni hari ini bertambah umur, namun dia sedih. Dia suka sekali sebenarnya saat ulang tahunnya dirayakan baik oleh orangtua dan teman-temannya di sekolah. Namun kebahagiaan itu kalah dengan tanggung jawab yang menghantuinya saat pertambahan usia datang.

Tambah umur  artinya bertanggung jawab, hal tersebut dia lihat dari kakaknya yang perlu berangkat sekolah sendiri, membersihkan kamar tidur sendiri, dan lain sebagainya yang perlu dilakukan sendiri.

Dia ingin masih merasakan dimanja oleh ibunya dan menjadi anak-anak selamanya.  Menjadi anak-anak terus itu enak, pikirnya. Karena dengan menjadi anak-anak, bisa terus bermain dan tidak perlu melakukan banyak hal. 

Pertumbuhan anak perlu didampingi dengan menyenangkan, karena berubah itu seru!

Sang Ibu tertawa lalu berkata ‘ Berubah itu seru’. Lalu sang Ibu memberikan kata-kata positif yang membuat Reni sumringah, bukan kado, tapi sebuah mantra, ‘sedikit demi sedikit’.

‘Ucapkanlah mantra itu setiap kali kamu menginginkan sesuatu, tapi harus dilatih. Tidak banyak yang bisa menciptakan keajaiban dari mantra itu’, begitu pesan Ibunya.

Akhirnya, dengan terus mengingat dan mencoba memaknai mantra tersebut, Reni mencoba menerapkan hal tersebut dalam kesehariannya. Saat dia tidak paham tentang satu hal, dia pelajari hal tersebut sedikit demi sedikit, tidak tergesa-gesa, dan menikmati proses tersebut. Sedikit demi sedikit ternyata bisa mengubah segalanya. Aneh, tapi memang begitulah yang terjadi.

Mantra ‘Sedikit Demi Sedikit’

Ada yang merasa relate nggak dengan ceritanya Reni?

Saya merasa kisahnya ini cocok banget untuk disoundingkan kepada anak. Makanya, bersyukur sekali bisa menemukan buku tersebut.

Kebetulan Nahla sepertinya lebih suka pengajaran lewat cerita daripada lewat perintah. Memang, kisah itu memberikan peringatan tanpa menggurui ya.

mantra sedikit demi sedikit, perubahan harus dilatih

Lewat mantra sedikit demi sedikit, menjadi reminder buat saya, bahwa menjadi orang tua bukan berarti menuntut semaunya. Bukan pula menjadi bertambah tua, tetiba harus bisa melakukan banyak hal sendiri.

Bertambah umur memang seharusnya bertumbuh. Dalam arti, bertambahnya kemampuan untuk bisa melakukan banyak hal. Tapi, ada tahapannya.

Nah, dalam buku ini, cara untuk memahamkan tentang bertambah usia dikemas dengan sangat unik dan menyenangkan. Iya, dengan mantra.

Terbayang donk ketika saya menyebutkan tentang mantra? Karena Nahla suka dengan Frozen dan film yang ada magic gitu, dia langsung senang sekali mendengar kata mantra.

Baca juga : Nahla Suka Film Frozen

Dalam benaknya, bisa jadi ini seperti kekuatan. Dan saya mencoba meyakinkan hal tersebut. Ya, ini memang kekuatan, Nak. Dengan mantra ini, hal yang tidak bisa, perlahan dapat kita lakukan, tentunya dengan menerapkan mantra tersebut, sedikit demi sedikit.

Manfaat dari Mantra Sedikit demi Sedikit

Hasilnya sangat menggembirakan.

Saat anak sedang tidak ingin melakukan suatu hal, saya coba bujuk dengan berucap ‘Kalau tidak mencoba, tentu tidak akan bisa. Coba Adek lakukan sedikit demi sedikit, nanti pasti akan bisa dan terbiasa’.

Mempraktikkan hal ini untuk beberapa hal ternyata bekerja dengan baik. Hal yang diharapkan akan anak pahami dari mantra tersebut seperti :

1. Bertumbuh menjadi dewasa tidak semenakutkan yang dikira

Bisa jadi, ada banyak anak yang merasakan seperti yang Reni pikirkan. Menjadi dewasa memiliki banyak beban. Penggunaan mantra ini mencoba memberi ruang menyenangkan, bahwa dewasa itu seru dan asyik.

Memang memiliki tanggung jawab itu berat awalnya. Namun dengan kemauan untuk belajar bertanggung jawab dan menggunakan mantra sedikit demi sedikit, anak-anak akan dituntun untuk mempelajari suatu hal dengan gembira. Tidak hanya saat berproses saja, tapi juga menikmati keberhasilan kecil dari apa yang sudah ia usahakan.

2. Belajar itu bertahap

Lagi-lagi lewat buku ini diingatkan kembai bahwa menguasai sesuatu itu tidak ada yang instan. Semua bertahap. Semua ada prosesnya.

Dengan mantra tersebut, anak-anak mencoba memahami bahwa mempelajari suatu hal itu ternyata akan berhasil jika dilakukan dengan rutin, konsisten, dan ada kemauan tentunya.

3. Berani mencoba sesuatu yang baru

Seiring tumbuh kembang anak, otomatis kemampuan motorik, psikis, dan psikomotorik anak juga semakin perlu diasah. Biasanya, anak-anak pun suka penasaran untuk mencoba sesuatu hal yang baru.

Mencoba sesuatu hal yang baru memang menyenangkan. Meski kadang takut untuk mengawalinya. Dengan mantra ini, anak-anak diharapkan menjadi yakin akan kemampuan dirinya untuk berani mencoba tantangan. Tantangan untuk lebih mandiri misalnya.

4. Yang sulit menjadi terasa mudah

Memang menjadi dewasa itu terlihat susah, apalagi anak-anak kemudian mendapati banyak hal yang perlu ia lakukan sendiri. Namun, dengan sedikit demi sedikit, hal yang terasa sulit tersebut bisa dilakukan dengan baik, lho.

Saat kesulitan, ingat kembali mantranya. Sedikit demi sedikit. Saat lelah untuk melakukannya, ingat lagi akan hasil yang akan anak dapatkan jika anak bisa melakukannya.

5. Melatih anak lebih mandiri

Dengan mantra tersebut, harapannya anak-anak belajar hidup mandiri. Dengan bekal dan kemauan untuk melakukan hal-hal yang orang besar lakukan, ia akan memahami bahwa hal tersebut baik memberi keuntungan untuk dirinya sendiri.

Semisal, ketika anak mau belajar bertanggungjawab pada pakaiannya, ternyata hal itu akan membuat anak tidak kesulitan saat mencari pakaiannya sendiri. Senang kan. Jadi drama rumah akan sedikit berkurang karena anak-anak sudah bisa mengerjakan bagian tugasnya sendiri-sendiri.


Efeknya apa nih yang terjadi sama Nahla?

Jadi, berkat cerita dari buku tersebut akhirnya dia mau lagi ngaji Iqro. wkwk. Padahal sebelumnya udah mandeg lebih dari sebulan karena selama ini prosesnya agak strick. (red : mamak galak).

Di awal, Nahla minta syarat untuk memulai kembali dari halaman awal, means dari iqro 1 lagi. Meski agak berat buat saya yang kadang ambisius dan kejar target, tapi saya pun iyakan. Kan ngaji anak bukan kejar-kejaran juga, Mak.

Selain itu, untuk hal yang lain, saat Nahla tidak ingin mencobanya, saya sounding lagi mantra tersebut. Kadang mau, tapi beberapa hal juga masih nggak mau, sih. Well, mantra ini tapi memberi pengaruh cukup banyak untuk mengiringi pertumbuhan Nahla.

Trial and error dalam pengasuhan itu memang biasa. Hanya saja, memahamkan tentang pertumbuhan itu acapkali terlalu digaungkan secara besar-besaran namun kita sering lupa dengan prosesnya.

Kini, sudah ada banyak buku bagus selain ini yang mengajarkan tumbuh kembang. Buku-buku anak seperti itu bisa menjadi perantara untuk orang tua memahamkan kembali tentang makna bertumbuh dan esensinya.

Kalian punya cerita relate seperti itu nggak? Yuk, cerita di kolom komentar.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

47 Replies to “Mantra Bertumbuh Itu Sedikit Demi Sedikit!”

  1. Waah makasii sharingnya Mbaa 😍 memang ya sama anak kecil kita ga bs ‘ujug2’. Harus sedikit demi sedikit. Hal yg mudah buat kita, blm tentu mudah buat mereka. Blm lg nungguin mereka mood. 😆
    Seneng dengernya Nakhla udah mulai semangat lg baca iqro. Semangat terus mba ghinaa..

    Btw, gambar headernya baru ya? Atau aku yg baru ngeh? 😆 Baguus gambarnyaa..

    1. Hihi, mbak thessa ngeh aja kalau ada yang baru. Iya ini baru ganti template mbaak, moga bikin makin betah mampir yaa.

      Baca beberapa bukunya ibu clara (aku memperkenalkan ibu clara sama Nahla hihi) jadi banyak menemukan insight baru. Suka kebetulan banget, karena kemarin memang sedang mengalami stuck di masa Nahla lagi suka menolak melakukan banyak hal. Kadang saya juga berpikir masa kayak gini ga bisa, saya sering lupa kalau dia kan masih anak kecil, tugas orang tua masih hanya memperkenalkan saja, belum wajib kan ya. Cuma ya itu emang kadang helikopter parentnya suka keluar, untung banget kemarin diingetin lagi sama buku ini.

      Doanya ya tante, semoga bisa istiqomah nih emaknya buat lebih sabar dan Nahla lebih mudah paham. Aamiin

  2. Makasih sudah saling berbagi mbak ghina.

    Memang anak saya juga kadang gitu, kadang maunya jadi anak terus kalo disuruh katanya masih kecil tapi kalo milih baju atau sandal maunya sesuai keinginannya, udah kayak anak gede saja.😂

    Saya belum baca bukunya, kalo melihat ulasannya sepertinya bagus banget.

    1. sama-sama Mas Agus. Wkwkwk, drama kayak gitu bikin kita berpikir ulang ya dan kudu nyari celah yaa biar kita menang.

      Bukunya bisa dibaca dari ipusnas kok mas. seru banget bacain ini kalau untuk anak toddler mh. tapi kalau udah 10 tahun ke atas perlu lebih keras soundingnya kayaknya, karena ngelesnya juga lebih pintar.

      1. Duh Nahla sayang, seumuran sama mas Sakha ya.. di usia 5vtahun ini memang waktunya berdialog sama anak. Sering2 malah kehilangan kesabaran ya Allah, astagfirullah….aku jadi pengen baca di iousnas deh buku ini

        1. iyaaa yaam Nahla masih mei 5 tahunnyaa kak sakha.. lagi seneng2nya ya berdialog gitu, aku tuh mau ngajarin anak bobo sendiri tapi akunya yg belum bisa ternyata teh, merasa kehilangan karena biasanya dongengin terus elus2 sambil ngobrol atau disholawatin gitu pas mau bobo, wkwk. yuk dibaca, ada banyak kok koleksi clara ng di sana

      2. Iya, kita harus lebih pintar lagi agar tidak dikadali anak terus ya, kadang dia juga pasang muka memelas jadinya kadang tak tega, misalnya disuruh ngaji tapi maunya main sama temen saja.

        Kalo emaknya mah ngga ada kompromi, jadi dia tahu, kalo sama bapaknya kadang merajuk, kalo sama emaknya manut.😂

        1. Nah, sama donk mas Agus. WKWK. Jadi emak ini emang bingungin ya, ga suka anaknya digalakin, tapi ternyata dia yg paling galak sendiri nih. huhu.. Tapi sebenarnya lebih ke tegas aja sih, kan biar balance, ada tegas ada yang bisa dikompromi ya.

  3. Saya suka dengan artikel yg inspiratif, apalagi mantra “sedikit demi sedikit”. Suka dg tulisan Clara Ng yg lebih menyentuh keseharian parenting . Proses mandiri anak penuh dinamika, contoh,teladan,tanggung jawab,afirmasi. Sudah melakoni proses ini utk mendewasakan anak belajar ke luar negri. Satu sisi ingin dia mandiri penuh, sisi lain dia msh banyak bergantung kpd kita tiap ada kesulitan. Tks atas artikel bagus..

    1. Terimakasih bu Ina… Buku clara ng banyak memberikan perspektif pengasuhan baru memang buat saya nih. Apalagi semakin anak bertumbuh semakin perlu didampingin, dengan buku kerasa banget lebih mudah dikendalikan perkembangannya. proses dewasa memang perlu dipaham lebih ya

  4. suka banget aku dari dulu sama buku-bukunya Clara Ng, one of my favorite author sih, apalagi buku untuk anaknya bagus banget untuk menemani tumbuh kembang anak

    1. aku juga mbak, salah satu penulis favorit nih,,, apalagi yang buku yang menggunakan buku dialektika, aku yang bacainnya jadi terbawa sama suasana ceritanya..

  5. Mbak aku gagal fokeus sama templatenya. Lucu syekali hehehe. Aku langsung meluncur cari buku yang sama. Liat insight darimu langsung tertariiik

    1. hihi, makasih mba wid, iya baru ganti ini. pengen yang lebih cerah-cerah ceritanya mah

      yuk langsung dicari buku, koleksi clara ng yang lain juga ada banyak di ipusnas.

  6. jadi ingat awal belajar iqro di usia 30 an,

    berat banget karena guru saya “galak”, nggak bisa denger sedikit kesalahan, langsung harus mengulang

    jengkel rasanya

    tepi berkat “sedikit demi sedikit” sekarang saya bisa, horayyyyy ^^

    1. masya Allah ambu, masih tetap semangat ya meski usia sudah 30an, Alhamdulillah. Dari iqro juga kita jadi belajar tentang bertahap dan berangsur-angsur yaa, Al-Qur’an juga turunnya berangsur-angsur sedikit demi sedikit, jadi memang kalau ada yang nawarin langsung bisa secar instan itu nggak bisa percaya ya

  7. Waahhh Masya Allah. Nampaknya buku Sehari Bersama Reni karya Clara Ng ini juga butuh aku cari. Soalnya anakku kan baru banget 3 tahun. Nah, di usianya kini, kadang ada masanya dia merasa anak besar, ada masa pula dia merasa nggak mau besar. Sesederhana urusan pakai baju sendiri.

    Makasih banyak pencerahannya, Kak Ghina.

    1. sama mba, Nahla juga masih suka kek gitu. bisa dicoba bacain buku clara ng ini.. masa pertumbuhan umur segitu emang lagi seru-serunya, jadi perlu pendamingan ekstra juga ya..

  8. Seneng sekali baca artikelnya, makasih udah berbagi mantra hehee.. bener sekali anak-anak harus diberikan semangat bila ingin meraih sesuatu tapi bertahap atau sedikit demi sedikit. Sebab segala sesuatu berproses dengan mantra ini secara tidak langsung kita udah menerapkan proses itu

    1. Iya mba erly,, ini jadi mantra nggak cuma buat anaknya doank, tapi ternyata buat ibunya juga berguna banget, kalau lagi ngulik blog dan kesusahan jadi inget mantra ini lagi, lumayan melegakan dan jadi semangat lagi, hihi

  9. Abis ini langsung OTW Ipusnas buat nyari buku ini. Ternyata selama ini caraku juga salah untuk mengajarkan kemandirian ke anakku. Aku minta dia beresin mainan sendiri, makan sendiri, dll yg kira-kira bisa dikerjakan sendiri. Memang dia jadi kayak sebal gitu pas diminta, memang harusnya bertahap ya Mbak. Nanti coba deh aku ajarin mantra ajaib ini ke anakku. Thanks for sharing ❤️

    1. welcome mbak Ning..

      dulu aku juga kok mbak, ya namanya pengasuhan trial and error yaa. semoga semakin bertumbuhnya anak semakin membuat kita sabar dan tumbuh bersama dengan baik yaa.

  10. Ada dong. Bocil disuruh guru ngajinya ngapalin juz 30 tapi dari An-Naba, malas nya minta ampun. Katanya kepanjangan. Tapi pas dimulai dari An-Nas, malah tertarik, dan sekarang alhamdulillah sudah sampai Al-Bayyinah

    1. wkwkwk, itu mah gurunya yang kurang kreatif mas. Anak kecil emang biasanya akan mulai surat2an dri annas dulu yg jelas pendek2 dan mudah dihapal. annaba itu ayatnya banyak dan udah panjang2, jelas anak keberatan sih

  11. Clara Ng emang jagoan dalam menulis buku cerita anak, ya, aku koleksi beberapa bukunya.. Kelihatan sih dia emang jago dalam urusan pengasuhan karena punya relasi yang manis sama anak-anaknya

  12. Ponakan daku kadang juga begitu adakalanya bilang “aku kan masih kecil aunty” tapi juga pernah bilang “aku udah besar, kan udah sekolah” 😂.

    Ini jadi pelajaran buat daku saat nanti berumah tangga dan memiliki anak biar paham dalam mengajarkan kemandirian pada anak

  13. Aku jadi tertarik untuk baca bukunya Clara Ng yg ini deh mbak. Entah kenapa aku butuh ini buat dibaca berdua sama pra remajaku biar dia juga bisa bertumbuh sedikit demi sedikit. Karena cowok, mikirnya ah ribet gak usah aja, ini yg pengen aku ubah jadi dikit2 yg penting ada progres

  14. Aku pribadi sih blm punya anak. Tapi kalo liat perkembangan keponakan ku itu seru bgt. Emang semuanya butuh proses tapi kalo dinikmati prosesnya seru bgt.. emg gak ada hasil yg instan begitu jg dengan perkembangan anak ya hihih

  15. Makasih sharingnya..
    Aku setuju banget sama mantranya. Ahh mendidik anak sesuai dengan tahapan2 usianya memang berbeda yaa. Seperti Nahla yang 4 tahun, dulu anakku gitu juga banyak nawarnya, hahaa.
    Ahh membersamai anak sampe diusia 18 tahun ini memang luar biasa dan mantra itu akan terus digunakan. Dan buat Ibunya pun, berubah itu seruu. Terutama berubah soal mindset, bahwa anak2 jaman now cukup didampingi, diberikan contoh dan bisa menjadi sahabatnya.

  16. Mengharukan ketika kita menyadari anak kita sedang mulai bertumbuh, baik usia maupun kedewasaannya. Saya teringat momen-momen anak mulai belajar mandi sendiri, mulai cebok sendiri, mulai makan sendiri, dan lain-lain karena tuntutan akan punya adik. Meski begitu, usia anak waktu itu memang sudah waktunya sih… Namun, di hati campur aduk. Ada rasa senang namun juga menyadari bahwa dia sudah mulai besar. Tidak lagi kita suapi, tidak lagi dibajuin, dll… Tapi, ya perkembangan ini harus membuat anak menikmatinya dan kita juga menikmatinya dengan senang hati.

  17. Kalau di rumah, selama ini Alfatih baru sering dibacakan cerita2 nabi dan kisah konstantinopel karena banyak gambarnya. Next kayaknya bisa deh buku ini pas umur lebih dari 3 tahun.

  18. Kalau di rumah, selama ini Alfatih baru sering dibacakan cerita2 nabi dan kisah konstantinopel karena banyak gambarnya. Next kayaknya bisa deh buku ini.

  19. Wah makasih sharingnya Mbak. Super duper bisa relate ke real life. Kadang emang ibu ini bisa jadi super duper menuntut padahal anaknya baru diomongin sekali doang. Makasih bgt ini jadi reminder bgt buat aku ❤️

  20. akhirnya ketemu juga kolom komen template barunya mba ghina…dari kemaren aku sowan sini ga ngliat kolom komennya…hahahahah

    wah kayaknya menarik nih belajar bersama Reni…secara anak aku yang pertama menuju usia sana…baru 3 tahun sih….sudah mulai keyel mania..ngeyelan..jangan jangan nurunin sifat mamahnya hahahaha..

    buku buku clara ng yang buat anak anak emang cute cute…uda kelihatan dari covernya….kakakku sering beli tapi lain dengan judul yang ini mba ghina…dan aku jadi ikutan pengen punya #suka mupengan sih aku hahahha

    1. Haiii mba Nitaa. Iya kmrn itu aku salah kasih pengaturan, aku edit2 ternyata malah bikin ga bisa komen. Maklum masih anyar, hobinya diotak atik mulu karena bnyk yg ga paham. Wkwk

      Cari aja mbak bukunya di ipusnas, tp emang kalau baca lgsg pake buku cetak emang lebih ngena ngajarinnya.

      Terrible three juga udah mulai muncul keakuannya ya mba nit, jadi usah menguji kesabaran kita banget..

    2. nah iyaa yaak, beneran sama kayak Mbak Mbul. Aku kmren udah baca beberapa post mbak Ghina, kemudian mau komen. Tapi ga nemu nemu dong hahaa.
      Hari ini main lagi ke sini, alhamdulillah akhirnya ketemu ehehehe…

  21. Aku yg ga sabaran blasss rasanya perlu meniru cara ini -_- . Kadang susaaah banget nahan emosi, apalagi aku sering menuntut anak utk bisa catch up sesuai yg aku mau. Aku lupa target yg aku ksh ke mereka, itu ga memperhatikan apa mereka mampu memenuhi target itu, ato hanya untuk memenuhi ambisi ku doang.

    So yg hrs belajar sepertinya aku sih mba, belajar mengendalikan diri saat ngajarin anak2 ini …

  22. Banyak oknum ibu muda yang berambisi terlalu tinggi. anaknya harus begini dan begitu. Membaca buku-buku bagus adalah salah satu cara untuk meredamnya. selamat pagi, Mbak Gina.

    1. Hai mbak nurisini rais, selamat pagi juga..

      saya juga pernah termasuk dalam satu ibu ambisius itu mbak, huhu. Memang nggak bisa dipungkiri, kepengennya kita ngasih yang terbaik, tapi ternyata ada hal2 yang harus diperhatikan juga buat anak, seperti memberikan hak pada anak untuk memilih dan sebagainya. Semoga ita termasuk orang-orang yang sadar dalam pengasuhan yaa.

      1. Saya dulu kadang juga suka lupa, bergaya bagai mom ambisius. Terlalu cepat ingin melihat hasil anak saya bisa hafalan paling banyak, bisa membaca paling rajin ..waduuh padahal gak baik ya kalau mwmurut buku ini.
        Mantranya oke banget. Sedikit demi sedikit. Sedikit demi sedikit.
        Makasih mbah udah sharing review bukunya Clara ng ini. Jadi pengen punya 🙂

        1. Sama-sama Mba Dewi. Buku cerita anak emang seringkali mengajarkan tanpa menggurui yaa. Saya jg tertampar dan jadi inget gmna dulu saya press anak utk hafal sesuatu karena saya merasa harusnya dia bisa. Pdhl yg mengukur itu bukan saya harusnya tp anak yaa.

          Bukunya bisa diakses di gramedia digital maupun ipusnas kok Mbak. Semoga kita dimudahkan utk mempraktikkannya yaa. 😀

  23. Alhamdulillah nya sekarang ini kita mudah menemukan buku seputar anak ya. Jadi gak ada alasan lagi untuk gak belajar. Biar jadi orangtua yang benar dalam mendidik anak

  24. Wah ini menarik
    Aku kok berasa related banget sama kondisi ini ya
    Kadang merasa menjadi orang tua yanng teralu menuntut ke anak
    Pengen dia bisa ini itu dengan cepat
    Padahal gak ada yang instan ya
    Mantra “Sedikit demi sedikit” mau aku praktekkan juga ah
    Bukan hanya buat anak, tapi juga buat diriku sendiri
    Makasi sharingnya kak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!