Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Batasi Penggunaan Gadget Pada Anak Dengan Sistem Timer

4 min read

penggunaan gadget pada anak perlu dibatasi dengan timer

Ketika timer berbunyi, Nahla tiba-tiba langsung berhenti menatap layar gawai milik saya. Lalu dia berucap ‘Mamah, sudah selesai nontonnya. Adek main lagi ya.’

Anak itu lalu meletakkan gawainya, dan mengambil tas yang berisi lego. Dia mulai bermain menyusun lego tersebut menjadi sebuah bangunan rumah besar.

Saya tertegun dengan sikap dia yang begitu. Jadi teringat, dulu saya kelimpungan sekali mengatur disiplin anak pada gadget. Seperti yang dialami anak pada umumnya, gawai memang sudah jadi candu. Sekalinya gawai saya ambil, dia akan marah, teriak, dan ingin lagi dan lagi nontonnya.

Baca juga : Mantra Bertumbuh Itu Sedikit Demi Sedikit

Memang saya sendiri yang mengenalkan anak pada gawai. Untungnya dia tahu dan lebih akrab dengan gawai sekitar umur 3 tahunan. Tidak terlalu dini lah ya. Meski memang, semakin dibiarkan anak akan semakin tahu nikmatnya nonton, lalu jadi candu.

Teman-teman ada yang merasakan hal yang seperti itu nggak?

Pentingnya Pembatasan Gadget pada Anak-anak

Menjadi orang tua di era digital menjadikan kita perlu memahami perkembangan digital dan pengelolaannya. Tidak dipungkiri, kita sendiri terkadang memberikan gadget asal saja. Padahal seharusnya orang tua memikirkan konsekwensi dari hal tersebut.

Tidak heran beberapa pakar meminta orangtua untuk tidak memberikan gawai sedini mungkin. Pun, ketika sudah memberikan gadget, tidak hanya sembarang memberi, perlu memberikan peraturan do’s and dont’s pada penggunaan gadget.

Memberikan tontonan pada anak buat apa sih? hiburan? hiburan tentu nggak perlu lama-lama kan..

Suguhan dari layar smartphone memang membuat kita betah untuk berlama-lama menonton. Anak-anak pun demikian tentunya. Kenyamanan tersebut perlu dibatasi, karena efeknya akan sangat buruk, terutama buat tumbuh kembang anak.

anak menjadi mudah marah karena gadget

Beberapa penelitian menjelaskan bahwa anak-anak yang terpapar layar gawai dalam waktu lama (lebih dari 2 jam) akan terkena risiko obesitas, kurang tidur, kebugaran fisik yang rendah, kecemasan dan depresi.

Belum lagi kendali anak yang masih belum bisa ditangani dengan baik. Anak yang sudah kecanduan biasanya akan mudah tersulut emosi, sulit diajak berkomunikasi, dan tentu berpengaruh pada perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak.

Hal tersebut tentu harus ditangani dengan baik. Kita memang tidak bisa menghindari perkembangan teknologi digital dan menjauhkan anak dari hal tersebut. Tentu ada sisi baiknya juga, selain memang banyak juga sisi buruknya.

Orang tua dan lingkungan memiliki peran besar untuk membuat anak paham pada pola perilakunya terhadap penggunaan gawai. Selain dengan orang tua memberi contoh yang baik, sikap yang tegas, hal cukup ampuh yang bisa diterapkan dalam membantu anak disiplin dalam menggunakan gawai ialah melalui setting timer.

Dari pengalaman saya selama ini, semakin dini disiplin dengan timer ini diterapkan, hasilnya untuk lebih terpatri dalam benak anak semakin mudah.

Baca juga : Efek Gawai

Alasan Memilih Timer untuk Membatasi Penggunaan Gadget pada Anak

Alasan saya memilih timer dalam membatasi penggunaan gadget adalah karena pengalaman saya selama ikut kursus di Pare. Sistem timer pun saya gunakan pada anak mulai saat di Pare juga.

Timer digunakan di tempat kursusan tersebut sebagai simulasi pengerjaan TOEFL maupun IELTS. Saat pengerjaan soal-soal, saya dan teman-teman terpacu untuk lebih fokus dan efisien dalam mengerjakannya. Jatah waktu yang diberikan sedikit sekali soalnya.

Ketika saya kebingungan untuk mendampingi anak menonton dan anak cenderung menolak ketika saya meminta untuk menyudahinya, saya tiba-tiba kepikiran untuk menerapakan sistem timer ini. Waktu itu, sekitar 15 menit lebih, saya akan masuk kelas lagi.

Saya memilih timer karena metode ini adalah cara yang jelas membuat anak paham tentang batasan. Ketika kita seringkali meminta anak main gadget dengan bilang ‘sebentar saja, ya’ itu rasanya kurang mengena di benak anak. Sebentar itu seberapa lama memang?

Bandingkan dengan kita bilang ‘sebentar saja’ lalu setting timer dan tunjukkan jumlah menit yang bisa ia gunakan untuk menonton. Saya merasa hal tersebut lebih efektif. Anak jadi tahu batasan real untuk melakukan sesuatu.

aturan orangtua memberikan gadget pada anak

Hal-hal yang Diperlukan untuk Memulai Disiplin Bermain Gadget Pada Anak dengan Timer

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memulai menerapkan timer rule pada anak. Beberapa diantaranya seperti :

1. Menyamakan persepsi dengan pasangan dan lingkungan

Konsep pengasuhan ini perlu kerjasama pasangan serta lingkungan. Karena kebetulan saat itu saya sedang les dan anak-anak asrama juga membersamai tumbuh kembang Nahla di sana, saya mengenakan konsep timer kepada mereka.

Cukup berat ternyata, karena toh orang dewasa malah suka menonton sesukanya. Namun, perlahan saya ingatkan bahwa batasan buat anak itu perlu dan butuh konsisten agar menuai efeknya. Hasilnya, lumayan. Beberapa ada yang paham dan mempraktikkannya saat menemani Nahla.

2. Memberi tahu bahwa jadwal menonton itu terbatas

Saya sounding terlebih dahulu, bahwa ada batasan dalam melakukan sesuatu. Meski kita menyukai hal tersebut, tidak berarti kita bisa menikmatinya dalam waktu lama. Apalagi untuk menonton, jelas ada efek buruknya jika terlalu lama, terutama buat anak-anak.

Memberitahu tentang efek buruknya dengan penjelasan secara ilmiah pun bisa dilakukan. Anak diharapkan bisa lebih paham tentang fungsi mata dan hal-hal yang harus dilakukan untuk menjaga anggota tubuhnya.

3. Ketika timer berbunyi, jatah menonton selesai

Ketika jatah waktu untuk bermain gadget selesai, timer akan berbunyi. Biasanya, untuk beberapa aplikasi, ketika timer berbunyi, tontontan pun ikut berhenti. Ada juga beberapa yang tidak ikut berhenti.

Maka, kita tanamkan kembali pada anak, bahwa ketika timer sudah berbunyi itu pertanda kita harus menyudahi waktu untuk menonton. Belajar disiplin untuk mematuhi suatu hal bisa dimulai dari cara ini.

Dengan disiplin yang konsisten, hasilnya ketika timer berbunyi dan kita tidak sedang mendampinginya, anak akan berhenti sendiri. Fakta ini saya dapati ketika saya tinggal anak menonton untuk sholat dulu. Saat sholat, timer berbunyi dan ternyata anak pun kemudian menaruh gawai tersebut dan lanjut memegang mainannya.

4. Tentukan pilihan tontonan yang dia sukai sebelum memulai

Sebelum menonton, tanyakan dulu pada anak, apa yang ingin ditontonnya. Atau jika kita punya referensi tontonan yang kita sukai juga boleh. Pilih yang memang anak enjoy menontonnya.

Jangan terlalu lama menentukan pilihan. Ingat, saat kita membuka aplikasi, waktu sudah berjalan. Jadi semakin lama memilih, malah jatah waktu untuk menonton semakin sedikit.

5. Pilih aplikasi yang ada timernya

Pilihan saya jatuh pada YouTube Kids. Di sana ada set timer yang bisa kita terapkan. Ajak anak kerjasama sembari menunjukkan angka. Ini bisa jadi media juga untuk anak mengenal angka toh.

Jika ada aplikasi yang tidak ada timer-nya, kita bisa mengaturnya dengan memasang timer terlebih dahulu lewat gawai tersebut. Hasilnya sama kok, ketika waktu habis dan timer berbunyi, tontonan pun akan berhenti sendiri kok.

Only fifteen minutes, okay.

Sounding setiap sebelum memberi gawai pada anak

6. Dampingi Anak

Tentu saja, kegiatan ini adalah hal yang perlu dilakukan orangtua pada anaknya. Memang pengennya kan anak nonton malah jadi kesempatan buat kita beres-beres maupun ikutan main HP juga, scrolling media sosial, atau malah tiduran.

Akan tetapi, sungguh kita benran harus sebisa mungkin mendampingi anak saat menonton. Selain bagus untuk bonding, ini akan jadi bahan obrolan sendiri dengan anak nantinya. Seru kan kalau anak cerita terus kita bisa mersponnya dan nyambung?

Keuntungan Penggunaan Timer Pada Anak

Sampai saat ini, dari pengalaman tersebut, saya merasakan banyak sekali keuntungan yang dihasilkan dari penggunaan timer pada anak. Beberapa diantaranya seperti :

1. Mengenal konsep waktu

Cara sederhana untuk mengenalkan waktu adalah dengan waktu itu sendiri. Sebagai permulaan, saya memberi waktu 15 menit untuk waktu menonton, sembari menunjukkan angkanya dan dia memperhatikan sendiri bagaimana pengaturannya.

2. Tahu batasan

Batasan atau limitasi menurut saya penting untuk diperkenalkan sejak dini pada anak. Hal ini sekain bagus untuk memberikan kepastian tentang arti ‘sebentar’ juga diharapkan menjadikan anak lebih tahu batasan dan belajar untuk tidak melewati batasan tersebut.

3. Notifikasi yang memaksa tanpa sadar

Notifikasi tanpa sadar dihasilakan oleh timer ini hasilnya ajaib. Meski awalnya perlu penyesuaian, namun rasnaya bunyi timer lebih halus untuk meminta anak menyudahi daripada bunyi suara saya sendiri. it really works for me.

4. Lebih menghargai waktu

Only fifteen minutes yang saya gaungkan setiap hari sampai lebih dari 2 tahun ini menciptakan mindset baru buat anak. Jadi menurut dia, melakukan apa-apa itu ada batasnya. Semoga ini jadi jalan buat dia lebih menghargai waktu agar lebih mudah mempraktikkannya.

5. Independen

Diharapkan dengan mengenal timer dan batasan, menjadi bekal buat anak independen dalam melakukan pekerjaan dan disiplin (tidak molor-molor) dalam melakukan suatu hal.

Kesimpulan

Tips membatasi penggunaan gadget pada anak tentu ada banyak macamnya. Metode setting timer ini adalah salah satu cara yang saya terapkan dan alhamdulillah berjalan sangat optimal sampai sejauh ini. Apakah Nahla pernah minta tambahan waktu? Pernah. Nambah 5 menit, jadi 20 menit. Tapi setelah itu tetap kembali ke awal, 15 menit. Karena itu tadi, sudah jadi kebiasaan buat dia.

Teman-teman biasanya pakai metode apa nih untuk membatasi penggunaan gawai pada ank?

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

34 Replies to “Batasi Penggunaan Gadget Pada Anak Dengan Sistem Timer”

  1. Sangat membantu sekali mbak infonya. Sempet liat temen ku yg ngasih timer bermain ke anak nya dan aku baru tau seberapa pentingnya hal itu. Next bisa diterapkan ke anak ku juga nih walaupun usianya masih toodler.

    1. Hai, Mbak Alvi. Terimakasih sudah berkunjung. Saya masih mencari penelitian sebenarnya, kalau untuk belajar memang oke banget nasilnya, tapi pengaruh suara pada ank ini menarik sekali, kadang terlihat seperti robot jadinya.

      semoga berhasil menerapkannya yaa. Mesti hasilnya memang nggak instan sih, butuh ketekunan, konsisten dan tegas.

  2. Woooh, keren banget mbak Ghina anaknya. Bisa patuh banget gitu yaa. Timernya udah bunyi, langsung gercep balikin hape ke mamah.
    Tips yg sangat bermanfaat dan nanti akan aku coba kalo udah nikah n punya anak heheheee

    1. Halo Dodo. Ini juga trial and error kok. Tentu hasilnya ngga selalu sempurna dan butuh ketekunan. Semoga bertemu dengan calon ibunya anak-anak yaa, biar segera dipraktikkan nanti, huihi

  3. Sepakat mbak. Saya juga pernah menerapkan hal yang sama ke Fabio, menggunakan timer yang sama-sama disepakati bertiga (saya, mamanya & bio). Cuman sepertinya waktunya kelamaan, kalau dibandingin sama angka yang disebut Mbak Ghina. Saya waktu itu set-nya 45 menit.

    Alhamdulillah, dari awal sih nggak ada penolakan. Mungkin karena udah sepakat dan clear di awal kali ya.

    Along the way, persyaratannya kita naikkin. Ada aktivitas yang harus diselesaikan dulu sebelum boleh pegang gawai, seperti selesai makan dll.

    Same thing kami terapkan juga untuk nonton TV. Cuma nggak pakai timer, hanya mulai jam sekian s.d jam sekian. Dan di waktu itu, ibaratnya, itu me time-nya Bio. Jadi ortunya juga nggak boleh “ganggu”.

    Oya, last but not least, saya setuju bahwa sekalipun sudah di-timer, pengawasan tetap perlu kita lakukan. Selain memastikan si anak nggak buka yang harusnya dia ga buka, juga as we know, sekarang ini iklan betebaran di mana-mana. Dah gitu, kontennya ga semua ramah anak pula. Jadi, nggak bisa cul glodhak gitu aja.

    1. Fabio sudah berusia berapa tahun Mas Prima?

      Semakin besar bisa jadi nanti anak akan minta tambahan waktu juga memang yaa? belakangan ini kadang juga uncontrol sih, kadang 20 menit juga.

      Kurang lebih konsepnya hampir sama mas. Awalnya dulu saya tetapkan jam nontonnya tiap jam 11 siang, habis itu biar bobo siang. lalu semakin ke sini dia nawar untuk dimajukan waktunya, jam 9, atau 10 tapi waktunya tetap 15 menit kok.gitu katanya

      di rumah saya nggak punya tv sih mas, tapi bebrapa pas pulang kampung liat tv, kerasa sih efeknya kurang baik, karena kebetulan orang di rumah suka nontonnya sinetron, jadi udah malas duluan..

      Terimakasih untuk sharing ceritanya, Mas Prima..

  4. Kebetulan materi skripsi saya juga hampir mirip dengan ini. Bedanya hanya di umur (objek penelitian saya remaja SMA). Tapi seperti yang sudah disebutkan di atas ada beberapa cara yang mirip dan cenderung efisien seperti mengajarkan tanggung jawab dan ke aktifitas lain yang lebih mengembangkan motorik.

    Tetap semangat mengawasi sang anak ya mba.

  5. Wah, ini salah satu masukan bagus nih. Bisa kami coba untuk terapkan pada pembatasan oemakaian gadget krucil kami. Terima kasih, sharingnya mba..

  6. Wah samaan kita mbak aku pun sekarang menerapkan timer juga. Awalnya si bocah masih nawar2 tapi alhamdhulilah sekarang mulai paham konsepnya. Alarm bunyi berarti selesai nonton

  7. MasyaAllah teh gina keren, akupun alhamdulillah punya anak yang turn in sama gadget. Kami kenalkan di usianya sekitar 4 tahun itu pun dijatah 1 video atau main whatsapp selama 10 menit. karena dia udah bisa ngetik dan suka liat mamahnya whatsappan, semangat membersamai ananda di rumah teh, yg penting kita tidak dikendalikan teknologi tapi bisa mengendalikannya.

    1. Teh Inaaaaa, nuhun. Sakha udah dikasih jatah main wasap untuk kirim wasap gitu yaa? menarik juga, Nahla masih baru tertarik aja buat ketik-ketik huruf aja sih, menarik juga ini, bisa dicoba untuk mengajarkan mengetik gitu yaa. hihi

      iya teh, kita mampu juga untuk berkompetisi dengan diri sendiri yaa, jangan sampai kita kalah sama teknologi

  8. Makasih mba, jadi reminder aku untuk pasang timer kalau anak nonton. Dulu pernah aku timer pakai timer TV, sekarang kayanya harus dipakai lagi

  9. Kami juga cocok dengan metode timer ini.
    Tapi bedanya gak di set di gadgetnya, melainkan di jam yang ada di kamar, agar sekalian anak mengerti membaca jam. Hihii…anakku sudah masuk usia sekolah, soalnya.

    Jadi ya kudu pakai gadget, hanya dibatasi.

  10. Artikel ini berguna banget nih Mbak. Bisa aku tiru untuk cara timer ini untuk membatasi anak menggunakan gawai. Anak-anak sering ngeles kalau dibilangi untuk berhenti main gawai. Semoga dengan cara ini anak lebih displin dalam penggunaan gawai.

  11. wah thanks sharingnya mbak, berguna banget nih, pengen diterapin yg pake alarm deh hehe biar anak bisa tanggung jawab.. kadang kalau keasyikan juga suka ingkar janji hihii, padahal suka udh bikin kesepakatan di awal hmm

  12. Ya ampun serem juga yaaa.
    Aku jg pernah tau lhoo ada anak yg kek gini bangett sama gadget. Sampee nangis gulung2 di rumah orang cobaaa. Hiks

  13. Di rumah saya, paket data inet hanya ada di hp saya. Jadi kalau timer sudah bunyi, thetering langsung dimatikan. Awalnya anak saya juga marah2, tapi lama2 terbiasa

  14. Sama nih Aurora juga pakai sistem timer. AKu lupa sejak kapan. Dulu tuh dia nonton sambil makan, karena lama makannya (susah kunyah), aku minta dia makan dulu baru nonton 30 menit. Sekarang nonton dikurangi jadi 10-15 menit tiap abis makan.

  15. Sama mbaak , aku juga pake timer. Soalnya anak2 klo gak dibatasi bablas udah. Lagian itu bisa melatih kedisiplinan yak. Tapi giliran emaknya nih yg gak bisa disiplin. Hihi

  16. salut Mbak, bisa terapin timer gini, anaknya pun juga dengan suka rela ya terima aturan time ini.
    saya masih susah nih bujukin anak-anak buat patuh aturan, huhuhuh yang ada malah mamak jadi konser klo mereka gak bisa diaatur, huhuhuh *poor me 🙁

  17. Keponakanku kebetulan kecanduan gadget nih mbak Ghina, kalau diambil sering marah2 gtu. Coba ah nanti aku share ini ke kakak ifar biar makin sesuai timingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!