Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Separuh Perjalanan 2020

2 min read

separuh 2020

Juni telah lewat, berarti harusnya aku dan keluargaku sudah tak di sini lagi, suami sudah selesai penelitiannya di sini, sudah hengkang ke Belanda lagi, Nahla sudah sekolah lagi di sana. Ah, tapi keinginan memang kadang tak selalu sesuai dengan keadaan.

Ghina, ngeluh pagi-pagi

Hai, bloger.
Bagaimana separuh perjalananmu di tahun 2020 ini?

Masuknya corona yang merebak dengan kecepatan bagai meteor tak terbendung kian kemari. Pasti bukan sekadar saya saja yang merasa rencana-rencananya tertunda. Kamu juga kan?

Separuh 2020 : Perjalanan yang tertunda, kehilangan, dan sakit

Ketika februari sudah selesai, kala itu bertepatan dengan usainya Haul Guru Sekumpul di Martapura ini, kami sudah mempersiapkan dokumen untuk terbang lagi ke Belanda.

Suami saat itu masih wara -wiri mencari data, wawancara dengan narasumber, dan laporan dengan profesornya. Saya sedang menemukan hobi baru untuk menseriusi blog dan hal hang berbau html gitu yang males banget disentuh karena emang ga paham-paham.

Tiba-tiba kabar corona masuk ke Indonesia. Provinsi-provinsi di luar Jawa saat itu masih aman. Namun persebarannya tak terbendung. Kalsel pun menjadi urutan terakhir di pulau Kalimantan yg kedapatan pasien covid. Eh, malah sekarang terbanyak se-kalimantan.

Kesal, kesuh, sebal, terbungkus dalam emosi yang tak terbendung kala itu. Tapi, bagaimana lagi, kita harus merubah haluan dan hidup tetap harus dijalani dengan penuh ikhlas dan tawakkal.

Baca juga : Tips Menjadi Pribadi yang Ikhlas

Tinggal di luar pulau Jawa ini merupakan kali pertama. Memang kami tinggal masih di satu negara, tapi beda pulau tentu saja butuh dana dan persiapan lebih untuk bepergian. Jadi, ditengah pandemi gini lalu sering ditanya ‘Kapan Pulang’ itu ngeselin banget.

Tak lama berselang, kabar buruk tentang mertua kian mengkhawatirkan. Beliau pun masuk rumah sakit. Suami sibuk urus BPJS untuk operasi beliau. Tapi takdir berkata lain, usai operasi malah keesokannya beliaupun meninggalkan kami semua. Tepat sehari sebelum ulang tahunnya suami.

Kami pun nggak bisa pulang karena pesawat sedang dihentikan dulu sementara. Setelah kabar itu, rumah ini rasanya sepi sekali. Hanya kami ramaikan saat terawih dan tahlilan. Suami sedang berkabung, saya dan Nahla pun tak ingin mengganggu ‘rasa kehilangan’ tersebut.

Ramadhan pun datang, pilihan untuk tetap di rumah saja pun kami lakukan. Saat lebaran menjelang, kami memilih untuk merayakannya di rumah aja. Solat Ied ke musola dan berkunjung pun tak kami lakukan, semua kami lakukan di rumah. Corona benar-benar terus membuka ingatan manusia tentang kebersihan, kepedulian dan makna hidup yang tak lagi sama.

Tiga bulan pun berlalu. Anjuran untuk #dirumahaja pun kami patuhi. Tapi kemudian ini malah berganti menjadi ‘new normal’. Demi kegiatan ekonomi terus berjalan sih, kurva pasien mah terus naik. Eh, tapi beneran ini orang-orang malah ngiranya kayak virus ini udah nggak ada. Udah berkeliaran bebas aja, protokol pun hanya sedikit yang make.

Keselnya, anak-anak udah mulai dibolehkan lagi berkeliaran oleh orangtuanya. Jadilah emosi saya tiap sore meningkat. Nahla tiap sore selalu mewek pengen main dengan temannya, tapi saya larang.

Juni datang dan tetiba kabar sedih datang dari pesan mimih. Abah masuk rumah sakit, ternyata beliau mengidap stroke ringan. Alhamdulillah kini berangsur baik meski tka lagi bosa berkegiatan seperti biasa. Mental Abah pasti terguncang sekali, karena Abah tipe orang yang nggak bisa diam aja. Selalu ada kegiatan, tapi kini beliau harus menerima keadaannya.

Setengah perjalanan di tahun 2020 penuh dengan lika-liku yang menggetarkan untuk diingat. Meski, tak dipungkiri tentu ada banyak hikmah-hikmah yang muncul dari setiap kejadian-kejadian dalam hidup ini.

Semoga kami senantiasa berkesadaran penuh, dimampukan, dan diberikan kekuatan untuk menjalani hidup seperti sekarang ini.

tulisan ini ditulis pagi saat mendengar takbir Sholat Ied el Adha bergema dari Mushola sebelah rumah

Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd

Martapura, 31 Juli 2020 M/ 10 Dzulhijjah 1441 H.

*Artikel ini diikutsertakan dalam Minggu tema ‘IKHLAS’ Indonesian Content Creator.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Puasa Ramadan 2021

Ghina
2 min read

Kaleidoskop 2020

Ghina
2 min read

Kembali Tinggal di Jogja

Ghina
2 min read

36 Replies to “Separuh Perjalanan 2020”

  1. Pertama, turut berbelasungkawa ya mbak Ghina atas berpulangnya mertua tersayang.

    Soal pandemi, saya sih memutuskan untuk #terserahsaja.. hahaha.. bukan pasrah, tetapi saya pikir membuang energi memperhatikan orang lain.

    Saya lebih pilih fokus menjaga keluarga tersayang saja. Di Bogor pun gitu kok mbak, serasa nggak ada pandemi padahal ribuan orang sudah jadi korban.

    Tapi saya sudah nggak peduli sama perilaku mereka. Yang terpenting bagi saya adalah menjaga orang ornag tersayang jangan sampai mereka terkena virus

    #staysafe ya mbak..

    1. Maturnuwun Mas Anton..

      Iyaa, untuk saat ink yang bisa kita lakukan untuk menjaga keberlangsungan kita adalah diri kota masing-masing. Semoga tetap dimampukan utk menjalani ini dengan tawakkal dan kuat

  2. Rest in peace untuk mertua, mba Ghina ๐Ÿคง

    Corona ini memang sedikit banyak mengubah jalan cerita hidup kita. Seriously nggak pernah kebayang akan stuck di rumah dalam kurun waktu lama. Meski saya sempat PP Korea Indonesia. Tapi rasanya beda ๐Ÿ˜“ banyak rencana yang harus batal karena Corona. However, nowadays saya berusaha untuk lebih menerima, dan menjalani hari-hari sebaik yang saya bisa. Sambil membuat rencana versi new normal ๐Ÿ˜ hehehe.

    Eniho, nggak sangka yah sudah bulan Agustus, waktu berlari cepat, namun kita masih tetap dalam kondisi yang sama. Semoga Corona cepat hilang dan kita bisa beraktivitas seperti sedia kala tanpa harus kawatir tertular. Dan semoga tahun 2020 bisa ditutup dengan senyuman. Cheer up, mba! ๐Ÿ˜๐Ÿ’•

    1. maturnuwun Kak Eno…

      Benar, banyak orang yang memiliki rencana di tahun ini lalu kemudian tak terlaksana, semoga selalu diberikan kemampuan untuk menjalani dan tetap bertahan dengan berbagai plan yang sudah disiapkan.

      Agak ngeri ini utk perjalanan jarak jauh ya kak. Semoga tetap dijaga dan sehat selalu. life must go on..

      Keep spreading a kindness kak

  3. Sudah setengah jalan, semoga sisa bulan-bulan mendatang di tahun ini bisa diisi banyak hal-hal menyenangkan.

    Turut berduka ya, Mba.

    1. Aaamiin. semoga apapun perjalanannya nanti, hati tetap dimampukan untuk senantiasa senang menghadapi setiap likunya. Hati yang gembira adalah obat katanya. Maturnuwun, Mas.

  4. Innalillahi wainna illaihi rojiun,sabar untuk kak Ghina sekeluarga ya..
    Nggak terasa ya udah setengah tahun berlalu.
    Tetep bersyukur dan ambil hikmahnya aja sih kalo aku.
    Semoga kita selalu sehat dan selalu dalam lindunganNya, aamiin..

    1. maturnuwun Mbak Ki.. Iya semoga tetap diberikan kemampuan dan kesyukuran dalam menjalani semua ini. Mbak Ki sekeluarga juga semoga sehat dan selalu dalam lindunganNya. Aamiin

  5. Turut berduka mbaa. Mudah-mudahan mendapat tempat terbaik di sisiNya. Tahun ini banyak duka yang bertebaran. Ya Allaah mudah2an kita semua selalu dikasih kesabaran.

    1. Aamiiin..

      Iya Mbak Put. Bener -bener kerasa bgt pepatah ‘ kita berrencana, Tuhan yg berkehendak’.

      Meski begitu tetap kita perlu tawakkal dan ikhlas yaaa. Berat memang. Huhu

  6. Separuh tahun ini banyak banget yang harus aku kejar targetan tahunan. Qadarullah, masih ada corona. Semoga bisa segera berakhir

    1. aamiin. Semoga dimudahkan ya Mbak Alif. perlu selalu ada plan lain emang katanya, karena seringkali yg kita harapkan nggak selalu seperti kenyataannya

  7. dear teh ghina,
    peluk virtual dulu aku padamu, puk puk
    Turut beruka cita sedalam โ€“ dalamnya ya kak.

    corona ini memang ujian untuk kita semua ya. gak pandang bulu. semoga segera berakhir pandemi ini.

    tapi diatas semuanya, yang paling utama adalah semoga teteh dna kita semua tetap sehat, fisik dan mental. makasih udah berbagi cerita ini yang mengingatkan saya kembali, โ€ bukan aku aja yang menderitaโ€

    with love from Bandung ^_^

    1. Haturnuhun teh Eka.. Bermakna sekali support seperti ini yaa

      Iya, memang pandemi ini membawa bnyk dampak buruk. semoga kita tetap dikuatkan dan ikhlas menjalani semuanyaa. Aamiin

      Send hug from Martapura. Haha

  8. Semoga Abah lekas pulih, ya, Mbak.

    Kalau soal kenormalan baru, aku sendiri masih terus belajar. Alhamdulillahnya kami baru pindahan juga, jadi anak-anak belum banyak punya kenalan di sini, makanya jadi enggak terlalu nagih main di luar.

    1. Aamiin. Alhamdulillah sekarang sudah bisa makan sendiri nih mbak. Yg harus tetap dijaga nih mentalnya, apalagi karena pandemi jd ga boleh keluar jauh, pdhl orangnya nggak bisa diem

      Eh, baru pindahan yaa.semoga betah di tempat baru mbak.. Seneng yaaa masih bisa keep anak2 biar ga ke luar. Meski kadang saya sedih jg sih karena kasihan jg sih kalo d rumah aja

  9. Aku baca ini jadi ikut sedih, apalagi di part terakhir. Sebetulnya untuk lebaran Idul Adha kemarin di malam takbiran sempat buat tulisan siap posting tp gak jadi karena ternyata itu murni hanya curhatan yg sedih karena harus lebaran sendiri jauh dari keluarga.

    Untuk alm. mertua mba Ghina, semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah ya, mba๐Ÿ˜ข.

    Sejujurnya belum banyak dan bahkan sedikit sekali yg udah aku lakuin di separuh 2020 ini. Banyaknya stress ngejar target yg semoga bisa selesai tahun ini juga, do’akan ya mba๐Ÿ˜ญ. Selain stress, sampai bulan Juli kemarin waktuku banyak dihabiskan buat bersabar liat pasien positif covid di Indonesia yg udah sampai 100rb lebih sementara masyarakatnya masih santuy aja, dan pemerintahnya yg kewalahan sendiri karena new normal ini justru membangun stigma baru bahwa covid-19 sudah nggak ada. Padahal gak mungkin udah gak ada kalau buktinya Indonesia aja masih di-blacklist sama beberapa negara yg gak memperbolehkan adanya penerbangan dari Indonesia masuk ke negara mereka. Sekarang aku milih buat fokus sama diri sendiri aja dan berdo’a untuk kesehatan dan keselamatan keluarga. Semoga semuanya benar-benar akan kembali indah pada akhirnya ya, mba, Aamiin.๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜‡

    1. Semangat Awl. semoga dimudahkan selalu ya urusannya. Kalau lelah berhenti dulu sbentar gapapa kok, kumpulkan energi sebanyak dan sepuasnya. Habis itu kejar dan lari lebih kencang.Yuhuuu

      Eh, aku juga seringnya gitu lho, udah nulis panjang-panjang kalau meratapi diri terus dibaca ulang dan malu sendiri karena isinya full keluhan dan sambatan. Nggak diposting juga ga masalah bagiku, atau ku posting tapi ku pirvate postingannya, jd yg baca cuma aku sendiri, hihi. Senggaknya abis itu hati udah lumayan lega kan.

  10. Luar biasa ya mba ghina. Di separuh 2020 ini banyak sekali kejutan. Aku pun sama. Semoga kita semua selalu di berikan kekuatan untuk menjalani hari-hari kita dengan penuh semangat.

  11. Aku mau ikut komen lagi ya mba Ghin, hehe..
    Kata orang time will heal everything, jadi memang ngga ada lagi yang bisa kita lakukan sebagai manusia selain ikhlas yaa. MasyaAllah aku baca ulang tulisan ini dalam kondisi suami sedang sakit dan berharap semua baik-baik saja. Sehat-sehat ya mba Ghina sekeluarga

  12. Bapak saya pun seminggu yang lalu begitu teh. Alhamdulillah sekarang kondisinya berangsur membaik. Hiks hiks. Oh ya turut berduka cita ya mbak. Semoga ibuk mertua teh Gina keterima semua amal baiknya. Peluk virtual teh๐Ÿค—

  13. Turut berbela sungkawa ya mba Ghina…dan semoga Abah diberikan kesembuhan. Ah. emang ya masa pandemi ini kita cuman bisa ikhlas dan pasrah. Nggak tau apa yang bakalan terjadi. Tetap semangat mba ๐Ÿ™‚

  14. Aamiin, terima kasih atas doanya, Mbak (maaf agak bingung nge-reply reply-nya). Jadi malu juga udah berkeluh kesah, sementara Mbak dan keluarga menghadapi banyak hal dalam waktu sesingkat ini. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk Mbak Ghina sekeluarga, ya. Semoga mertua Allahu Yarham diberi kelapangan dalam kubur beliau. Dan Abah bisa pulih kembali, jadi ingat papa saya yang juga dulu beberapa kali terkena serangan stroke.

  15. Mbak Ghina yang sabar ya. Turut berduka atas kepergian mertua. Semoga Abahnya bisa lebih pulih kondisi beliau aamiin. Subhanallah, memang kerasa banget di Kalsel ini ya Allah tinggi banget kasusnya.

    Stay safe Mbak Ghina dan keluarga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!