Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Melek Politik bagi Perempuan

4 min read

kenapa wanita malas melek politik? Kalo perlu melek, memang apa dampaknya buat perempuan?

Ketika seorang blogger perempuan bertanya : Perlu nggak sih kita melek politik sebagai perempuan? Semua anggota bilang, tentu saja perlu. Hampir semua yang berkomentar menjawab perlu. Eits, tapi penasaran nggak sih, kenapa kita perlu melek politik? dan melek politik bagi perempuan itu seperti apa sih?

melek politik bagi perempuan itu seperti apa sih?

Tapi, faktanya banyak perempuan yang malas melek politik. Riset Women’s Studies International Forum pun menunjukkan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Indonesia didominasi oleh politikus laki-laki yang mayoritas berasal dari pulau Jawa.

Saya sendiri bukan orang yang melek banget tentang urusan politik. Kita semua paham bahwa politik itu banyak main kotornya. Meski, tentu nggak semuanya begitu. Namun, di sisi lain saya juga sadar bahwa Perempuan juga menjadi bagian penting dalam perkembangan perpolitikan Indonesia. 

Di satu perkuliahan wajib sebagai anak hukum, saya disadarkan bahwa politik dan hukum itu adalah dua sisi yang tidak terpisahkan. Penjelasan tersebut ada dalam bukunya Mahfud MD yang berjudul Politik Hukum di Indonesia. 

Dari membaca buku beliau, saya sadar bahwa maksud dari Mahfud MD menyandingkan keduanya adalah karena ius constituendum itu tidak selalu berjalan lurus sebagaimana ius constitutum mengarahkan.

Mengutip dari penjelasan beliau, Politik hukum itu sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai kebijakan negara tentang hukum yang akan diberlakukan atau tidak akan diberlakukan di dalam negara yang bentuknya dapat berupa pembentukan hukum-hukum baru atau pencabutan dan penggantian hukum-hukum lama untuk disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Jadi apa kebutuhan masyarakat dalam politik dan hukum? KEADILAN, salah satunya.

Keadilan menjadi jembatan bagi laki-laki dan perempuan untuk memiliki hak yang sama sebagai warga negara. Keadilan pula yang seharusnya mampu menjadikan kesadaran kemanusiaan kita selangkah lebih maju dalam menghadapi setiap persoalan.

Untuk mau melek politik, kita seenggaknya mulai peduli sama masalah di nasional di negara kita atau seenggaknya yang ada di sekitar kita. Namun ternyata memang hal-hal berbau politik itu seringnya membuat kita enggak duluan sebelum menyentuhnya.

Alasan perempuan malas melek politik

1. Paradigma Patriarki

Patriarki sudah melekat sekali dalam pola pikir masyarakat. Dengan ajaran bahwa laki-laki lebih pantas berkuasa dan menjadi penguasa tunggal, menjadikan perempuan terpinggirkan. Tidak hanya di Indonesia lho ternyata, tapi hampir seluruh dunia mempraktikkan patriarki ini. 

Eh, jangan-jangan, pola pikir kita pun masih hasil produksi patriarki nih secara tidak sadar. Nah lho?!

Ya sudah, kalau males melek politik ya jadi ‘perempuan baik-baik aja’ yang ngikutin apa kata orang aja, biar nggak ada yang nyinyir. Perempuan yang baik itu kan katanya ya harus manut-manut aja, urusannya cuma sekitar dapur, kasur, sumur aja, jadi nggak usah neko-neko. Ya toh?

2. Gemar belajar dan membaca itu berat

Pendidikan akan menjadi jalan pintas untuk menaikkan kedudukan manusia. Selain itu, pendidikan juga seharusnya menjadi pembeda seseorang saat mengambil keputusan.

Baca juga : Perempuan sunda membaca Hati Suhita

Saat ini, perempuan mengenyam pendidikan itu sudah lumayan banyak. Namun, seringkali tidak dibarengi dengan gembar belajar dan literasi baca yang baik. Hal tersebut yang menjadi penyebab penyebaran hoax yang meningkat.

Padahal dambaan menjadi aktif dalam politik seperti Jacinda Arden ataupun Ibu Sri Mulyani bisa dimulai dengan gerakan positif kita sebagai perempuan. Seperti melek literasi, gemar belajar dari berbagai sumber, ataupun kritis menyikapi suatu hal dengan tidak menerimanya secara mentah-mentah.

Sayangnya, belajar itu memang berat. biasanya perempuan itu kalau sudah lelah belajar kok ingatnya pengen nikah aja gitu. Diajak mikir rumus sama istilah-istilah itu berat katanya. Nanti kalau nikah kan urusannya ya itu tadi cuma antara kasur, dapur, dan sumur tok. Gampang. (GAMPAAAANG?)

Apa ya iyaa? coba-coba yang udah nikah, sebutkan masalah pernikahan seabrek yang kalian alami? berat mana sama belajar di bangku sekolah?

3. Mending nonton sinetron daripada nonton berita

Lah iya, kan malas banget nonton berita, apalagi kalau lagi ngomongin politik. Kepala bisa pecah karena semrawutnya politik kita, apalagi kasus korupsi, nggak kelar-kelar. Mending ya nonton sinetron, bisa ketawa ngakak, ceritanya bagus romantis gitu, bisa jadi bahan obrolan asyik pula sama ibu-ibu komplek.

Beli gula harganya mahal banget, ngeluh. Bawang kualitasnya nggak bagus, kesal. Tahu nggak, itu kenapa terjadi begitu? politik lho.

4. Mending milih caleg laki-laki, apalagi kalau ganteng

Ada yang alasannya begini? banyaaaak ternyata. haha. Kemarin, pilkades di desa sebelah penyebabnya ya begini ini. Ya ampun the power of emak-emak sih iya, tapi kok gitu.

Eh, Iya nggak apa-apa ganteng, kalau bisa mewakili aspirasi rakyat dengan adil. Tapi itu nggak bisa dilihat hanya karena gantengnya lho. Isinya juga perlu dilihat. Jangan-jangan nanti dia milih semua anggotanya laki-laki, terus nggak ada yang mewakili aspirasi perempuan, piye?

Apa ada yang menampik dari alasan-alasan tersebut? hihi.

Nah, biar lebih makjleb dan mau melek politik, saya mau menguraikan satu hal penting yang saya dapatkan dari guru saya nih, yaitu konsep Keadilan.

Pentingnya Melek Politik bagi Keadilan Perempuan

pentingnyaa melek politik bagi keadilan perempuan

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, keadilan adalah salah satu kebutuhan masyarakat. Namun seringkali, keadilan itu sendiri bias. Bias gender, bias umur, atau bahkan bias status.

Sebagai perempuan, saya menyadari bahwa patriarki sangat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan. Segala keputusan hampir bias patriarki, karena bahkan pengambil keputusannya pun masih sedikit yang perempuan. Serta, sedikit yang punya konsen pada masalah perempuan.

Berbicara tentang keadilan, mengingatkan saya pada bekal keilmuan yang saya dapati belakangan ini. Tentang relasi kesalingan antara laki-laki dan perempuan dan keadilan hakiki dari dua guru yang ahli di bidangnya masing-masing. Keduanya menjadi landasan betapa pentingnya kita melek pada politik.

pertama, Mubadalah. Mubadalah sebagai konsep yang diusung oleh Kyai Faqih mengajarkan relasi kesalingan antara laki-laki dan perempuan. Paradigma  patriarki yang biasanya mendiskreditkan perempuan untuk melakukan suatu hal mencoba dihapuskan melalui mubadalah ini.

Bahwa sesungguhnya, satu hal tidak hanya berlaku untuk perempuan, namun juga laki-laki. Contoh sederhananya, perempuan harus menutup auratnya, laki-laki jug tentu harus menutup auratnya donk. dll.

Pemahaman ini sedikit banyak juga mempengaruhi tindakan saya sebagai perempuan. Ketika apa-apa, biasanya minta tolong suami, maka seharusnya saya juga bisa melakukannya. Kan, mubadalah. 

Baca juga : Qiro’ah Mubadalah : Relasi resiprokal antar manusia

Nah, selanjutnya saya menyempatkan diri ikut kelas Ngaji Keadilan Gender Islam (Ngaji KGI)  secara daring dengan Bu Nyai Nur Rofi’ah. Salah satu pakar gender islam di Indonesia.

Menurut Ibu Nur, belajar mubadalah saja tidak cukup. Perempuan harus menganalisa pengalaman khusus perempuan itu sendiri.

Pengalaman khusus perempuan ini menjadi landasan berpikir serta semangat tersendiri untuk perempuan memperjuangkan hak-haknya, keadilan hakiki perempuan, serta kedirian perempuan sebagai manusia itu sendiri.

Pengalaman khusus perempuan terdiri dari pengalaman sosial dan pengalaman biologis. Sistem sosial yang muncul menjadikan perempuan mengalami pengalaman sosial seperti stigmatisasi, marjinalisasi (peminggiran), subordinasi (dipandang rendah), kekerasan, dan beban ganda.

Sementara pengalaman biologis perempuan antara lain menstruasi, hamil, melahirkan, nifas dan menyusui. Seringkali pengalaman biologis perempuan ini menjadi penghalang perempuan untuk berdikari di masyarakat.

Seringkali, pengalaman perempuan menjadi bahan pelemahan bagi perempuan sendiri. Mereka tidak serta merta mengiyakan hanya karena perempuan lebih labil, tidak fokus karena terlalu multitasking, atau bahkan menjadi susah mobile karena pengalaman biologis perempuan dianggap menghalangi keleluasan bertindak.

Padahal pengalaman-pengalaman tersebut adalah nyata dan tentu perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Sehingga, pengalaman tersebut menjadi narasi norma dan hukum agar perempuan dapat melakukan peran ini dengan perlindungan penuh secara spiritual, material, dan sosial.

Sesungguhnya standar keadilan gender bagi laki-laki dan perempuan itu sama. Hanya pengalamannya saja yang berbeda. Menyikapi hal tersebut, Bu Nur bilang, seharusnya kita perlu menundukkan keduanya sebagai subjek penuh dengan kerangka berpikir berdasarkan analisis kemanusiaan dan gender. 

Dengan adanya hal tersebut, titik terakhirnya adalah Tuhan. Dalam relasi antara sesama makhluk, baik laki-laki ataupun perempuan posisinya adalah sama. Kedirian manusia sama menjadi hamba yang taat kepada Tuhan. Kemampuan Intelektualitas (melek politik salah satunya) dan kemampuan fisik berguna untuk membangun kemasalahatan bagi sesama, dan kesyukuran pada Tuhan atas apa yang telah diberikanNya kepada kita.


Nah, begitu kira-kira. Kalau agak berat tulisannya, bisa dibaca ulang dan baca perlahan ya. Tema hari kedua ODOP ISB nih lumayan menantang emang. Simak terus di tulisan ODOP berikutnya ya.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

4 Replies to “Melek Politik bagi Perempuan”

  1. Kak Ghina, aku merasa terpanggil saat dibilang milih caleg yang ganteng aja 🤣
    Astaga, ini tuh aku banget. Setidaknya kalau nggak ada yang ganteng, ya yang mukanya paling meyakinkan aja deh. My bad 😓
    Saat pilkada kemarin, aku ngerasa banget kalau selama ini aku kurang melek politik, caleg-caleg yang ada, satu pun nggak ada yang aku tahu, bahkan visi-misinya belum pernah aku dengar dan salahku tidak mencari tahu 😓
    Saat baca tulisan ini, aku merasa ditoyor deh. Hahaha. Yaampun, aku ingin taubat dan pemilihan caleg berikutnya, aku ingin memilih dengan benar, bukan dari muka aja 😂 semoga bisa terwujud.

    1. Haha, Liaaaa. Masih mending sih udah milih, aku kayaknya baru sekali doank ini ikutan pemilu, pas pilkada, itu pun pilihannya udah ditentukan sama ayah aku. wkwk. Paling yg aku pilih ganteng tu dulu pas pemilihan ketua dema gitu, hihi

      Tapi aku udah kasih penjelasan kok, kalo ganteng terus support women mah gapapa kok. Siapa tau yang lia pilih itu udah ganteng, ide2nya menyuarakan kepentingan perempuan kaan. Aamiin

    2. Wahahaha, mbak Lia milih caleg dari fotonya yang ganteng aja.. Tapi, ini berlaku juga sebaliknya. Caleg cantik2 juga dipilih, menjual. Untuk anggota DPD asal Provinsiku, semuanya perempuan yg terpilih loh. Ga ada laki laki yg menang. “sialnya” lagi, keempat perempuan itu adalah masih muda-muda dan good looking alias cantik. Usianya jg tidak berbeda jauh dariku. Ada yg seumuran sama aku, ada yg dua tahun sampe lima tahun di atasku.

      Dan juga, masih berbicara soal Caleg cantik. Aku pernah lihat beritanya, di Nusa Tenggara kalo ga salah. Ada caleg yg digugat krn fotonya cantik banget, beda sama keadaan asli nya. (Koq aneh banget gugatannya, hahaha)

      1. wkwk, iya juga yaaa. Memang lebih menyukai lawan jenis yang rupawan itu sudah kodratnya yaa, Do. Ayo, mas dodo juga ikutan tampil, tunjukkan wajah dan bakat baikmu yang terpendam, nanti saya mau nyelipin aspirasi perempuan juga. Biar nggak cuma tampan, tapi juga hatinya baik, hihi

        Eh, apa iyaa ya. Wah, warna kulit tangan dan muka aja emang sekarang ini udah biasa gitu yaa beda. Mungkin untuk jadi caleg juga perlu foto no make up yaa, biar lebih real dan jujur. Lalu apa gugatannya diterima nih? jadi penasaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!