Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Mengisi Rumah Kosong dengan Konsep Minim Sampah

2 min read

mengisi rumah dengan konsep zero waste sebagai bagian dari berpikir kritis terhadap alam

September ini, saya dibuat sibuk oleh urusan pindah dan mengisi rumah kosong. Semenjak menyelami hal-hal terkait hidup minim sampah/zero waste, hidup berkelanjutan dan gaya hidup minimalis, mengisi rumah kosong tidak semudah biasanya. Banyak yang perlu dipikirkan.

mengisi rumah dengan konsep zero waste sebagai bagian dari berpikir kritis terhadap alam

‘ Kalo bisa, nggak banyak barang-barang plastik nih! Sustainable nggak nih? Kira-kira nanti masih layak dilungsurkan nggak? Nyari yang bisa dijual lagi? Beli ini itu sebenarnya perlu nggak?’

Baca juga : Lifehack untuk hidup merantau

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menghantui saya. Merinci listing belanjaan dengan mempertimbangkan pertanyaan di atas membuat saya sadar, ternyata pola pikir saya sedikit berubah. Entah kenapa, menyempil rasa bersalah sendiri jika tidak memenuhi kriteria lingkungan. Padahal dalam urusan membeli pernak pernik rumah biasanya saya suka kebablasan. 

Mengisi rumah kosong ini adalah momentum penting. Menurut saya, Isi rumah akan mencerminkan gaya hidup pemiliknya. Memulai mengisi dengan berbagai barang yang biasa tentu saja mudah, selagi ada budget dan sesuai kebutuhan.

Nah pertanyaannya, apa iya semuanya sesuai kebutuhan?   

Saya ingin mengisi rumah ini tak hanya sekadar terisi. Tapi juga sesuai kebutuhan keluarga dan bernilai tentunya. Setidaknya memiliki nilai yang berdampak pada lingkungan.

Konsep Zero Waste dalam Mengisi Rumah Kosong

Saya ingin memiliki rumah yang ramah lingkungan. Tentu isian yang ada di dalamnya perlu terdiri dari barang-barang yang ramah pada lingkungan. Setidaknya, saya perlu menekankan bahwa ‘cukup beli yang benar-benar esensial saja’ itu penting.

Esensial bagi masing-masing orang tentu berbeda-beda. Bisa jadi esensial menurut saya, namun tidak esensial menurut kamu. Namun, tentu pertimbangan-pertimbangan lingkungan perlu menjadi pegangan kita dalam hal ini.

Memiliki rumah sendiri, ya meski masih ngontrak memberikan kendali kepada kita untuk mengisi rumah seperti yang kita inginkan. Ketika mudik kemarin dan melihat konsep-konsep lingkungan yang tidak terealisasikan, saya ingin dengan segera dan sungguh-sungguh untuk mempraktikkan gaya hidup bebas sampah di rumah saya.

Baca juga :Mencoba Hidup Lebih Minim Sampah

Namun ternyata, menjadi pelaku zero waste bagi ibu rumah tangga sendiri ternyata banyak sekali tantangannya. Ketika mengambil bahkan hanya untuk belanja kebutuhan pokok saja, pertimbangan-pertimbangan seperti : umur dan kualitas barang, bahan dasar suatu barang, dan siapa yang menjual/membuatnya pun menjadi penting.

Seringkali saya merasa ribet sendiri memikirkan hal tersebut. Apa iya memang seribet itu mempraktikkan gaya hidup zero waste? Tapi, lalu balik lagi. Membayangkan sampah-sampah yang muncul karenanya, dan dampaknya bagi bumi di kehidupan anak-cucu kita menjadi alasan kuat kenapa perlu memiliki pola pikir demikian.

Berpikir kritis dimulai dari rumah

Sambil memasak, biasanya menjadi me time saya untuk melakukan hobi mendengarkan podcast. Kali ini saya mendengarkan podcastnya Mas Iyas Lawrence yang mengundang Mbak Andhyta F. Utami. Obrolannya memberi insight baru buat saya.

Dalam obrolannya, Mba Andhyta sebagai pegiat lingkungan yang juga pekerja di Bank Dunia selalu lagi bilang bahwa perempuan perlu sekali untuk terus belajar, ia pengambil keputusan besar, dan selalu berpikir kritis dalam pengambilan keputusan besar, terutama yang terkait dengan lingkungan. 

berpikir kritis saat mengisi rumah

Saya menggarisbawahi pernyataannya tentang perempuan perlu berpikir kritis. Apa sih berpikir kritis? dan kenapa perempuan perlu berpikir kritis?

Saya lalu membaca beberapa artikel tentang berpikir kritis. Eh, ternyata cara ini juga sudah termasuk dalam sikap berpikir kritis itu sendiri katanya. Ketika kita ingin tahu, lalu kita mencari tahu, membaca banyak tulisan, membaca perspektif dari berbagai ahli, ini sudah satu tahap awal berpikir kritis.

Baca juga : Membangun Kebiasaan Sehat Perempuan

Selain itu, ternyata berpikir kritis itu sendiri ada unsur-unsurnya. Para ahli bilang bahwa ketika kita mengambil sebuah keputusan dengan mampu berpikir secara mandiri, jernih, rasional dan nggak ikut-ikutan, itu sudah berpikir kritis. Ditambah lagi, jika kita mampu melibatkan kemampuan untuk merefleksikan ide atau masalah, menerapkan alasan, dan membuat hubungan logis antar ide.

Siapapun perlu berpikir kritis, termasuk perempuan. Dan, tempat terbaik untuk memulai menerapkan berpikir kritis adalah rumah.

Berpikir kritis dimulai dari kegiatan keluarga semisal mengisi rumah, menerapkan gaya hidup yang baik dalam rumah tersebut, dan membangun generasi yang gemar belajar. Itu semua rasanya penting biar hidup lebih bernilai, tidak hanya sekadar ikut-ikutan, dan memiliki ciri tersendiri. 

Begitu kan kira-kira? Menurut kamu gimana? 

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

28 Replies to “Mengisi Rumah Kosong dengan Konsep Minim Sampah”

  1. Saya termasuk salah seorang yang tertarik dengan zerowaste thing. Dan sedikit demi sedikit mulai mempraktekkannya di rumah. Mulai dari memilah sampah, komposting hingga declutering. Dan saya juga mulai menerapkan zerowaste lifestyle ini ketika pindah ke rumah baru yang masih kosong. Selain butuh proses pastinya butuh support dari lingkungan kita khususnya keluarga

    1. Saya juga belum sepenuhnya kok mbak. Masih dalam tahapan sederhana aja.
      Iya, ini memulai zero waste itu tantangannya emang berat, menanamkan pola pikir yg sama ttg konsep minim sampah ini pada anggota keluarga perlu banget. Perlu disiplin dan tegas sih.

  2. Zero waste, masih banyak sekali yang bersikap masa bodoh dengan bahaya limbah plastik ini, miris berapa banyak limbah plastik setiap hari nya yang dibuang ke tempat sampah, sungai bahkan laut. Dan berpikir lebih kritis, dimulai dari rumah, ok sip terimakasih sharing nya.

    1. Betul sekali mbak. Makanya, saya rasa menerapkan pola pikir kritis dalam aspek ini pun perlu banget kan ya. Sampah ini bukan permasalahan kecil padahal. Dampaknya sudah mulai terasa sekarang, ada banjir, ad pula hewan2 yg makannya malah plastik saking menggunungnya itu plastik.

  3. Podcast Makna Talks yg diampu Iyas Lawrence tuh selalu seruuu
    Narasumbernya keren2 nih, termasuk yg mb Ghina ulas di postingan ini.
    Berfaedah bgt buat kita semua ya

    1. Iya banget mbak. podcast favorit nih. hampir nggak pernah terlewat setiap minggunya. lalu aku pun kepo sampekan siapa itu Iyas Lawrence itu. hihi.

      Obrolannya hampir 70 persen pakai bahasa inggris pula, jadi sambil melatih telinga biar terbiasa mencerna obrolan serius pake bahasa lain, menantang jg sih

  4. Mungkin banyak yang terjebak dan jadi hoarder mengumpulkan barang-barang karena mulai mengisi rumah seringnya mulai dari nol. Jadi kepikirannya beli ini-itu, semuaa aja pengen dibeli ^^”

    Kalau kosan atau apartemen yang sudah fully-furnished, IMO setidaknya keinginan beli2 perabot jadi berkurang. Hehe.

    1. Pas di belanda aku agak hoarder sih. Tapi pas di sana nggak ragu buat hoarding karena belinya seken di toko seken gitu. Terus nanti kalo udah nggak mau, tinggal balikin lagi aja ke toko seken tersebut. Jadi, pas mau balik ngerasa nggak ribet2 amat sama urusan barang.

      Nah, ini juga sempet kepikiran, full furnished itu emang enak banget, tapi nyari yg full furnished gt dipastikan harganya lebih mahal sih.hihi

  5. yupss setuju banget… apalagi perempuan lah yang punya andil lebih banyak di dalam rumah. mulai dari bangun tidur sampai tidurlagi rumah tak lepas dari sentuhan wanita

    1. Yuhu mba icha. Kita sebagai penguasa dapur dan rumah ya, jadi kuasa yang besar perlu juga memiliki peran yg besar. Jgn cuma berkuasa aja tapi andilnya kecil, hihi.

  6. Susah² gampang buat praktik zero waste ini. Perlu kerja keras. Kitanya udah berusaha zero waste. Eeh, di lingkungan luar susah dikontrol. Akhirnya ketularan lagi deh kita yang didalem sini.

    1. Ini nih betul banget. Saya balik indo pun awalnya ga lagi milah sampah, karena udah dipilah pun nanti di TPA dibarengin lg sama sampah non organik. Tapi perlahan kenal komposter, dll menarik jg utk dipraktikkan.

      Makanya, hidup mandiri itu memberikan keleluasaan ya mbak. Biar bisa konsisten, seennggaknya bisa berkuranglah jumlah sampah plastik, dll.

  7. Beberapa kali saya membaca konsep minimalis dari tulisan blogger ngefek banget loh Mba saya mulai berani memberikan barang yang tak dibutuhkan.
    Hasilnya bikin makin berenergi 🙂

  8. Berpikir kritis itu perlu. Termasuk urusan mengatur rumah tangga dan berlatih membiasakan zero waste. Ya kritis sebelum mulai membeli barang barang yang akan memenuhi rumah kalau ternyata nggak dimanfaatkan secara maksimal.

  9. Konsep zero waste memang bagus banget dan saya mulai menerapkanmya saat mengisi kulkas. Dulu suka banget beli bahan makanan apa aja & masuk kulkas, dan ternyata bisa berminggu2 bahkan berbulan2 gak habis dan terpaksa dibuang karena kualitas bahan makanan tsb sdh gak baik. Sekarang saya belinya yg bener2 perlu saja

  10. Perempuan berpikir kritis harus! supaya nggak mudah terbawa arus, nggak cm jadi follower, bisa memutuskan yg terbaik terkait serba serbi rumah. Aku masih PR nih ama zero waste 🙁

  11. Gaya hidup minimalis atau minim sampah sebetulnya mudah namun butuh konsisten
    Mirip ibadah dalam agama
    Jika kita meyakininya dan melakukan terus menerus
    Maka akan terbiasa

    1. Iya Ambu. Konsisten itu kunci segala kebaikan yaa. sedikit-sedikit tapi konsisten bagus. Emang kalo mau rombak semua pada gaya hidup minim sampah juga cukup susah, jadi masih sedikit-sedikit, perlahan-lahan ya, Qur’an aja turunnya berangsur-angsur kan yaa. hihi

  12. Kebetulan saya juga lagi pilah2 barang dirumah kak termasuk makeup/skincare, mana yang memang udah nggak pernah disentuh sebaiknya dijual/dihibahkan atau dibuang. Semangat buat konsep zero waste:)

    1. semangat juga mbak lily. Saya malah jadinya sekarang yg ada dipake dulu sampe habis. Udah ga beli2 lagi ini lagi nyoba2 bikin sendiri dari mix essential oils sama bahan alami gitu. lumayan sih hasilnya, hihi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *