Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Perempuan dan Literasi Digital Untuk Kesetaraan

4 min read

literasi digital dan perempuan

Perempuan dan literasi digital di Indonesia memiliki kontribusi untuk mencerdaskan bangsa dan perempuan setara bahkan dalam teknologi. Salah satu figur yang patut menjadi inspirasi ialah Najwa Shihab. Kesetaraan dapat diwujudkan melalui literasi yang kuat.

literasi digital dan perempuan
literasi digital penting dikuasai perempuan

Saya perempuan, dan saat melihat Najwa Shihab yang sedang bercuap-cuap dengan pilihan kata yang beragam dan interaktif tentu saja membuat saya ingin juga menirunya. Kalaupun tidak memiliki profesi seperti beliau, ketajaman berpikir dan memiliki literasi yang baik tentu perlu menjadi pijakan.

Saya menyadari bahwa perempuan memang perlu bekerja lebih keras untuk menunjukkan kemampuannya. Konstruksi sosial masyarakat bahkan masih melihat perempuan berpendidikan tinggi saja dengan sebelah mata.

Namun, pendidikan dan pengetahuan tentu tak mengenal jenis kelamin. Melalui membaca, seseorang akan satu langkah lebih maju untuk menunjukkan kehadirannya di dunia. Melihat pada diri sendiri, perempuan yang juga sedang menggeluti dunia tulis menulis di blog pun akhirnya diingatkan kembali tentang pentingnya membaca oleh Teh Gemaulani.

Membaca memang menjadi sarana untuk mengetahui setiap hal dan merefleksikan apa yang didapatkan dari hasil bacaan tersebut dalam segala aspek keseharian kita (window and mirrors). Dalam perkembangan teknologi seperti saat ini harus pula merambah di literasi dunia digital, maka kemudian muncullah istilah literasi digital.

Apa dan Bagaimana Literasi Digital itu?

Perkembangan teknologi kian kemari kian berkembang. Hampir semua aspek dapat diakses melalui satu wadah, yaitu teknologi digital. Informasi sebagai media untuk mengetahui suatu perkembangan pun berpindah hanya melalui genggaman.

UNESCO memberikan definisi bahwa literasi digital ini adalah life skill (keterampilan hidup). Disebut demikian karena tidak hanya melibatkan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, informasi dan komunikasi, tetapi juga kemampuan bersosialisasi, kemampuan dalam pembelajaran, dan memiliki sikap, berpikir kritis, serta inspiratif sebagai kompetensi digital.

Definisi yang luas ini bukan tanpa alasan, literasi era digital berarti memiliki dua maksud, yaitu pengetahuan dan keterampilan praktis. Seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan literasi digital yang baik jika bisa mengecek dahulu informasi tersebut sebelum membagikannya.

Membaca informasi tidak hanya sekadar membaca semata. Jika sekadar membaca saja, anak kecil juga bisa membaca. Namun kemampuan untuk memahami substansi dan mengelolanya dengan kritis menjadi tuntutan di era digital dengan arus informasi yang beragam dan penuh tantangan.

Baca juga : Memperjuangan Kemerdekaan Melalui Media Sosial

Kemampuan literasi digital di Indonesia perlu digaungkan di tengah arus informasi dan globalisasi . Hal ini untuk memeriksa kebenaran suatu informasi dan validitas sumbernya. Meski orang-orang sudah paham bahwa segala informasi itu tidak selalu benar, namun literasi yang lemah membuat banyak orang tidak bisa memahami mana informasi yang benar dan yang salah.

Literasi digital adalah esensial, namun fakta berkata bahwa 65% dari 132 juta pengguna internet di Indonesia percaya dengan informasi dari dunia maya tanpa mengeceknya terlebih dahulu. Miris namun begitulah faktanya. Literasi informasi digital ini tentu perlu dipupuk, dibiasakan, dan diajarkan dari lingkungan terkecil dahulu, keluarga.

Pentingnya Literasi Digital bagi Perempuan

Literasi digital adalah perlu dipelajari oleh semua orang, tak terkecuali perempuan. Hal ini perlu ditekankan adanya ada banyak sekali alasan yang kemudian menjadikan perempuan dianggap tidak kompeten, seperti :

1. Fakta psikologis perempuan tidak stabil

Ada sebuah pernyataan yang menyebutkan bahwa perempuan lebih mudah terpapar hoax. Hal ini dipicu oleh psikologi dan emosi perempuan yang dianggap tidak stabil saat menerima informasi. Lebih lagi, perempuan juga lebih suka untuk mengumpul dan berbagi informasi. Jika informasi yang disebar adalah informasi yang tidak benar tentu efeknya sangat berbahaya.

Meski secara psikologis menyatakan demikian, tentu tidak semua perempuan mudah terpapar hoax. Karenanya, pentingnya penguasaan literasi digital dalam hal ini adalah suatu kebutuhan.

2. Ketimpangan pendidikan untuk belajar literasi digital

Fakta masih menyatakan bahwa tingkat pendidikan laki-laki dan perempuan masih timpang. Perempuan masih perlu bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Pun saat ini sudah ada banyak yang bersekolah tinggi, kemampuan literasi digital masih sedikit yang menguasai.

3. Perempuan kesulitan menguasai teknologi digital

Faktanya memang sedikit perempuan yang berani mengulik teknologi digital dan menguasainya. Saya sendiri mengulik blogging masih sering mendapati kesulitan. Namun sebenarnya, semakin mengulik saya sendiri menemukan kebahagiaan karena akhirnya bisa menguasainya.

Ya, seharusnya perempuan perlu menguasai pengetahuan science, technology, engineering and mathematic (STEM) karena perempuan juga memiliki peran dan membangun kecerdasan bangsa. Terlebih, di kemudian hari perempuan juga memiliki peran mendidik anak saat menjadi Ibu.

Anak memiliki jumlah kromosom lebih kuat dari Ibu daripada Ayah. Fakta biologis ini perlu menjadi penyemangat bagi perempuan untuk terus belajar, tidak mudah terprovokasi, dan kritis saat menghadapi pemberitaan yang tidak jelas.

Memiliki anak perempuan yang beranjak dewasa dan semakin kritis pun  menjadi momen penting untuk saya mengajarkan tentang literasi digital untuk anak. Saya ingin Nahla menjadi paham bahwa perempuan saat ini belum benar-benar merdeka, masih ada banyak ketidakadilan yang muncul. Kita perlu melawannya dengan belajar.

Perempuan Melawan Ketidakadilan Dengan Literasi

melawan ketidakadilan perempuan dengan belajar literasi digital
Setarakan kemampuan diri dengan belajar literasi di era digital

Berbagai macam bentuk ketidakadilan masih kerap dirasakan oleh perempuan. Warisan patriarki masih membekas kuat dalam konstruksi sosial masyarakat.

Ketidakadilan berupa marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda masih ada nyatanya. Perempuan perlu memahami dan menghapus stigma tersebut dengan pemahaman yang luas dan pemikiran yang kritis.

1. Mendukung gerakan untuk meningkatkan literasi digital bagi perempuan

Dengan emosi yang mudah tersulut, tidak dipungkiri bahkan sesama perempuan pun bisa saling bersaing dan memicu permusuhan akibat suatu informasi.

Oleh karena itu, penting untuk dipahamkan bahwa sesama perempuan perlu saling mendukung dan mengingatkan sesamanya. Dukungan tersebut perlu dilakukan untuk menumbuhkan kekompakan dan membuktikan bahwa perempuan juga bisa dan mampu bekerja sama dengan baik.

2. Mengedukasi tentang pentingnya literasi informasi digital

Semangat belajar biasanya hanya berlangsung saat menginjak bangku sekolah atau berkarir saja. Namun, keadaan sekarang tak seharusnya demikian. Perempuan perlu menguasai teknologi dan literasi informasi digital untuk mengajarkan bahwa tidak semua informasi itu benar dan agar kita pun bisa mengawasi anak dengan baik.

3. Mengenalkan kesetaraan gender dalam pengasuhan

Memahamkan ketidakadilan tersebut terhadap anak tentu tidak dengan bahasa yang ndakik-ndakik. Membaca menjadi sarana untuk meningkatkan literasi digital untuk anak, menguatkan bonding anak dan orangtua sekaligus untuk mendidik tanpa menggurui.

Baca juga : Let’s Read Keajaiban Mendongeng Cerita Bergambar

Mengajarkan keadilan adalah tugas orang tua selanjutnya. Memperkenalkan anak belajar literasi bisa dimulai bahkan dari diri kita sendiri, seperti saring sebelum sharing, tidak mudah percaya semua informasi, dan pilih website kredibel untuk menjadi sumber bacaan.

Selanjutnya, mendidik anak bisa melalui bahan bacaan, permainan, dan hobi. Kita perlu menyeleksi bahan bacaan anak berkualitas, menajamkan hobi serta tidak membedakan-bedakan berdasarkan jenis kelamin. Menurut penelitian, hal ini nantinya bisa berdampak pada penguasaan teknologi.

Pilihan bacaan tentu perlu disortir dengan baik oleh kita sebagai orangtua. Mendampingi anak membaca dan masuk ke dalam dunia anak menjadi jalan penting agar anak paham tentang bagaimana berliterasi.

Saat ini, berbagai sumber bacaan untuk anak-anak pun sudah ada dalam genggaman. Oleh sebab itu, jelas sekali peran Ibu untuk meningkatkan pengetahuan bagi perempuan juga perlu pegangan yang kuat dan tegas agar penggunaan gawai tidak berlebihan.

Pentingnya literasi di era digital memerlukan gerakan bersama. Kepedulian untuk meningkatkan kegemaran membaca, lingkungan belajar yang kondusif serta kerjasama yang baik akan mendukung peningkatan kualitas literasi tersebut.

Kesimpulan

Penguasaan literasi di era digital bagi perempuan adalah penting. Selain untuk melawan ketidakadilan akibat patriarki yang mengakar dalam konstruksi sosial masyarakat, perempuan juga perlu menunjukan diri bahwa ia juga mampu menguasai teknologi dan memiliki kemampuan literasi yang baik. Kita setara karena belajar.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

49 Replies to “Perempuan dan Literasi Digital Untuk Kesetaraan”

  1. Iya bener ya. Kayaknya keren kalo pembahasan ketidaksetaraan perempuan dalam literasi digital lebih dibahas..

  2. Meninggalkan jejak digital yang baik adalah tanggung jawab kita sebagai blogger ya kak. Namun kita tetap harus memilah mana informasi untuk umum dan pribadi yg hanya boleh dikonsumsi orang terdekat. Jangan sampai deh semua diumbar di jagad maya. Huhu… Ngeri

  3. Betul mbak,,, literasi digital emang penting banget. Banyak yang belum merasa penting sama problem itu. Apalagi buat ibuk ibuk yang sekarang harus ndampingi anak belajar daring,
    Sering liat anak anak nggak engage di pembelajaran daring dan orang tuanya belum paham terkait improfisasi pembelajaran digital, website/ aplikasi gawai yang mendukung pembelajaran anak. lagi kalo arisan seringnya topiknya mbahas status Facebook orang wkwkw

  4. Suka banget kalimat penutupnya. Kita setara karena belajar. Dan belajar memang nggak ada akhirnya. Sadar akan literasi digital pun membantu membuat seseorang berpikir dua kali sebelum menyebarkan informasi maupun sudut pandang secara digital.

  5. Wah kecerdasan literasi digital memang penting sekali, miris memang bahwa banyak yang membagi Kan informasi tanpa menyaringnya terlebih dahulu, ga tahu nya berita hoax. Kebayang dosanya itu

  6. Soal data ini jadi ingat yang lagi anget, persetujuan pemanfaatan data oleh salah satu aplikasi yang bisa dibilang sangat populer di Indonesia. Memang data itu sungguh berharga sih ya, sampai bisa menjadi alat tawar yang kuat.

  7. Literasi digital memang penting banget terutama buat orang tua, khususnya kebanyakan ibuk ibuk yang mendampingi anak belajar daring. Pemilahan konten yang bagus dan punya nilai pembelajaran juga. Waa kalo pulang kampung liat ibuk ibuk ngobrolnya based on status di Facebook yang kebenarannya sangat diragukan, suka geleng geleng kepala ana

  8. Wihh kak ghin keren, dua tema jadi satu. Pembahasannya juga mendalam.
    Bener banget aku setuju emang perempuan yg melek literasi biasanya sih bisa melawan ketidakadilan karena dia punya ilmu, punya wawasan

  9. Aku jarang ganti password. Tapi aku jarang banget share foto selfie sih hehehe
    Paling jg share foto karena ada kepentingan.

  10. Bener mbak,Najwa Sihab emang keren mau “ngobrol” dengan siapapun, selalu nyambung.Ah semoga kita para ibu, bisa menjadi ibu yang nyambung “ngobrol” dengan siapapun.Nggak usah jauh2 seperti Najwa Sihab,seenggaknya ketika ngobrol dg anak kita bs jadi teman ngobrol yg seru serta memberikan banyak ilmu kepada anak krn ibu adalah madrasah terbaik bagi anak

    1. Literasi digital memang perlu terus menerus digalakkan. Bukan cuma untuk perempuan, tapi laki2 juga. Minimal bisa dimulai dengan kampanye Saring sebelum Sharing. Selain itu, budaya cross checking sebuah berita atau info sudah jelas sekali menjadi penguat dari budaya Saring sebelum Sharing itu. Tulisan bagus. Keep the good work.

  11. Aku juga kagum sama mbak Nana nih, ditanya apa aja selalu cepat jawabnya.

    Zaman sekarang memang perempuan harus pinter-pinter, melek literasi, dan bisa ngelawan yang namanya ketidakadilan 😍

    Sharing time kemaren juga seru banget ya mbak. 2 jam waktunya serasa kurang.

  12. 𝕨𝕒𝕙, 𝕓𝕖π•₯𝕦𝕝. π•Šeseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan literasi digital yang baiπ•œ 𝕀𝕖𝕝𝕒𝕝𝕦 π•”π•–π•œ π•Ÿ π•£π•šπ•”π•–π•œ 𝕕𝕦𝕝𝕦 π•ͺ𝕒 π•₯π•šπ•’π•‘ 𝕒𝕕𝕒 π•šπ•Ÿπ•—π• . π•π•’π•Ÿπ•˜π•’π•Ÿ π•œπ•–π•žπ•’π•œπ•’π•Ÿ 𝕙𝕠𝕒𝕩

  13. Ibu yang pinter infonya memang akan menurunkan kecerdasannya kepada anak. Katanya sebagian riset begitu. Tapi tentu saja itu lebih baik lagi jika dibarengi contoh dan pola pengasuhan yang baik dari kedua orang tua, antara ayah dan ibunya. Itu hal yang berat, karena sifat kepengasuhan adalah long life process n progress menurutku. Munculnya Najwa Shihab, selain karena memang cerdasnya, juga karena kedua orang tuanya mau memberikan dia peluang kepada mbak Nana utk melakukan apapun yang dia mau, selagi dalam koridor yang positif. Itu tantangan yang agak sulit utk kita lakukan sebagai orang tua, mempercayai anak sepenuhnya utk merdeka sementara kita menahan diri utk tidak mencela. Wish us the best luck for our children.

  14. Selalu ada insight baru meski tulisan dengan tema serupa, rupanya memang bener ya, sejauh ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa perempuan lebih lemah dalam hal teknologi. Sip lah ..
    Budaya patriarki harus dilenyapkan.

  15. Sepakat, Mbak Nana adalah contoh perempuan melek digital. Akupun sebagai rumah tangga berusaha menggunakan teknologi sebaik mungkin.

  16. Membahas isu gander memang tidak pernah usai, yang bahkan jangkauannya sudah sampai literasi digital. Memang harus semakin banyak yang bersuara dalam tulisan seperti ini. Suka sekali tulisannya, na.

  17. Sekarang masyarakat +62 kebanyakan malas sekali membaca dan sangat mudah menjadi korban hoaks. Itulah kenapa literasi itu sangat penting di lakukan supaya mudah mencegah dari namanya hoaks.

    Keren sekali nih tulisannya mbak ^^

  18. Ya ampun kak. Baru ini aku baca tentang literasi digital ada yg lantang menyuarakan kesetaraan gender.
    Semoga dengan bertambah banyaknya blogger perempuan yang artinya semakin banyak perempuan yang sadar literasi digital, maka tidak ada lagi penindasan pada hak-hak perempuan ya kak.
    Tulisannya keren. Makasih sharingnya

  19. Memang benar…
    Membaca memang membuka jendela dunia, apapun bisa kita temukan. J
    Pokoknya siiipppp…

  20. Bener banget tuh poin poin terakhir untuk melindungi data kita. hati-hati pokoknya ya. Karena kan banyak tuh yang menjual data diri kita ke pihak lain.

  21. Makanya kadang aku gemes sama yg 65% itu. Aku kadang nggak percaya sama berita yang berseliweran dengan opini yang menjudge sesuatu. Batin aja bener nggak sih itu berita begitu.

  22. Bener juga tuh…
    Membaca memang membuka jendela dunia, apapun yang kita cari akan kita temukan.

  23. Perempuan sekarang memiliki hak kesetaran yang sama dengan laki-laki di berbagai bidang dan ada juga yang menjadi pemimpin daerah. Kita semua harus saling menghormati itu. Apalagi dengan adanya teknologi yang menunjang saat ini.

  24. Setuju sekali kalau di jaman sekarang perempuan harus cerdas dan menguasai teknologi. Mencari wawasan dan pengetahuan sekarang juga bisa di dapat dengan mudah yaitu dengan memanfaatkan internet.

  25. Setuju sekali kalau perempuan sekarang harus cerdas dan melek teknologi. Apalagi untuk mencari wawasan dan pengetahuan sekarang sangat mudah lewat internet jadi tinggal kemauan kita mau belajar dan menambah pengetahuan

  26. Setuju banget nih, jaman sekarang sebagai perempuan harus pinter literasi digital juga biar pengetahuan lebih banyak. Apalagi perempuan sebagai ibu yang menjadi sekolah pertama anak-anaknya.

  27. Wih saya setuju banget nih dengan 2 kutipan ciamik diatas. Kalo literasi digital itu termasuk ke dalam life skill. Dan “dengan Belajar kita menjadi setara”☺

  28. Wih saya setuju banget nih dengan 2 kutipan ciamik diatas. Kalo literasi digital itu termasuk ke dalam life skill. Dan “dengan Belajar kita menjadi setara”☺..setuju

  29. Memaknai dan memahami literasi digital itu bagi semua kalangan. Titik tekan Tulisan ini mempersuasi kita untuk menjadi lebih cerdas dan bijak sebagai perempuan

  30. Bener ya teh Gina Kita juga harus sering ganti password. BTW literasi digital ini memang sangat penting mau kamu perempuan atau Adam karena di era sekarang tsunami informasi sangat banyak jadi kita harus bijak dalam menyaring informasi

  31. Setuju sih betapa pentingnya literasi digital bagi perempuan. Biar ga ada lagi sumber dari Whatsapp Group yg entah tidak jelas kebenarannya. Apalagi emak2 itu yang paling sering aktif di kegiatan sosial baik sekedar ngerumpi sama tetangga, arisan, dan pengajian

  32. Menarik sekali ini pembahasan perempuan dan literasi digital.Karena biasa perempuan walau secara kuantitas banyak namun kadan suka diremehkan. melalui literasi digital perempulan juga bisa melawan anggapan tersebut

  33. Aku suka dengan nazwa sihab. Cara dia berkomunikasi tidak membosankan dan percaya diri saat berbicara dengan lawan bicara. Mba Nana mengarjakan bahwa perempuan pun harus cakap literasi. Terutama literasi digital di zaman digitalisasi ini.

  34. setuju banget mba sama tulisannya. terkadang dari kita sering tidak sadar kalau sudah mengungkapkan informasi pribadi karena kurangnya literasi digital

  35. Literasi digital memang penting untuk semua termasuk perempuan. faktanya memang perempuan masih banyak dijadikan objek, apalagi situasi pandemic covid-19 saat ini, kasus-kasus kekerasan seksual berbasis gender online pun meningkat. sehingga penting untuk meningkatkan pengetahuan dan belajar soal literasi digital.

  36. Mba Nana memang amazing ya. Aku pun suka dengerin mba Nana ngomong. Diksinya enak. Dan kita sebagai perempuan memang hrs cerdas menyaring informasi ya mbak. Jadi sangat penting ya literasi digital ini. Apalagi di tengah cepatnya arus informasi sprti skr. Bnyk hoaks

  37. setuju banget. dalam hal belajar kita memang setara dan tidak ada perbedaan jenis kelamin. apalagi sebagai blogger kita memang harus bisa melek akan literasi digital.

  38. Di era literasi digital seperti ini sangat perlu mencermati hal-hal seperti kebenaran berita beredar entah itu benar adanya atau hoax karena sebagian besar orang hanya membaca tanpa mecermati isinya dan langsung berasumsi.

  39. β€˜Kita setara karena belajar’ suka banget sama kalimat itu. Btw ini tulisan yang bikin aku betah berlama-lama main di blog mba Ghina. Kepo sama tulisan tulisan mba Ghina yang lain

  40. indonesia terutama generasi muda harus bgt nih melek literasi… termasuk kita sbg blogger mbak,

    konten kita juga salah satu bentuk literasi yg harus dibuat dgn pertanggungjawaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!