Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

10 Skill Yang Harus Dikuasai Mahasiswa Hukum

3 min read

skill yang dikuasai mahasiswa hukum

Sebagai mantan mahasiswa hukum, skill apa nih yang kamu sukai?

Saya saat ditanya begitu langsung bertanya-tanya sendiri, apa ya? Skill ini berarti kemampuan yang kita kuasai kan. Biasanya ini akan berlaku di dunia kerja maupun dalam pengambilan keputusan. Saya rasa ini tidak terkait berdasarkan jurusan yang dipilihnya. Selain itu tentunya skill ini patut untuk dimiliki oleh kita semuanya.

Berbicara tentang skill, saya jadi teringat mata kuliah di semester pertama yang berbicara tentang profesi. Namanya Etika dan Profesi Hukum. Di mata kuliah ini, kita lebih banyak mendiskusikan suatu kasus, lalu pengambilan sikap serta keputusan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang digunakan.

Selain itu tentunya berbagai mata kuliah, praktik hukum, serta lomba yang ada tentu memerlukan skill serta memberikan bekal skill yang baik. Hal ini tidak hanya berlaku di dunia kerja saja, tapi juga di dalam kehidupan keseharian kita.

So, ini dia kira-kira beberapa skill yang patut kita kuasai?

10 Skill yang Patut dikuasai Mahasiswa Hukum

kemampuan berpikir logis dan kritis

1. Public Speaking

Public speaking menjadi hal penting yang perlu dikuasai oleh anak hukum. Beberapa kegiatan kampus maupun ajang lomba mau tidak mau membutuhkan kemampuan berbicara yang apik.

Kemampuan berbicara yang baik akan mempu menarik lawan bicara kita. Skill ini juga bagus dipraktikkan saat berdebat, bernegosiasi, maupun menjadi mediator dalam sebuah kasus. Dengan kemampuan public speaking yang bagus, tentunya akan memberikan nilai tersendiri bagi lawan bicara kita.

2. Berpikir logis dan kritis

Berpikir logis dan kritis adalah bekal mendasar yang perlu dikuasai oleh mahasiswa hukum. Dalam praktiknya kemampuan bisa diasah sedari duduk di bangku sekolah. Dengan kemampuan ini, saat menghadapi suatu masalah, kita tidak serta merta terburu-buru dalam mengambil keputusan.

Baca juga : Melek Politik bagi Perempuan

3. Melihat suatu hal dari berbagai perspektif

Meski kamu mahasiswa hukum, tidak serta merta kamu mengambil sebuah keputusan berdasarkan landasan yuridis semata. Berdasarkan per-uu-an pun, kita juga harus melihat suatu hal berlandaskan pada kondisi sosiologis, filosofis.. Ini juga berlaku lho saat bekerja di ranah hukum nanti. Terutama dalam bagian perancangan peraturan perundang-undangan.

Menurut mentor saya dulu, pentingnya melihat suatu hal dari berbagai perspektif ini supaya kita nggak jadi orang yang tertutup. Yup, itu berarti, dengan melihat suatu kasus dari berbagai perspektif, kita juga melatih diri untuk lebih terbuka terhadap suatu hal.

Meskipun mahasiswa hukum, bukan berarti kita menutup mata terhadap fakta-fakta lain, kan!

4. Tidak pandang bulu

Equality before the law. Ini adalah ajaran pertama yang ditekankan di awal semester saat saya jadi mahasiswa hukum.

Kedudukan yang sama di hadapan hukum tentu menjadi bagi seseorang yang berada dalam bidangnya untuk mengambil suatu keputusan. Nggak boleh terlalu condong ke kanan maupun ke kiri. Masih ingat kan dengan lambang hukum kita, Patung Themis yang dilambangkan dengan sosok Dewi Keadilan yang sengaja ditutup matanya sambil memegang timbangan. Itu adalah pengingat agar kita bisa memelihara keadilan tanpa pandang bulu.

5. Memiliki kemampuan riset

mampu bekerjasama dalam

Hukum pun hadir karena adanya perkembangan dinamis yang muncul dalam masyarakat. Ubi Societas, Ibi Ius. Hukum hadir karena adanya masyarakat, namun tentunya seiring perkembangan dinamis yang terjadi, hukum pun terus berubah mengikuti kondisi tersebut.

Kemampuan riset mendukung seorang mahasiswa hukum dalam mengetahui perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. Setelah lulus, tentunya kemampuan ini penting sekali. Namun untuk banyak hal, apalagi mengungkapkan fakta, perlu sekali kemampuan riset yang mumpuni agar hasilnya valid, alat bukti mendukung, serta bisa dipertanggungjawabkan.

6. Bisa bekerja sama dengan baik

Dalama perkuliahan mahasiswa hukum, ada momen di mana tugas ada yang dikerjakan sendiri, namun tak sedikit juga yang harus dikerjakan secara berkelompok. Seperti program Peradilan semu, debat hukum, legal drafting, dan lainnya, itu memerlukan kerja sama tim yang solid.

Tentunya ini menjadi bekal juga agar kita setelah terjun di masyarakat maupun dalam pekerjaan tidak egois dan individualistis. Sebagai makhluk sosial, kita pun tentunya tidak bisa lepas dari orang lain. Kerja sama yang baik tentunya akan lebih mengefisienkan waktu, melatih jiwa sosial kita, serta tujuan pun akan lebih mudah tercapai.

7. Profesional

Menjadi sesorang yang ahli dalam suatu bidang menjadi nilai tersendiri dalam suatu pekerjaan. Ini bukan sekadar berdasar titel yang didapatkan. Keahlian yang terus diasah serta keunikan yang kita miliki menjadi poin utamanya.

Sikap profesional sendiri tentu tidak hanya berdasarkan pada keahlian kita, ya. Keterampilan kita dalam mengelola kepribadian serta watak kita pun perlu dikelola secara profesional. Apa ciri orang yang profesional? Biasanya dia akan loyal terhadap suatu hal, punya integritas yang tinggi, mampu bekerja keras, dan tentunya punya visi dalam hidupnya.

8. Selalu up to date

Hari gini nggak up date tentang suatu hal? Itu gawai dipakai buat apa?

Mahasiswa hukum pasti tahu kan kalau peraturan itu terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Jadi kalau diskusi, debat hukum atau bahkan saat membuat rancangan peraturan, pastikan banget kalau kamu itu menggunakan peraturan terbaru. Ya, meski masih banyak peraturan yang belum mengalami perubahan juga sih, padahal menghambat pemberian perlindungan kepada masyarakat.

Hal-hal terkini menjadi pertimbangan sendiri dalam pengambilan keputusan. Selain tentunya wawasan kita bertambah, update tentang suatu hal membuat kita bisa bekerja lebih adaptif dan inovatif.

9. Menguasai bahasa asing

Jurnal yang menjadi rujukan dalam pembuatan artikel ilmiah itu paling update ya jurnal dari luar. Jadi kalau kita mau membuat artikel ilmiah yang komprehensif harus bisa menguasai bahasa asing.

Baca juga : Metamorphosa Belajar Bahasa

Di era globalisasi tentunya menguasai bahasa asing adalah keharusan. Relasi, pengetahuan dan kontribusi kita akan lebih berkembang ketika menguasai lebih dari satu bahasa, bukan?!

tech savvy skill wajib di era teknologi

10. Tidak gagap teknologi

Literasi digital akhir-akhir ini menjadi fokus yang sedang digalakkan oleh pemerintah. Memang kita nggak boleh gagap sama teknologi. Bekerja di bidang hukum pun tentu bisa menggunakan teknologi untuk mengembangkan pengetahuan dan menyebarkan pengetahuan yang dimiliki di ranah sosial. Nilai plus ini bahkan bisa membuat narasi hukum lebih akrab dan dekat di masyarakat.

Kemampuan menguasai teknologi akan memberikan kemudahan kita dalam menyelesaikan pekerjaan dan memberikan perlindungan. Ya, seperti kita tahu, teknologi seringkali membutuhkan data. Dan seperti kasus-kasus yang terjadi belakangan ini, ada banyak data bocor. Sebagai pengguna teknologi, kita perlu tahu cara melindungi data kita agar tidak tersebar begitu saja.

Penutup

Skill di atas tentu saja tidak hanya harus dikuasai oleh mahasiswa hukum, ya. Kita semua memerlukan keahlian tersebut untuk siap menghadapi tantangan zaman serta tentunya menjadi pribadi yang lebih baik. Tentunya masih ada banyak skill yang perlu kita kuasai lagi ya. Menurut apa nih skill yang perlu dikuasai lainnya?

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

5 Replies to “10 Skill Yang Harus Dikuasai Mahasiswa Hukum”

  1. Yang tidak pandang bulu nih kadang susah buat perempuan ya, kadang melihat sesuatu dengan bias, karena banyakan pake perasaan hahaha.

    Tapi kalau masuk jurusan hukum, lama kelamaan bakal terbentuk sendiri ya harusnya 🙂

  2. Tidak pandang bulu itu yang agak sulit ya buat wanita, maksudnya kadang wanita tuh pake perasaan, yang bikin dia menilai dengan bias hehehe.

    Dan juga bisa bekerja sama dengan baik itu kayaknya wajib buat semua jurusan 😀

    1. iya lho mbak, kalau aku tuh agak susah juga untuk tetap mindful berdebat ketika aku udah terlanjur tdk terkendali emosinya. Makanya selalu kuliah pun dulu ga berani ambil lomba debat, lebih suka yang bikin legal drafting sama mood court aja, karena emang udah disetting ngomongnya.

  3. Hampir 50 persen rekan kerja di tim HRD backgroundnya hukum dan orang2 hukum ini emang public speakingnya joss grandos mba kalau diajak debat bisa2 sampe fisik wkwkk
    Tp akhirnya jd bikin daku yg dulu males ngomong termotivasi deh bisa negur karyawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!