Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Malioboro dan Koran di Akhir Pekan

3 min read

akhir pekan saat new normal di malioboro

Menikmati akhir pekan di Malioboro saat new normal tidak hanya menjadi pusat keramaian pedagang pakaian dan makanan, jalanan bahkan diramaikan oleh pesepeda dan pelari, penjual koran berjejal diantara gempita tersebut.

Keramaian Malioboro di Weekend Pagi New Normal

Hai, sobat bloger, bagaimana akhir pekan kalian? kami kemarin mencoba menikmati suasana pagi di Malioboro. Meski muka kucel belum pada mandi, berawal dari sekadar main ternyata jalan pagi kami kali ini lumayan jauh juga.

Berawal dari pagi saya yang sudah niat mau ngetik eh malah Nahla yang sudah bangun sebelum subuh. Terpaksa saya menunda niatan tersebut.. Tanpa rencana, akhirnya kami pun melangkahkan kaki lebih jauh menelusuri jalanan sepanjang Malioboro.

kali pertama foto bertiga di malioboro

Lalu lalang pesepeda sudah banyak melintas di Jalan Mangkubumi sampai Malioboro. Para pejalan kaki pun tak sedikit yang memenuhi jalanan pedestrian Malioboro. Pagi ini jalanan lumayan sesak. Ah iya, ini weekend panjang ya ternyata.

Nah, saya yang biasanya sendiri menikmati jalanan pagi sendirian, kali ini akhirnya jalan bertiga. Suami yang biasanya lebih banyak diam, kali ini ternyata lumayan banyak ngomelnya. Apalagi sepanjang jalan, yang ia lihat orang lalu lalang bersepeda atau lari tapi maskernya malah dilepas.

Baca juga : Pulang Kampung Saat kebiasaan Baru

‘Aneh’, dia bilang. ‘Orang berolahraga itu kan biar sehat, tapi olahraga malah lepas masker begitu, nggak habis pikir deh!’

Setelah berkata begitu, dia tiba-tiba kepikiran usil untuk memotret orang yang sedang sepedaan atau jalan kaki yang melepas masker tersebut. Namun niatan itu urung terlaksana saat kami melihat sebuah mobil bertuliskan ‘Laskar Sedekah’ sedang berjalan pelan bersama petugas yang sedang membagikan nasi dan minum botolan.

Menarik sekali melihat mobil tersebut bergerak. Ini kali pertama buat saya melihat mobil tersebut ada di jalanan Malioboro. Beberapa kali saya jalan kali, meski pernah melihat orang yang membagikan nasi bungkus buat para penjual, penarik becak, andong, dan pekerja di sana, namun baru kali melihat orang seniat itu sampai bawa mobil segala.

Mobil itu berjalan pelan, seorang lelaki bersarung (namun tak berpeci) membagikan nasi bungkus tersebut kepada orang-orang yang mendekati mobil tersebut. Sesekali ia mendekati orang-orang yang agak jauh sambil menggenggam nasi tersebut. Di belakang lelaki tersebut, ada dua orang laki-laki yang sedang mendokumentasikan kegiatan tersebut dengan rapi.

Mmmm, what do you think when you see it?

Saat saya dan suami fokus mengobrol, tiba-tiba pandangan Nahla yang fokus pada mainan anak membuat kami berhenti sejenak untuk beli mainan tersebut. Saya kira harganya sepuluhribuan, karena sebelumnya dengar si bapak sebelah bilang segitu, eh pas tanya harga ke si Ibunya, agak lama memutuskan, dia bilang ‘dua puluh ribu’ agak shock juga. Untung bukan saya yang bayarin. wkwk

Setelah Nahla jajan, akhirnya saya pun jajan donk. Saat melihat cantolan sendok kayu mata saya langsung terpesona. Kebetulan saya ingin punya koleksinya nih. Saya mendekati penjualnya yang ternyata simbah gitu. Lumayan dapat mangkok batok kelapa, dua pasang garpu dan sendok dan satu buah piring besar untuk buah seharga total lima puluh lima ribu rupiah.

beli alat makan kayu di bringharjo
Alat Makan Kayu beli di Beringharjo

Saya kira perjalanan ini akan cukup singkat, makanya nggak bawa minum Nahla, eh ternyata lumayan jauh. Kami menyusuri hampir 4 km sendiri ternyata. Untung dia kuat jalan sendiri.

Koran di Jalanan Malioboro

Melewati jalanan sempit di dekat Monumen Jogja Kembali, suami menyapa seorang penjual koran yang lewat dengan tumpukan koran yang masih lumayan banyak.

Penjual koran yang satu ini sering saya lihat saat jalan kaki pagi. Penampilannya unik. Selalu menggunakan sepatu boot, celana jeans, baju berkerah yang dilapisi dengan kaos luar. Aha, tas punggung dan topi juga nggak pernah lepas.

Setumpuk koran sudah dalam genggaman. Sayangnya tidak ada Majalah Bobo nih.

Setelah berputar melewati pasar Beringharjo,kami pun memutuskan untuk pulang. Nahla sudah terlihat lemas dan mengeluh kehausan. Jajanan sepanjang Malioboro sudah tidak begitu menarik buat dia. ‘Nahla mau makan masakan Mamah saja’, katanya. wkwk

Okay, sampai di rumah. Tibalah saatnya koran-koran berkeliaran di setiap penjuru ruang tamu. Mengingat koran jadi teringat buku yang barusan saya baca, tentang curhatan para wartawan koran lokal Jawa Barat yang semakin gulung tikar dimakan zaman.

Perkembangan teknologi memang membuat banyak hal berpindah ke media digital, begitu pun juga koran. Banyak perusahaan koran yang gulung tikar, meski tak sedikit juga yang masih bertahan.

Padahal koran cetak ini memberikan mata pencaharian buat banyak orang ya. Untungnya, di sini masih banyak orang-orang yang berlangganan, terutama yang sepuh-sepuh. Hampir setiap pagi saya melihat seorang kakek atau nenek sedang duduk di teras sambil membaca koran ditemani segelas teh. Pemandangan tersebut menyenangkan sendiri buat saya.

Lima tumpuk koran yang terbeli membuat pagi kami sibuk oleh suara kertas yang dibolak-balik mengganti halaman. Nahla pun sibuk oleh mainan kolecer awi-nya. Sementara saya sendiri akhirnya harus bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Pagi ini omelan saya terhadap suami cukup berkurang, karena yang dipegang bukan gawai melainkan koran. wkwk. Memang beda kan cool-nya orang pegang koran atau buku dibanding pegang gawai. Iya nggak?

Selain koran lokal, ternyata suami membeli Jawa Pos dan Kompas juga. Kali ini dengan niat untuk detox digital d akhir pekan, saya pun mencoba untuk membaca tiap lembarnya tanpa diskip.

Setelah seringnya membaca berita lewat media digital, membawa koran rasanya butuh fokus lebih. Ah iya, tidak ada distraksi ya. Jadi memang kita diminta untuk fokus membaca saja. Saat membaca tulisan Eka Kurniawan, saya mencoba cerna susunan kalimatnya berulang-ulang.

Memang tulisan biasanya dipengaruhi oleh apa yang kita baca ya. Tapi, baru kali ini saya menyadari bahwa memahami tulisan yang berkualitas itu butuh mencerna lebih. Sebagai orang yang sedang menggeluti dunia blog yang nggak jauh dari tulis menulis juga, saya merasa membaca dan menulis masih sekadarnya saha. Belum pada tahapan menulis mengikuti gaya penulis si A, si B, dan lainnya.

mengisi teka teki silang dari koran akhir pekan
Kapan terakhir kali mengisi Teka Teki Silang?

Setelah jenuh membaca koran, and surprisingly karena ini koran weekend, suka ada hiburan. Tahu nggak, saya mengisi TekaTeki Silang alias TTS lagi donk setelah sekain lama.

Ini adalah jawaban TTS yang saya dan suami isi tanpa membuka gawai sama sekali. Oh, God. Beneran tangan rasanya gatal banget ingin buka google karena ternyata banyak yang nggak tahu. Pengetahuanku diasah sama TTS aja masih kelabakan nih. huhu

Begitulah cerita akhir pekan kami. Akhir pekan teman-teman gimana nih? yuk cerita di kolom komentar.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

2 Replies to “Malioboro dan Koran di Akhir Pekan”

  1. Ya ampun TTS hahahahah, hobiku dulu itu :p. Udah lama banget ga ngisi ini. Kalo dulu sampe beli bukunya yg khusus TTS semua itu mba :D. Utk ngisi waktu hahahahah

    Baca bagian yg ttg mobil laskar sedekah membagikan nasi bungkus, adem rasanya. Masih banyak org yg peduli :). Kalopun ada 2 orang yg mendokumentasikan di belakang si bapak, buatku mereka hanya ingin membuktikan kepada para donatur bahwa uangnya bener2 disalurkan utk membeli nasi bungkus. Krn akupun join dengan komunitas begini, dan memang slalu ada foto2 kegiatan selama bagi2 nasi. At least aku jd yakin uangku beneran dipakai utk yg berguna gini :D.

    Aku jujur udh ga baca koran sih mba. Digital semuanya. Tp sedih loh tiap liat penjual koran di JKT, nawarin koran di lampu merah tp ga ada yg beli terkadang :(. Org2 semua udh beralih ke digital. Kalopun sesekali aku beli, itu bukan Krn mau baca, tp membantu si penjual. Semoga yaa rezeki mereka selalu ada

    1. Wkwkw, ayo mba coba beli dan isi TTS lagi. Seru deh.. Nyoba ngisi tanpa tanya google itu tantangan banget ternyata.

      Iya ya mbak. Salah satu sisi baiknya gitu. Kemarin ku lihat ada banyak banget nasinya. Dan minumnya pun pake aqua ukuran sedang bukan gelas lagi. Semoga menjadi amal jariyah yaa

      Emang beneran yaa digitalisasi bikin bnyk hal hampir punah seperti koran cetak ini. Aku kalau tiap pagi lewat kantor KR suka senang kalau ternyata mereka masih ramai dan laris manis. Meski nggak sering ngelarisi tp ternyata masih ada pelanggan bulanan mereka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *