Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Mendorong Pemerintah Untuk Mewujudkan Zero Waste Cities

7 min read

mendorong pemerintah mewujudkan zero waste cities

Melalui tulisan ini, saya ingin mendorong pemerintah dan teman-teman pembaca untuk mewujudkan zero waste cities. Sampah menjadi issue perkotaan yang tak kunjung habis. Perpindahan penduduk ke perkotaan yang semakin banyak, jumlah produksi makanan yang terus meningkat serta lahan yang semakin menyempit menjadikan sampah sebagai permasalahan krusial yang perlu pengelolaan optimal.

Menelaah Sampah Perkotaan Lebih Dalam

Sampah perkotaan menjadi isu yang akan muncul menjadi trending topic ketika banjir mulai terjadi di mana-mana. Namun segala pemberitaan dan upaya untuk mengelola sampah tiba-tiba senyap ketika banjir usai atau pemogokan lahan sampah berhenti. Kota tetap menjadi ramai kembali, kegiatan di berbagai pusat keramaian tetapi hiruk pikuk, dan semakin banyak sampah, namun semakin sedikit lahan.

Sampah yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari masih belum dianggap suatu hal krusial dan memerlukan perhatian penuh. Dengan hanya membakar sampah atau mengumpulkan sampah lalu membuangnya ke tempat sampah dianggap urusan sampah selesai.

Baca juga : Selangkah Menuju Zero Waste

Menikmati hidup di perkotaan, membuat saya melihat kegiatan persampahan secara langsung. Ketika saya memilih untuk membuang sampah langsung ke Tempat penampungan Sementara (TPS), tanpa membayar petugas sampah, ada banyak kenyataan pahit dan ketidakjelasan pikiran yang muncul dalam benak saya.

Fakta pengolahan sampah perkotaan

Tinggal di kota memang memberikan banyak kemudahan, sehingga tidak dipungkiri ada banyak orang ingin pindah ke kota. Namun untuk urusan persampahan, ternyata lain ceritanya. Semakin banyak pabrik, toko makanan, dan pusat perbelanjaan menyumbang sampah yang tidak sedikit pula. 

Saya sendiri memutuskan untuk membuang sampah langsung ke tempat sampah, bukan lewat petugas sampah. Saya upayakan buang sampah hanya seminggu sekali. Dengan target tersebut, berarti saya perlu mengupayakan untuk sedikit mungkin menghasilkan sampah rumah tangga.

Baca juga : Kontemplasi Menutup Tahun Sampah dan Makanan

Sekitar dua bulan yang lalu, ketika saya ke pasar, saya menemukan gunungan sampah di sana. Melewatinya gunungan tersebut saja saya tidak kuat, bagaimana dengan para penjual yang menjajakan makanan dan produk olahan di sana ya? Usut punya usut, ketika saya membeli koran, ternyata koran lokal memberitakan sebuah headline tentang penolakan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang dilakukan oleh warga Piyungan.

sampah penuh di piyungan

Kejadian ini sudah berulang sekian kali. Beberapa fakta menjadi pendukung menumpuknya sampah tersebut, seperti :

1. Pengelolaan sampah masih menerapkan end of pipe 

Pengelolaan ini menjadi langkah yang banyak digunakan dalam pengelolaan sampah. Kita mengumpulkan sampah, mencampurnya dalam satu wadah, dan kemudian membuangnya ke TPS.

Meski terlihat sederhana dan rasanya semua baik-baik saja. Namun permasalahan sampah kota justru bermula dari sini. Di tempat kita memang sampah sudah bersih, namun di TPS sampah menumpuk setiap hari akan menjadikannya semakin menggunung. Faktanya seperti yang terjadi, sampah hanya berpindah dari rumah, TPS lalu berakhir di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST), dan menjadi gunungan sampah yang bisa menjadi bom waktu di kemudian hari.

2. Lahan TPSP yang terbatas

Mencari tempat pembuangan sampah tidaklah mudah. Selain perlunya persetujuan dari para warga, mencari lahan yang luas juga memerlukan uang yang tidak sedikit. Oleh karena itu, jadilah TPSP yang sudah ada terus menerus digunakan hingga menggunung.

3. Sampah harian berjumlah banyak

250 ton sampah yang dihasilkan masyarakat kota Yogyakarta setiap harinya tentu hal jumlah yang besar sekali. jumlah sampah di perkotaan ini berasal dari perkantoran, mall, sekolah, pasar, pertamanan, dan sampah rumah tangga. Perkembangan yang muncul ini masih tidak sejalan dengan pengelolaan sampahnya yang masih menerapkan sistem hilir.

4. Lemahnya posisi tawar pemulung

Sampah bisa menjadi bisnis, pernyataan memang benar adanya. Namun fakta lapangan menunjukkan posisi tawar dari pemulung sebagai orang pertama yang mengumpulkan sampah hanya mendapatkan keuntungan yang sangat rendah. 

5. Tidak ada pemilahan sampah

Kebiasaan dengan hanya mengumpulkan sampah dan membuangnya ke tempat sampah telah menjadi kebiasaan buruk yang perlu diubah. Sampah perlu dipilah berdasarkan jenis untuk mengurangi bahaya sampah pada lingkungan dan kesehatan kita.

6. Kurangnya dukungan pemerintah dan masyarakat

Meski sudah ada peraturan tentang sampah, yaitu Undang-Undang nomor 18 tahun 2008 dan juga peraturan pemerintah kota Yogyakarta Nomor 67 tahun 2018 tentang Kebijakan dan Strategi Kota Yogyakarta dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah tangga, Namun Pengelolaannya belum berjalan secara terpadu. 

Masyarakat sendiri masih banyak yang membuang sampah sembarangan, mencari-cari tempat buat buang sampah karena TPS kejauhan, sampah makanan juga masih menjadi jumlah yang signifikan, serta sampah plastik yang semakin menggunung.

Menimbang Bahaya Sampah Kita

Dulu, orang tua melarang kita untuk membuang sampah sembarang, makanya buanglah sampah pada tempatnya. Namun kini, istilah tersebut harus diperluas lagi pemahamannya, membuang sampah tidak hanya selesai di tempat sampah saja. Kita juga perlu memahamkan bahwa membuang sampah pada tempatnya saja tidak cukup, karena bahaya sampah itu bahkan masih akan muncul ketika menaruh sampah pada tempatnya.

bahaya buang sampah sembarangan

Macam-macam sampah ada banyak, seperti sampah organik, sampah medis, sampah plastik, sampah bahan berbahaya dan beracun (B3), sampah elektronik dan lainnya. Masing-masing sampah tersebut seharusnya mendapatkan pengelolaan sampah yang baik.

Indonesia sendiri merupakan negara jumlah sampah plastik kedua terbanyak dan pertama terbanyak untuk sampah  plastik. Namun saat ini bahkan sampah medis juga menjadi memicu banyak masalah juga. Sampah-sampah tersebut perlu dikelola dengan baik, karena jika sembarangan maupun mencampur semua sampah, akan mengakibatkan  banjir, longsor, pemanasan global, pencairan es di kutub, dan masih banyak akibat lainnya. 

Bahaya Sampah bagi kesehatan

Sampah organik yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan penyakit yang dibawa oleh vektor nyamuk (vektor borne disease) dan tikus (rondent borne disease). Jika limbah mengenai tanah dapat meningkatkan resiko soil borne disease, jika kena udara meningkatkan air borne disease.

Selain sampah organik, juga ada beberapa sampah yang menimbulkan masalah, seperti timbal (dari sampah elektronik), dioxin (pembakaran sampah), hexachlorobenze (bau busuk sampah) petro polymers (sampah plastik) dan arsenik (dari sampah elektronik juga). 

Apa yang akan terjadi: cacingan, udara kotor, sesak, asma, paru-paru, dan kanker dan gangguan syarat. Penyakit tersebut tentu mengancam kesehatan masyarakat.

Sampah berbahaya bagi lingkungan

Sampah plastik yang kita buang menjadi ancaman bagi biota laut. Sampah tersebut berbentuk mikroplastik, Bahkan sampah yang berasal dari limbah cair perusahaan akan lebih memperparah keadaan ini. Hasilnya adalah mikroplastik yang bisa jadi mengalir ke air dan menjadi bahan konsumsi makhluk laut dan juga manusia.

Bau sampah pun tak kalah berbahaya, dengan bau tersebut kualitas udara akan memburuk, hewan-hewan membawa kotoran dan penyakit pada manusia seperti yang sudah disebut di atas. Tanah juga mampu menjadi agen penyebab penyakit melalui banjir, tiupan angin kencang dan atau pengangkutan tanah dari daerah endemik dan daerah lainnya.

Belajar Kelola Sampah dari Tragedi Leuwigajah

Kemarin saya diingatkan kembali tentang peristiwa Leuwigajah yang sudah menewaskan lebih dari 150 warga pada tanggal 21 Februari 2005 silam. Situasinya mungkin persis seperti belakangan ini. Hujan hampir setiap hari, dan sampah semakin menggunung tak terkendali. Namun naasnya, pukul dua dini hari di saat orang-orang terlelap saat itu, Leuwigajah meluluhlantakkan dirinya dengan menjadikan tanahnya longsor.

Peristiwa longsor di Leuwigajah ini merupakan peristiwa longsor kedua terbesar setelah peristiwa di TPA Payatas, Quenzon City, Filipina pada tahun 2000. Penyebab utama terjadinya longsor tersebut adalah tidak adanya pemisahan sampah organik dan non organik serta pembuangan sampah yang hanya dilakukan di hilir.

Kini, kita memperingati peristiwa tersebut sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Selain memperingatinya, tentunya kita juga perlu melakukan sikap yang lebih peduli pada alam. Beruntungnya saat ini sudah ada banyak sekali gerakan yang mengajak masyarakat untuk lebih peduli pada sampah, baik secara individu maupun secara komunal.

Langkah-Langkah Pengurangan Sampah

1. Habiskan Makananmu

Dengan menghabiskan makanan, kita setidaknya sudah bisa mengurangI jumlah waste food yang dihasilkan. Selain mubazir, menghabiskan makanan berarti kita sudah mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan. Di luar sana masih ada banyak orang-orang yang susah bahkan untuk sesuap nasi pun.

2. Pakai Sampai Habis

Pakai sampai habis biasanya diterapkan pada penggunaan produk kecantikan, sabun, sampo, dan sejenisnya. Produk tersebut selain beberapa ada yang mengandung microbeads yang tidak baik untuk kesehatan juga tentunya memakai sampai habis berarti kita bijak pada apa yang sudah kita beli.

3. Gaya hidup minim plastik

Kita memang tidak bisa lepas sepenuhnya dari plastik, karena plastik itu sendiri memberi manfaat (seperti untuk wadah makanan) selain tentunya berbahaya untuk lingkungan (menjadi konsumsi biota laut dan susah terurai). Meminimalisir sampah plastik bisa kita lakukan dengan cara membawa kantong belanja sendiri dan berbelanja dengan menghasilkan sedikit mungkin sampah plastik. 

4. Pembuatan biopori

Biopori adalah lubang yang dibuat ke dalam tanah, nanti kita akan mengisi lubang tersebut dengan sampah organik. Fungsi dari biopori ini adalah sebagai makanan untuk makhluk hidup yang ada di tanah, mencegah banjir serta mempengaruhi jumlah air tanah yang semakin meningkat.

5. Pengomposan sampah

Mengompos sampah menggunakan sampah organik yang sudah kita pisahkan sebelumnya. Hasil dari pengomposan ini bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman serta lebih ramah lingkungan.

Pengomposan di Neglasari, Bandung

6. Lakukan 5R (reuse, reduce, refuse, rehome, dan recycle)

Dalam memilih sesuatu, kita harus memikirkannya dengan matang. jika kita bisa menolak (refuse) karena tidak butuh maka tolaklah. Bisa juga jika kita mengurangi (reduce) barang-barang yang sudah penuh dan didonasikan kepada orang lain (rehome). Jika barang tersebut masih bisa dipakai (reuse) kita menggunakannya kembali. Selain itu bisa kita melakukan daur ulang (recycle).

7. Zero Waste Cities

Untuk menghasilkan penanganan sampah yang lebih optimal tentunya membutuhkan kerja sama banyak orang. Kegiatan pengolahan sampah kawasan (zero waste cities) bisa menjadi sarana yang lebih optimal. Peran kewilayahan dalam pengelolaan sampah ini terbukti efektif dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap sampah.

YPBB dan Program Pengolahan Sampah Zero Waste Cities

pemilahan sampah langsung dari warga
Pengumpulan sampah yang sudah dipilah warga Lebakgede, Bandung

YPBB Bandung telah menjadi organisasi non-profit dan non-pemerintah yang telah ada sejak 1993. Dedikasi yang tinggi untuk membantu masyarakat mencapai kualitas hidup yang tinggi serta berkelanjutan ikut mendampingi kegiatan pemulihan Leuwigajah hingga kini terus menyatakan gerakan zero waste. Bahkan kini, turut menginisiasi sebuah gerakan komunal dengan basis pengelolaan sampah kawasan atau Zero Waste Cities.

Gerakan pengelolaan sampah kawasan terinspirasi dari gerakan Mother Earth Foundation (MEF) lembaga nirlaba dari Filipina yang sudah berhasil mewujudkan pengelolaan sampah dengan prinsip Sustainable Solid Waste Management pada 244 kelurahan dari 4 kota besar dan 15 kota kecil di Philipina. 

Program yang sudah berjalan dan sudah berhasil melaksanakan Zero waste cities oleh YPBB antara lain : Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta. Sementara pendampingan yang bekerjasama dengan kolaborator adalah Bali (PPLH Bali) dan Gresik (Ecoton).

Bagaimana Cara Pengelolaan Sampah Berbasis Kawasan?

Pengelolaan sampah kawasan adalah pengelolaan sampah yang dapat melayani ratusan keluarga yang dilakukan di dekat sumber sampah dan melibatkan warga setempat. 

Pengelolaan sampah zero waste cities ini fokusnya adalah mengurangi sampah yang dibuang ke TPS, sungai, dan laut. Caranya adalah dengan :

1. Edukasi door to door

Petugas dari YPBB mendatangi warga dari rumah ke rumah dan memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah dengan baik. Kerja sama dari warga memang membutuhkan keuletan, namun beruntungnya respon masyarakat berangsur-angsur mulai membaik.

2. Melakukan ketaatan pemilahan sampah

Pemilahan sampah sudah harus dilakukan mulai dari rumah. Jadi ketika petugas sampah datang, sampah sudah dipilah menjadi dua tempat. Dengan demikian, beban bawaan sampah berkurang dan beban petugas sampah untuk memilah pun berkurang.

3. Pengurangan sampah yang dibuang ke TPS

Dengan pemilahan yang sudah dilakukan sejak dari rumah warga, maka beban sampah yang dibawa petugas diharapkan akan berkurang. Sampah organik dikumpulkan di tempat pengomposan khusus kawasan, sementara sampah yang bisa diolah.

4. Meningkatkan kualitas hidup petugas sampah

Pemilahan sampah yang sudah dilakukan sedari di rumah ternyata memberikan efek bagus terhadap petugas sampah. Selain jumlah sampah berkurang, sampah yang sudah dipilah juga memberikan kualitas hidup petugas sampah lebih baik karena berarti tidak menghirup kembali zat metana yang dihasilkan dari sampah yang biasanya tercampur.

Mendorong Pemerintah Yogyakarta untuk menerapkan Zero Waste Cities

Meski pemerintah sudah membuat target pengurangan sampah sampai 30% hingga tahun 2025, target tersebut tidak akan tercapai jika tidak ada perubahan pola pikir kita terhadap sampah itu sendiri. 

Melalui tulisan ini, saya mendorong sekaligus memberi solusi untuk pengelolaan sampah yang lebih terpadu. Perluasan wilayah TPST seperti yang dipaparkan oleh pihak pemerintah Kota Yogyakarta tidak akan bisa mengurangi jumlah sampah yang bertambah. Jika konsepnya demikian, kita hanya memindahkan tempat sampah semata.

Dengan konsep zero waste cities ini, pemerintah hanya perlu mengeluarkan uang dan menyisihkan waktunya untuk lebih fokus melakukan sosialisasi dan kerja nyata dengan lebih memaksimalkan warga serta lebih memanusiakan para petugas sampah.

Sampah bukanlah sekadar sampah. Ia ada karena perbuatan kita, maka kita perlu bertanggung jawab dengan cara mengelola sampah yang berwawasan lingkungan demi bumi yang kita cintai.

Sumber :

  • ypbb.blogspot.com
  • mongabay.com
  • theconversation.com
  • tirto.com
  • medium.com

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

27 Replies to “Mendorong Pemerintah Untuk Mewujudkan Zero Waste Cities”

  1. andai pemerintah itu tahu dan paham mengenai bahayaa sampah, saya yakin sih mbak kolaborasinya akan sangat lebih mudah. Semoga zero waste cities tidak hanya di Jogja, tapi juga di kota-kota lain seperti purwodadi

  2. Saya sudah pernah baca nih tentang Zero Waste di blog lain, semoga dengan adanya Zero Waste ini semakin berguna dan bermanfaat untuk memulihkan lingkungan agar terlihat menjadi bersih

  3. the most important things, we can start from ourself.. kelola sampah rumah tangga terlebih dahulu agar terbiasa dikemudian hari dan secara tidak langsung kita sudah ikut berpartispasi dalam kelola sampah zero waste cities di kota kita masing-masing

  4. kalau di negara lain, program ini ud berjalan lama. Di Indonesia, semoga bisa konsisten, aplg issue soal lingkungan, yg kadang menuai kontroversi ya

  5. Waduh, sebagai anak kost yang kalau mandi, shampoo / sabun mau habis, botolnya dicampur air dulu sampai benar-benar habis, berarti sudah ikut serta dalam zero waste cities. Asyik.

  6. setuju banget mbak Ghina,

    soal sampah harus dimulai dari diri kita

    dengan 3 M nya Aa Gym, mulai dari diri kita, mulai hari ini dan mulai …… duh apa satu lagi hahhaha

    sukses terus ya

  7. Saya setuju dengan meningkatkan kualitas hidup para petugas sampah. Tanpa mereka, bagaimana jadinya lingkungan dan tempat kita tinggal ini. Pastinya kotor dan bau… Mereka pahlawan kita sebenarnya…

    1. iyaa teh. Mereka berjasa banget dalam membantu pengelolaan sampah, jika pemerintah ingin lebih peduli, cara zero waste cities bisa jadi solusinya padahal yaa

  8. Beberapa kali baca artikel Zero Waste, makin tertarik dengan gaya hidup seperti ini. Bukan hanya trend sesaat tapi selain merasa keren dengan gaya hidup ini makin merasa bermanfaat buat lingkungan dan bumi kita.

  9. tidak mudah yang kurasakan untuk memilah sampah hidup di perkotaan mbak. aku sudah mulai memilah dari beberapa tahun lalu, tapi sayangnya pengangkutan di sini masih disatukan semua. zwc ini memang menjadi gambaran untuk pemerintah menstimulasi regulasi terkait pengolahan sampah. karena kesadaran masyarakat teh kurang kuat kalau ga ada regulasinya huhu

  10. Kalau aku hidup di kampung mbak. Jadi nggak ada yang ngambilin sampah. Jadi sampah harus benar-benar diolah sendiri. Salah satunya dengan memisahkan organik untuk diolah jadi kompos. Sampah plastik di bakar. Dan botol-botol dikumpulkan untuk pemulung.

  11. Setuju nih, seharusnya di setiap pemukiman dan lingkungan warga, ada unit pengolahan sampah, jadi mendaur ulang dan memanfaatkan kembali sampah yang bisa diolah menjadi kompos atau energi dari sampah atau kerajinan berdaya jual dari barang bekas

  12. Hal sederhana untuk zero waste bisa kita terapkan seperti mendaur ulang kembali botol/tempat bekas sabun mandi ya kak. Kita tinggal beli yang sachet aja. Aku baru sebatas itu sih,semoga hal kecil ini bisa konsisten dan berkelanjutan.

  13. Setuju semua deh sama langkah-langkah pengelolaan sampah yang diulas dalam artikel ini. Apalagi, kita baru memperingati Hari Peduli Sampah Nasional kemarin. Semoga makin banyak warga kota yang sadar terkait masalah sampah ini ya*

  14. Tentang sampah ini yang menurut aku masih kurang dari pemerintah. Baik itu dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Di tempat ku tinggal saja, banyak sekali lahan-lahan kosong, tanah di pinggir jalan yang seharusnya tidak menjadi tempat pembuangan sampah malah sekrang sudah menumpuk sampah-sampah

    1. kepedulian masyarakat terhadap sampah ini memang masih belum tinggi ya. aku juga suka nemu kak lahan kosong malah dipake buat tempat sampah. Perlu integrasi yang bagus memang biar terlaksana dengan baik ya

  15. Diet plastik masih susah nih aku jalanin. Sering kelupaan bawa goodie bag. Hadeeeh.. Semoga aku bisa menjadi salah satu warga yg melakukan zero waste dgn maksimal.

  16. 5 R ini tentu penting banget disosialisasikan ke masyarakat Krn akan sangat berpengaruh signifikan ya kalau banyak yg menerapkannya..

  17. masalah sampah memang gak bisa dibiarkan dan gak mudah juga ya 🙂 perlu kerjasama semua pihak biar berhasil 🙂 kini udh banyak inovasi untuk mengolah sampah kembali, kereen 🙂

    1. bener banget ya mbak. semoga dengan kita banyak yang koar-koar tentang pengelolaan sampah ini bisa mengetuk banyak pihak untuk lebih peduli pada kelola sampah. Tentunya kita juga harus ikut menggerakan, dimulai dari diri sendiri dulu.

  18. Masalah sampah ini perlu kerjasama dari berbagai pihak. Pemerintah ngga bisa kerja sendiri.
    Saya salut dengan Bali yang melarang pemakaian kantong plastik. Bila ketahuan akan didenda. Dan semua tempat disana taat aturan tersebut.

    Kalaupun harus pakai kantong plastik, adanya kantong yang bisa didaur ulang.

    1. Iya, sekarang udah banyak juga yang membuat plastik biodegradable. Tapi ternyata, ketika plastik biodegradable tercampur dengan sampah anorganik ternyata hasilnya berbahaya juga buat lingkungan. Jadi yang perlu diperhatikan justru setelah sampah itu terkumpul lalu diapakan? begitu kira2 mbak

  19. Selamat mbak, udah meraih juara 2 ya!
    Saya juga sepemikiran dengan mbak. Thank God ternyata ada banyak yang berpikiran bahwa harus ada perubahan perilaku terhadap sampah! Saya udah capek dibuatnya karena seolah-olah beban sampah itu hanya beban konsumen semata. Sedangkan konsumen kan mana bisa buat sampah plastik?! Produsen juga harusnya ambil andil lebih besar karena sumber sampah plastik itu dari produsen. Saya sendiri tinggal di desa mbak, dan di desa juga miris kok keadaan penanganan sampahnya. Keuntungan yang bisa saya manfaatkan dari tinggal di desa adalah, saya bikin 2 bak kompos raksasa untuk sampah organik saya. Sampah plastik saya pisahkan. Selama ini udah berusaha dibuat eco-brick ukuran 1,5 L dan udah terkumpul lumayan, nggak tau juga harus diapain. Karena kalau mau dipakai jadi pagar buat bedeng kebun kecil di pekarangan takut juga dimakan cuaca dan isinya terburai… yah jadi tebar sampah dong. Capek mikirinnya banget!

    Maka saya pun yang hanya orang biasa ngapain juga mikir keras-keras, kalau saya punya wewenang akan saya prioritaskan masalah persampahan ini! Karena masalah serius memang harus ditangani dengan serius lah oleh pihak yang memegang wewenang. Saya lakukan saja apa yang saya bisa untuk mengurangi sampah sementara ini…. sambil sedikit-sedikit ikut kampanye, dan nulis juga uneg-uneg saya seperti tulisan yang mbak buat ini. Saya berharap pemerintah dan korporasi besar (penyumbang sampah plastik) ambil tanggung jawab mereka untuk mengatasi permasalah sampah ini. Terapkan regulasi yang jelas mengenai pemilahan sampah dari skala rumah tangga. Dari hulu. Lalu korporasi besar juga harus kasi solusi atas hasil sampingan yang ditimbulkan oleh produk berplastiknya.

    1. Sebenarnya mbak intan, pas aku nulis ini aku juga kepikiran tentang keadaan di kampung yang juga sama mirisnya dengan di kota. kemarin saat aku seminar, ternyata pembakaran sampah juga tidak diperbolehkan lho, karena memiliki dampak buruk juga pada alam. sayangnya, di masyarakat desa malah aku sering banget ngedapetin orang2 tiap sore atau pagi habis2 menyapu halaman rumah terus langsung bakar sampahnya.

      Fokusnya bukan di desa atau kota sih, tapi lebih pada manusianya itu sendiri. Makanya, ketika ku tulis buang sampah pada tempatnya saja itu tidak cukup. Kerasa banget, aku nulis sendiri, terngiang2 mulu malah tulisan tersebut dalam benakku.

      Benar sekali mbak, aku juga selama ini udah pilah samph. Belum bisa bikin kompos karena keadaan rumah belum memungkinkan, sedih karena ujugn2nya harus kecampur lagi sama tumpukan sampah di TPS. Karena itu, lagi berupaya banget biar sampahnya bisa seminimal mungkin. Seperti hanya buang seminggu sekali. Makanya pengen banget tulisan ini kebaca sama pemerintah dan berbagai pihak terkait ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *