Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Kontemplasi Waktu Maghrib

3 min read

kontemplasi waktu maghrib

Tiga hari yang lalu, tetiba Nahla ingin sekali dibelikan bando. Kami pun coba mencarinya sore-sore. Lumayan, jadi saya tidak perlu masak sore itu. Perjalanan sore itu berakhir sampai pukul delapan malam. Suasana sepanjang jalan saat maghrib penuh kegelisahan dalam benak saya.


Seusai membeli bando, kami merencakan untuk makan malam di sebuah warung makan. Tepat sekali, kami sampai di sana saat maghrib menjelang. Suasana warung makan tersebut cukup sepi. Mungkin karena baru buka.

Sesaat setelah kami datang, barulah bermunculan para pendatang yang hendak membeli makan juga. Ada tiga kelompok. Kursi seberang depan kami ada satu keluarga. Kursi samping kami seorang pemuda sendirian, kursi depan kami sepasang suami istri, dan kursi belakang kami seorang ibu yang sudah sepuh dengan anaknya. Jarak kami cukup jauh. Warung yang suasananya remang-remang ini membuat kami sungkan untuk membuat kegaduhan.

Ini bukanlah warung makan yang megah. Meski menunya banyak yang disajikan dengan model all you can eat. Kami bertiga dengan porsi yang banyak-banyak dengan lauk ikan dan ayam serta sepaket teh bersama dengan cerek yang disajikan gula batu totalnya hanya habis lima puluh ribuan.

Suasana makan di sana sepi. Entah karena maghrib atau memang kalau di lantai bawah biasanya sepi ya. Dulu pas saya ke sana beberapa kali seringnya di lantai atas, dan seringnya ramai oleh rombongan anak muda. Tapi tempat ini memang enaknya untuk ngobrol lama. Nongkrong.

Baca juga :

Kali ini saya merasa perlu sedikit terburu-buru saat makan. Waktu maghrib sangat pendek. Sementara saya merasa kurang nyaman untuk di warung sini. Karena jarak ke rumah tidak begitu jauh, mungkin nanti akan sholat di rumah, pikir saya.

Di tengah obrolan, tiba-tiba saya menawarkan bahwa teman yang jualan pisang coklat mulai buka lagi. Jualannya di dekat kampus UAD. Lumayan jauh dari warung makan itu sebenarnya.

Tak dinyana, suami malah menawarkan untuk ke sana. Itu artinya kami memang akan sholat maghrib di luar.

Segeralah kami bergegas menyudahi makan malam. Sepanjang jalan sengaja pelan sembari mata mencari-cari masjid atau mushola. Kagetnya saat lewat alun-alun selatan, ramianya bukan main. Padahal ini maghrib lho.

Suami membawa motor dan masuk ke gang sempit. Melewati gang sempit berarti melewati rumah-rumah penduduk. Yup, hidup di kota yang seringkali terlihat hanya lewat jalanan besar. Tentu beda sekali suasananya jika masuk ke lorong dan gang sempit. Kehidupan nyata masyarakat akan terlihat di sana.

Akhirnya, kami sampailah di sebuah masjid yang ternyata tempatnya agak dalam.

Ada segerombolan anak-anak yang sedang bermain. Anak-anak itu berusia sekitar tujuh tahunan. Mereka ramai berlarian. Sudah lepas mukena dan sarungnya.

Sementara itu, ketika saya hendak berwudlu, terdengar suara orang sedang membaca Al Fatihah. Anak-anak ini lebih besar, usianya sekitar lima belas tahunan. Sayangnya, mereka mengaji tanpa memegang Quran, tanpa memakai kopiah dan mengaji lebih seperti latihan nyanyi semata.

Melihat keadaan yang kontras tersebut membuat pikiran saya mundur pada masa-masa saya kecil dulu. Bagi saya, sampai saat ini, maghrib adalah waktu yang sakral dan harus dihadapi dengan sakral.


Orang tua saya dulu memaknai maghrib sebagai waktu yang sakral. Jelang maghrib, kita harus berpakaian rapi. Yang laki-laki sudah mengenakan sarung, kopiah dan baju koko atau baju panjang. Sementara perempuan sudah menggunakan baju panjang dan menyiapkan mukena ya. Pertanda kami siap menyambut maghrib.

Anak-anak keluar rumah hanya untuk sholat ke mushola atau masjid. Selain itu tidak boleh. Habis maghrib itu adalah waktunya mengaji, waktunya berkumpul bersama keluarga. Bukan bermain di luaran.

Seusai maghrib akhirnya menjadi sebuah kebiasaan, langsung bergegas mengambil Quran atau iqro dan sebisa mungkin mengaji walau hanya satu halaman. Setelah mengaji, baru boleh melakukan kegiatan lainnya. Tapi kalau bisa nggak perlu keluar rumah dulu.

Hal tersebut masih saya praktikkan dalam pengasuhan saya. Ba’da Maghrib adalah family time. Saatnya komunikasi antar anggota keluarga dirajut. Setelah mengaji, lanjut makan malam dan bercengkrama.

Kesan dalam perjalanan kali ini membuat bathin saya beradu. Tiba-tiba saya menyalahkan keadaan tersebut. Namun di sisi lain, pikiran lain saya menyatakan bahwa zaman memang sudah berubah. Tak selalu apa yang yang terjadi di masa lalu masih dipraktikkan saat ini. Tak selalu juga apa yang saya lihat sama seperti yang saya pikirkan.

Peraduan ini tentu saja tak ada hasilnya. Mencoba melihat kondisi saat ini dan kondisi keluarga sendiri, kembali lagi, semua perlu disesuaikan dengan kemauan dan keadaan pribadi.

Beberapa hal tiba-tiba saya syukuri. Kemauan, kemampuan dan kesempatan itu privilege.

Anak-anak keluar bermain itu bisa jadi karena orang tua membiarkan, orang tua masih sibuk di luar, atau keadaan lain yang tidak kita ketahui. Jika kita bisa menciptakan maghrib sebagai waktu nyaman untuk seluruh anggota keluarga tinggal di rumah dan meramaikannya dengan alunan ayat, maka sebaiknya kita mengusahakan sebisa mungkin.

Anak-anak keluar rumah untuk mencari guru ngaji bisa jadi karena orang tua di rumah tidak mampu mengajarkan ngaji, atau tidak ada waktu untuk mengajarkan karena kesibukan lainnya. Jika kita bisa, maka sebaiknya kita bisa menyempatkan waktu dan menjadikan waktu tersebut sebagai sebuah rutinitas.

Jika ada kesempatan untuk menciptakan suasana maghrib menjadi waktu untuk family time, maka sebaiknya usahakan, sempatkan walau hanya sepersekian menit. Mengaji bersama, lanjut dengan family time, saling berkomunikasi, saling bercengkrama itu mahal saat fokus kita lebih senang untuk menghadap gawai.

Terakhir, membaca Al Quran pun menjadi media kita berkomunikasi dengan Tuhan selain sholat. Kenapa tidak kita mempersiapkan diri dengan merias diri sebaik mungkin? Gunakan kopiah, sarung suci dan baju suci berlengan panjang. Gunakan mukena atau kerudung untuk menutup aurat saat menghadapNya. Terlebih kita membaca ayat-ayatNya, bukanlah lebih tepat jika kita bersanding langsung dengan kitabNya?!

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

One Reply to “Kontemplasi Waktu Maghrib”

  1. Sepakat.. Aku juga sejak dulu, hingga kadang-kadang ketika kuliah. Menganggpa wktu maghrib adalah waktu yang sangat sakral. Diisi dengan ibadah. Sehabis shalat kadang mengaji, membaca al-Quran kah, atau menghadiri penngajian kah, dan sebagainya. Sekarang, sudah tidak bisa (bisa, tetapi agak sulit). Aku sekarang pulang dari kantor jam setengah 6. Dan waktu maghrib di sini sekira 17.45. BAru 15 menit di jalan, waktu maghrib sudah masuk hahaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!