Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Ibu Perlu Belajar Tentang Hidup Sadar Diri

3 min read

kesadaran diri bagi ibu

Melihat si ibu yang memposting keberhasilan anaknya, saat diri sedang cukup waras, kadang saya ingin ikutan juga. Tapi ketika hati sedang diselimuti oleh ketidakwarasan, penyakit hati yang menggila, haduh bisa deh itu perasaan saya jadi iri, insecure, dan merasa tidak menjadi ibu yang berhasil. Ada yang merasakan hal begitu juga kah?

Biasanya diri merasa seperti remahan rengginang dan insecure itu kebanyakan datang dari faktor luar. Seperti gara-gara cerita di atas. Ya, salahnya sendiri kan main instagram terus bukan akunnya si ibunya. Haha. 

Itu faktor luar yang sebenarnya bisa kita kendalikan, lho.

Baca juga : Reset Life, Pentingnya Mengatur Ulang Hidup

Namun dalam perjalanannya, perasaan merasa benar-benar terpuruk, insecure, merasa tak berguna, dan semua serba salah ini valid, kok. Boleh kita merasakannya. Asalkan tidak berlarut-larut saja. 

Untuk melawan kondisi tersebut, ada orang-orang yang merasa terpacu untuk lebih maju, lebih baik, tapi ada juga orang yang merasa memang ma(mp)unya segitu, ya sudahlah biarkan orang lain saja yang di atas. 

Nah, kondisi ini jadi mengingatkan saya pada emoticon yang muncul di pesan whatsapp. Orang-orang mencoba memaklumi dan mengiyakan kondisinya karena memang kita tidak kuasa, belum mau, tidak mampu, dan merasa cukup. 

Tetap putus asa, jangan semangat.

Kadang suka kesal, karena itu tentu saja tidak sepenuhnya benar. Nggak denk, itu emang nggak benar, kok. Itu hanya dipakai oleh kita yang butuh pembelaan dan pemakluman saja atas kondisi kita yang sedang terpuruk.

Kita mengelus-elus diri, mengiyakan pepatah tersebut karena kondisinya memang sedang di titik rendah.

Eh, maaf. Itu rendah hati apa rendah diri ya?

Ibu Perlu Mengupayakan Sadar Diri

Seusai melihat postingan seseibu yang kemudian saya terbawa perasaan lalu saya merasa insecure, saya lalu menutup tab instagram tersebut. Oke, kondisi saya sedang tidak stabil. Lagi kumat penyakit hatinya, nih.

Dengan alibi untuk menyibukkan diri di dunia nyata. Nyatanya saya malah terngiang oleh postingan tersebut. Seringnya begitu ya. Ingin segera melupakan, malah yang ada terus dihantui perasaan.

Seorang psikolog bernama Matthew Killingsworth dan Daniel T. Gilbert juga bilang bahwa sebagian perasaan kita justru terbawa oleh perasaan itu, sehingga kita lebih banyak tidak sadar dirinya.

Meski saya seringnya meyakini bahwa ini hanya akan muncul sementara waktu. Waktu pula yang akan membawa kita pada perasaan-perasaan lainnya. Entah itu perasaan baik maupun buruk.

self awareness bagi ibu

Jadi soal masalah ini seharusnya dihadapi dengan kesadaran diri yang penuh. Seperti yang orang-orang sering gaungkan belakangan ini, mindfulness.

Kesadaran kita saat melihat, mendengar, membaca, dan apapun aktivitas kita akan memberikan respon yang berbeda. Tentunya kelanjutan ceritanya pun akan berbeda pula.

Dengan sadar diri, kita sebagai ibu bisa lebih mengenali diri sendiri. Kemampuan ini jadi bekal kita untuk lebih mawas diri dan lebih aware pada emosi yang muncul terhadap suatu kondisi tertentu.

Bagaimana Menjadi Ibu Sadar Diri?

JIka menyibukkan diri hanya jadi pelarian semata, maka sebagai ibu sebaiknya kita lebih bisa mengurangi intensitas insecure dengan lebih sadar dengan kondisi diri. Lagi-lagi saya tekankan,  ini sadar diri, bukan rendah diri. 

Tak apalah kita terlena dengan quote dengan yang membuat kita mengakui kekurangan kita, tapi kita lebih mengantisipasi diri untuk menjadi ibu yang lebih sadar diri. Beberapa yang biasa saya lakukan seperti :

1. Tetap melakukan hobi yang Ibu sukai

Meski telah menikah, bukan berarti kedirian kita hilang. Saya sendiri masih terus memelihara hobi yang saya sukai, jalan kaki, mendengarkan radio/podcast, menonton, bernyanyi, atau bahkan nulis diary atau sekarang ini lebih akrab dengan bullet journal pun masih saya tekuni.

Saya meyakini ini adalah hal baik. Bahkan saya semakin yakin ketika saya mendengarkan salah satu podcast dan salah satu dokter bilang hobi akan membuatmu bisa tetap waras, bahagia, dan sehat.

2. Ibu terus belajar

Merasa diri  tertinggal itu bagus, berarti kita perlu mengejar ketertinggalan dengan terus belajar. 

Namun dengan kesadardirian yang saya miliki, mengejar itu bukan hanya harus berlari. Merangkak, berjalan pun adalah sebuah progres dan proses yang perlu dihargai. Jalurnya pun tidak melulu sama. Selama mengupayakan, usaha kita pasti ada hasilnya.

3. Ibu Punya goals

Sesiapapun kita, kita perlu punya goals. Hidup tanpa goals itu seperti main bola nggak ada ujungnya kan? Sudah sampai mana, harus ke mana itu jadi nggak jelas kan?

4. Ibu lebih banyak melakukan evaluasi

Saat ini kita sedang mengupayakan, belajar, dan terus berusaha agar bisa lebih mengendalikan kesadaran diri kita. Jika kadang-kadang masih muncul rasa insecure, yuk lakukan evaluasi.

Selama ini saya sering melakukan evaluasi dengan menulis di kertas. Makanya  saya bersyukur masih berteman dengan diary/journal hingga kini. Bahkan sekarang makin booming juga kan dipakai orang-orang buat self healing. 

Dengan journal, kita bisa melacak mood, habit, perjalanan, jika kita mengisinya secara rutin. Jadi dari situ kita juga lebih mudah melakukan evaluasi.

Evaluasi berarti melacak titik kesalahan yang muncul, belajar mengakui kesalahan tersebut, dan memperbaikinya. Memang tak selalu mulus, tapi saya yakin akan lebih tertancap dalam benak kita tentang poin-poin evaluasi yang perlu dilakukan tersebut.

Eh, evaluasi pun tak melulu hasilnya berupa hal yang kurang menyenangkan. Melalui evaluasi, kita setidaknya akan lebih menghargai meski satu persen progres keberhasilan yang kita lakukan. Beneran, bisa senang banget lho kalau kita bisa berhasil melakukan progres tersebut.

5. Ibu, kita adalah istimewa

Ya, kalau bukan kita yang mengupayakan, siapa lagi? Kalau kita tidak menghargai diri sendiri, bagaimana orang lain? Kalau kamu merasa rendah diri, bagaimana orang lain melihatmu? 

“Barangsiapa menyangka ada yang lebih memusuhi dirinya ketimbang nafsunya sendiri, berarti ia kurang mengenali pribadinya sendiri.

Ibnu Hajar al-Asqalani

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

3 Replies to “Ibu Perlu Belajar Tentang Hidup Sadar Diri”

  1. Setuju banget sama poin2nya iru mbaa. Sama satu lg, dg sadar diri dg kondisi pirbadi, kita akan berhenti membanding2an diri sama orang lain. Misal ibu bbrapa anak tanpa ada yg bantuin, ga mungkin bs sering2 me time atau doing hobbies keluar rumah sering2, dibanding s orang dg banyak art dan suster (misal kaya nia ramadani 😆). Jd mending berdamai dg mencari hobi yg bs dilakukan bersama anak2 misalny.. hehehe..

  2. Bagus banget pesan-pesannya. Serasa diingatkan. Terimakasih sudah berbagi. Tentunya itu hasil bacaan banyak buku dan kontemplasi mendalam.
    Tahun 2015 kami pindah dari kota ke desa, beralih profesi dan belajar menjadi petani. Betul sekali beda banget saat kita kuman-komen dengan duduk manis di balik ruang AC, dengan saat kita berpeluh dan empati seperti layaknya petani bekerja di bawah matahari. Mengena banget baca-baca pesan psikologi seperti ini.
    Salam kami dari desa.

    1. Terima kasih juga mba rita, sudah mampir ke sini. Ini hasil kontemplasi perjalanan saya serta bebera hasil dr podcast dan buku yang buku yang saya baca.

      Kalau di desa saya lebihnya acuh mbak, lebih sering di rumah aja. Jadi malah lebih aman. Yang lebih susah dikendalikan itu media sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!