Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Nak, Selera Orang itu Berbeda-beda, Lho!

3 min read

cara mengajarkan perbedaan pada anak

ghinarahmatika.com – Mengenalkan keberagaman pada anak seusia Nahla sudah semakin menantang. Bukan tentang agama dan warna kulit sih, soalnya hal itu sudah jadi perbincangan sehari-hari. Namun kali ini kami berdiskusi hingga berdebat tentang selera keindahan.

Memiliki anak usia 6 tahun sudah mulai paham ya mana yang cantik, bagus, bahkan ganteng juga kayaknya. Wkwk. Ada yang anaknya sering komentar tentang hal seputar itu nggak nih, ibu bapak?

Jadi belakangan ini, saya dan anak saya, Nahla, sering sekali berdebat soal hal itu. Kebetulan hobi dia belakangan ini menggambar. Otomatis kan setiap selesai menggambar, dia akan menunjukkan hasil gambarnya kepada kami sebagai orang tuanya.

‘Mamah, lihat gambar kakak’.

Ingin rasanya kami senantiasa merespon dengan kata-kata pujian. Tapi teringat beberapa pakar parenting yang bilang katanya jangan puji-puji anak terus, kalau saya jadinya agak jarang langsung memberi komentar ‘bagus, pintar, dan sejenisnya.

Seringkali saya komentari dengan bertanya ‘dari mana kakak dapat ide tersebut? Atau bertanya tentang hal terkait gambar yang dia buat. Tapi kalau lagi cukup sibuk dan tidak bisa mendampingi, kami pun seringnya jawab ‘yes, good, great, keep it up’ dan ungkapan yang bikin dia hepi tanpa banyak nanya.

Baca juga : Mengajarkan Kemandirian pada Anak

Nahla sih oke-oke saja. Bahkan lebih senang kayaknya kalau dapat ungkapan balasan yang default gitu. hoho

Lain cerita ketika saya meminta dia untuk memberikan komentar maupun memilih sesuatu. Hampir dipastikan dia akan memilih yang cantik, warna kesukaan, yang paling bagus diantara lain.

Beneran dia nggak mau memilih yang menurutnya jelek atau tidak menarik.

Hal ini pun akhirnya sampai menjadi perdebatan saat ada event di sekolah yang mengharuskan dia menata rambut dengan model funny and ugly serta saat membuat sampul buku.

Gara-gara Debat Rambut yang Ugly and Funny dan Sampul Buku

Permasalahan gaya rambut funny and ugly yang dia tolak mentah-mentah membuat saya dan ayahnya baru menyadari bahwa kita mungkin terlalu terbiasa memaparkan hal yang nampak indah, bagus, cantik, ganteng selayaknya orang biasa menilai saja. Kita lupa memberi tahu bahwa menilai sesuatu itu sangat relatif. Selera orang itu berbeda-beda.

Baca juga : Anak-Anak adalah Pelanggan Setia

Di sekolah saat ini Nahla memang sudah mulai belajar huruf. Nah kebetulan minggu kemarin itu sedang belajar huruf h. Agar lebih ingat, guru pun meminta anak-anak untuk dihias rambutnya. Haar yang dalam belanda artinya rambut mungkin lebih menarik untuk menjadi momen sendiri dalam pembelajaran. Sekolah pun memberikan beberapa contoh gaya rambut lucu dan aneh.

Tapi dari beberapa hari sebelumnya pun Nahla menolak. Padahal kita sudah coba cari model rambut lewat YouTube pun dia tolak.

Saat saya bertanya tentang alasannya, dia jawab : kakak nggak mau jelek!

Padahal bukan jelek sih cuma lucu dan menggemaskan saja gaya rambutnya. saya pun bilang ‘Terlihat lucu itu bukan jelek, kak’.

Terpaksa, saat hari Jumat datang, rambut Nahla hanya dikuncir dan dikepang saja. Kita coba menghargai keinginannya. Meski tentu saja sebelumnya kami pun melewati diskusi dan perdebatan yang cukup alot. Kami mencoba menjelaskan pemahaman tentang cantik dan jelek yang relatif.

Setelah kejadian itu, saya pun jadi sering mensounding tentang cara kita menilai sesuatu dan betapa selera orang terhadap sesuatu itu berbeda. Jadi saya pun menekankan kata-kata:

‘Bisa jadi menurut kakak itu bagus, tapi menurut mamah itu biasa saja. Begitu juga sebaliknya’.

Benar saja, kejadian keesokan harinya saat dia berkeinginan untuk membuat sampul buku. Dia lagi hobi membuat sampul buku setelah nonton Lego Friend yang menunjukkan tutorial itu. Nah, Nahla sudah bikin sampul di bukunya itu benar-benar full color. Dan pagi sabtu itu dia menawarkan saya untuk membuatkan sampul di buku saya. Dia carilah buku catatan saya dan mulai menawarkan model sampul yang saya inginkan.

nak, selera itu berbeda-beda
sampul buku karya Nahla

Nahla : Mamah, sampul bukunya mau warna apa?

Mama : Nggak mau. Mamah mau pakai stiker terus dikasih gambar karya kakak dipojokannya saja

Nahla : Kenapa nggak mau diwarnai semuanya kayak punya kakak? Kan bagus

Mama : Berwarna memang bagus, tapi polosan juga bagus kok kak. Kan selera kita tidak harus sama

Setelah itu dia keukeuh ingin mewarnai sampul buku saya dengan warna kesukaan saya. Saya pun keukeuh nggak mau (sorry, orang tua juga nggak boleh sering kalah dan mengalah donk :D). Akhirnya berujung dia menyerah karena sampul buku saya terlalu tebal, nggak bisa disisipkan sampul karyanya. Hihi

Mengenalkan Selera Keindahan yang Beragam pada Anak 

Kejadian di atas membuat kami lebih aware dan memahami bahwa soal penilaian juga perlu dipahamkan kepada anak. Secara fitrah anak dan manusia pada umumnya juga telah memiliki sense of aesthetic sehingga kita bisa membedakan mana yang baik atau buruk, mana yang bagus, cantik, ganteng, 

Fitrah keindahan itu tidak melulu seragam.

Justru sangat beragam. Indah menurutmu tapi biasa saja menurut yang lain. Begitu juga sebaliknya. Ajari anak untuk memahami bahwa kita tidak boleh menilai negatif terhadap perbedaan dan memaksakannya untuk seragam. Toh hal itu tidak akan membuat kita lebih tinggi atau lebih rendah.

Pemikiran ini sangat penting untuk kita tanamkan kepada anak-anak, apalagi di masa dia sangat ingin mengeksplor banyak hal. Biarkan imaji mereka bergelora dengan ide-ide liarnya tanpa perlu kita hakimi maupun komentari. Sebagai orang tua kita juga jangan mempersempit pemikiran dan definisi tentang hal yang indah, cantik, dan bagus tersebut dalam keseharian kita. Children see children do.

Memang selera kita seringkali bertendensi memengaruhi banyak hal agar seragam. Lewat hal ini pula seharusnya kita bisa mulai mengenalkan tentang keberagaman dan toleransi.

Menurut psikolog, Ratih Ibrahim, mengajarkan toleransi sejak dini pada anak sangat penting untuk mengembangkan kecerdasan emosi dan sosial mereka. 

Kenalkan kepada anak-anak bahwa perbedaan itu tidak apa-apa. Baik lewat buku, ngobrol, nonton film, maupun sekadar jalan bareng pun bisa menjadi cara kita untuk memberi contoh konkrit bahwa memang ada banyak perbedaan di dunia ini. Termasuk selera pun berbeda. 

Sebagai orang tua kita memang mestinya lebih sering berinteraksi dengan anak membahas banyak hal termasuk perbedaan. Bukan malah menganggap tabu dan menganggap hal tersebut buruk. Bukannya lebih baik anak tahu dari orang tua dulu kan daripada dari orang lain?

Lewat ruang diskusi ini pula kita bisa menekankan bahwa kita sebagai manusia harus memperlakukan manusia dan lingkungannya, dengan berbagai macam warna, agama, ras, budaya, cantik, ganteng, tinggi, pendek, kurus, gemuk, selera, dan segala perbedaan tersebut dengan sikap yang baik dan penuh hormat.

Selain mengenalkan anak tentang variasi keindahan, kita juga perlu lho untuk mengajarkan anak tentang cara merespon terhadap perbedaan. Lanjut menurut Bu Ratih, kita perlu mengajari anak untuk merespon tegas terhadap mereka yang memandang negatif terhadap perbedaan. Misal kita kasih contoh tegas bahwa hal itu tidak baik. Jangan hanya mendiamkannya saja. Respon kita adalah langkah konkrit yang mengajarkan bahwa mengatakan hal buruk terhadap sesuatu yang berbeda itu tidak baik. 

Masya Allah… sembari menulis saya pun jadi sembari belajar lagi. Kejadian bersama Nahla kemarin itu buat saya benar-benar jadi pelajaran juga. Makanya saya mencatatnya di sini biar jadi pelajaran dan pengingat diri.

Ah, semoga kita senantiasa menjadi orang tua yang haus belajar dan merendah hati saat membersamai anak-anak, ya.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!