Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Memilih Sekolah Dasar untuk Nahla di Groningen, Belanda

3 min read

sekolah dasdr di belanda

Setelah pencarian selama sebulanan untuk menemukan sekolah yang cocok buat Nahla, akhirnya awal puasa kemarin Nahla mulai sekolah juga. Meski sebelumnya kita ‘dilempar’ sana-sini sama beberapa sekolahan, ujung-ujungnya yang menerima Nahla ya sekolah yang pertama kali kami daftarkan.

Eh, gimana itu kok ceritanya sampai ‘dilempar-lempar’ segala? Simak ceritanya sampai tuntas, yuk. Hoho

Memutuskan untuk Sekolah Formal di Belanda

Meski Nahla sudah berumur lebih dari lima tahun, selama di Indonesia saya sama sekali tidak menyekolahkannya di sekolahan formal. Menurut saya terlalu tanggung dan saya cukup picky untuk memilihkan sekolah yang cocok untuk dia. Jadi wae kita ini mencoba ala-ala homeschooling dulu di rumah. Mumpung kan saya bisa menemani dia full di rumah.

Secara kebetulan juga ternyata tahun ini pun kita bakal balik ke Belanda. Tapi saya pun memang nggak terlalu khawatir untuk persiapan Nahla sekolah di sini. Toh, di usianya sekarang sekolah di Belanda belum menuntut kemampuan apa-apa pada anak-anak. 

Baca juga : Cara Mengajarkan Anak Belajar Bahasa dengan Aplikasi

Beneran saja, bulan kemarin saya visiting ke sekolah yang dekat rumah, saya pun mendapat form dan mendapat pertanyaan tentang sekolah. Saya jawab seadanya saja sambil kasih argumen kan kalau anak dibawah usia 7 tahun belum wajib banget untuk bisa membaca dan menulis. Seperti dugaan saya, si gurunya pun mengiyakan hal tersebut.

Kalau kembali ke Belanda memang saya pun tidak ingin melanjutkan homeschooling lagi. Ya meskipun homeschooling selama di Indonesia pun masih ala-ala aja. Cuma sayang aja kalau di luar. Biar dia bisa belajar keberagaman, dapat teman yang beragam, dan tentu saja belajar bahasa Belanda.

Di sini tidak begitu khawatir untuk memilih sekolah. Pertama, semua sekolah memiliki kualitas yang sama bagusnya. Kedua, tidak ada biaya sekolah jika memang memilih sekolah biasa, bukan sekolah internasional.Ketiga, sistemnya zonasi, jadi sekolah yang dipilih memang harusnya yang dekat dari rumah. 

Drama Pencarian Sekolah Dasar

kegiatan sekolah selama di belanda

Satu hal yang saya pelajari soal pencarian sekolah ini, ketika kamu terdaftar secara legal di sebuah negara (belanda) dan memenuhi kewajiban (a.k.a bayar pajak) hak-hakmu akan terpenuhi dengan baik.

Kenapa begitu?

Jadi nih pencarian sekolah di sini sebenarnya cukup mudah. Kalau mau sekolah umum milik negera, cari aja yang paling dekat, maka mereka pasti akan terima. Kalau kita mau sekolah yang punya kurikulum yang spesifik, seperti Montessori, Dalton, Janeplan, dsb, ya kita harus cari sendiri dan siap risiko jarak yang cukup jauh atau ada tambahan biaya. Kalau mau yang sekolah internasional, selain jarak, tentunya biayanya juga lumayan.

Nah, tapi sebelumnya memang kita harus terdaftar dulu di Gementee (pemerintahan) Groningen. Terdaftar berarti kita harus punya alamat yang digunakan untuk korespondensi, lapor diri, asuransi, dan sebagainya. Jangan salah, yang nggak terdaftar alias menjadi warga ilegal itu banyak lho. Ya, mereka nggak bayar pajak, tapi juga nggak dapat fasilitas dari negara tentunya.

Drama muncul dalam pencarian sekolah buat Nahla itu karena sekolah pertama yang kami kunjungi ternyata dalam satu kelasnya muridnya sudah penuh, 24 siswa. Sementara kondisi Nahla yang belum menguasai bahasa Belanda dikhawatirkan akan menyulitkan dalam sosialisasi dan transfer ilmu.

Gurunya sih niatnya baik, pengennya Nahla lebih mudah dikontrol dengan kondisi siswa yang lebih sedikit. Mereka menolak deh dengan kondisi begitu itu.

Jadilah kita direkomendasikan ke dua sekolah yang muridnya lebih sedikit. Sekolah pertama memberikan beberapa rekomendasi yang jarak sekolahnya pun nggak begitu jauh sebenarnya dari rumah. 

Sayangnya kedua rekomendasi sekolah tersebut kurang begitu responsif. Yang pertama, mereka baru bukaan murid baru bulan Juni, dua bulan lagi untuk menunggu. Yang kedua, sekolahnya lebih ketat, menggunakan kurikulum Jenaplan. Sekolahnya pun tidak begitu responsif.

Setelah dua minggu hubungi kedua sekolah itu dan tidak segera mendapat balasan, akhirnya kami pun dapat surat dari Gementee yang menanyakan, kok anaknya belum sekolah juga.

Ya sudah lah kita bilang sekolahnya pada ngerespon melalui telepon.

Akhirnya setelah kita bilang gitu, kedua sekolah tersebut pun merespon dengan jawabanya seperti yang saya sebutkan di atas yang intinya tidak bisa menerima Nahla.

Ya, jadinya balik lagi deh, sekolah pertama yang pertama pun membuka pintu dan membolehkan Nahla untuk mulai sekolah di sana. 

Insight tentang Sekolah Dasar di Belanda

Sebelum anak mulai sekolah, saya sebagai orang tua diminta untuk mengisi formulir terlebih dahulu. Isi dari formulir tersebut meliputi berbagai kondisi anak dan orang tuanya.

Beberapa pertanyaan yang diajukan antara lain seperti : asuransi yang digunakan, alergi makanan, agama, kondisi anak, dan lainnya. Selain mengisi formulir tersebut, dua minggu setelah Nahla mulai sekolah, kami sebagai orang tua pun diajak untuk ‘dating’ dengan gurunya untuk mengenal lebih dekat.

Ngobrolnya non formal banget, tapi gurunya keliatan banget ingin tahu segala hal terkait kami untuk lebih akrab dan bisa menghandle Nahla lebih baik. Jadi kami ditanya lagi misal tentang perlu ada treatment khusus nggak, ada makanan yang perlu dihindari, karakter anak, transfer informasi, serta kondisi yang mendukung kemudahan kegiatan belajar di sekolah.

Sekolahnya full senin sampai jumat dengan jadwal senin, selasa, kamis mulai pukul 08.30 – 14.30, sementara rabu selesai jam 12.30 dan jumat selesai dan 12.00.

Setiap anak diwajibkan membawa bekal masing-masing. Bekal yang dibawa ada dua jenis, cemilan (wajib buah) dan makanan siang serta minum.

Di sini sekolah dasar dimulai sejak usia 4 tahun. Kelasnya pun berdasarkan usia. Jadi sekarang ini Nahla masuk langsung kelas 2 deh. Nah tapi kelas 1 dan 2 ini kegiatannya masih mirip kayak TK ya. Kegiatannya lebih banyak main, menggambar, mewarnai, eksplor di taman, nonton bareng, baca buku bareng, dan main bebas di luar. Belum ada kegiatan menulis dan membaca, sih.

Tapi untuk urusan disiplin itu memang sudah ditanamkan sejak kecil. Kegiatan beberes dan bertanggung jawab sama barang-barang yang digunakan sendiri sudah diterapkan sejak Nahla masuk playground dulu. Di sekolah dasar, bahkan ketika sekolah mau selesai anak-anak diminta untuk membereskan meja dan kursinya, membereskan ruangan, mengepel, menata kembali buku dan mainan yang dibaca. 

Sampai sekarang sih Nahla terlihat sangat enjoy dengan kegiatan di sekolahnya. Bahkan dia nggak mau kalau libur panjang katanya, wkwk. Nggak tahu aja dia nanti kalau naik kelas materinya akan lebih menantang. 

Untuk komunikasi guru-orang tua, ada websitenya sendiri. Di sana berbagai informasi dibagikan. Foto-foto, kegiatan mingguan, bulanan, serta progres anak ada semua di sana. Untuk dokumentasi sendiri bersifat pribadi sekali. Jadi kalau nggak kita izinkan, mereka tidak akan membagikannya ke yang lain. 

Tidak ada pelajaran agama jelas donk kalau di sini mah. Meski sebenarnya sekolahan Nahla yang sekarang ini dulunya adalah sekolahnya agama katolik, tapi secara materi pelajaran dan sekarang ini sudah bukan sekolah berbasis agama lagi.

Baca juga : Rekomendasi Kitab Klasik untuk Anak-Anak

Pelajaran agama tentunya jadi PR kami sebagai orang tua di sini. Pakem dan beberapa rule pun sudah coba diajarkan ke Nahla. Mohon doanya ya, semoga tetap terjaga fitrahnya dan dimudahakan untuk kami memberi bekal agama buat dia ya. Memang kerasa banget sih tantangan pengasuhan di sini tuh kalau urusan agama mah.   

Sekian dulu cerita tentang pencarian sekolahnya. Tunggu buat cerita seru tentang Belanda lainnya ya. See you. 

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

19 Replies to “Memilih Sekolah Dasar untuk Nahla di Groningen, Belanda”

  1. Waktu aku ke Amsterdam, kebetulan flat hostku berada di dekat satu sekolah gitu. Kayaknya itu sekolah pemerintah sebab lokasinya di tengah-tengah pemukiman yang padat.

    Dari baca tulisan ini, yang aku salut, bahkan mereka yang gak punya dokumen resmi untuk tinggal di Belanda pun masih bisa dapatin fasilitas pendidikan. Wah luar biasa. Semoga Nahla betah sekolahnya dan bisa beradaptasi dengan baik 🙂 amiin.

    1. Iya mas. Kmrn aku ktmu sama temn dr Ams di sana ternyata bnyk org indo yg andoc alias ilegal tp mereka masih bisa dapat fasilitas dr pemerinth. Ada LSM yg fokus dgn mereka.

  2. Wahhh diluar sana sangat diperhatikan sekali setiap anaknya yaaa, tentu dengan harapan bisa tumbuh kembang lebih maju dan berpikiran luas. Karena kalau disekolah sudah merasa nyaman seperti itu juga bisa mendukung pembelajarannya selama disekolah untuk bisa lebih rajin dan tidak tertekan hhi

    1. Iya mas andri.. Masih kelas 2 sih. Lihat nanti kalau naik kelas dan mapelnya udah mayan mumet, moga dia masih hepi sekolahnya, hihi

  3. Wah semangat sekolahnya ya Dek Nahla.. Semoga makin pintar belajar bahasa Belanda jga… Keren nih, dah nyaman bisa mengikuti kegiatan persekolahan di sana yaa…

    1. Makasih Mbak Ulfah.. Belajar bahasa emang kudu sambil praktik ya, tp jd challenging bgt soalnya dia lebih milih temen yg bisa b. Inggris hoho

    2. haha, iya ini PR banget soal bahasa karena dia seringnya ngomong english dan teman2nya juga bbrpa ada yang bisa english juga.

  4. In syaa Allah penanam akhlak dan adab bisa seiring sejalan yaa, kak.
    Karena sekolahnya sudah bagus banget mengajarkan berbagai basic kedisiplinan dan tanggungjawab dalam diri anak-anak. Di rumah memantapkan adab dan keimanan ananda. Kerena banget kerjasama sekolah dengan pihak keluarga di rumah.

  5. Masya Allah..mbak aku seneng sekali memebaca tentang seputar sekolah sekolah di luar negeri. Membuka dan menambah wawasan kayak skeolah dasar mulai dari 4 tahun kalo kita senut sajanplaygroud

    Aku pernah membaca di finlandia dna denmark mereka kayake mirip kita sih ada taman kanak-kanak meski beda penamaan.

    Tapi aku selalu kagum area barat sana dalam mendidik anak usia dininya itu lho kok bisa sekeren itu dalam mennanamkan karakter ya. Mana sekolah dimanapun oke. Jadi gak ada skeolah favorit ya..

    Semua bagus..inilah sistem yang mau ditiru di negara kita tapi masih belum bisa.

    1. makasih mba hamim. Di sini anak2 mulai masuk semacam playgroup dari sejak 2 tahun mbak.

      aaamiin. semoga perlahan bisa kita tiru, terutama di lingkungan terdekat kita ya mbak mba hamim.

  6. kalau baca cerita tentang sekolah anak di luar negeri itu langsung ngiri deh karena memang pendidikan di sana kan memang merata yaa dan kurikulumnya juga bagus. tapi pas baca tulisan tentang agama jadi kepikiran juga nih gimana biar anak tetap dapat ilmu tentang agama terutama bagi yang muslim

    1. iya mbak, sistem zonasi juga jadi nggak bikin bingung ya karena kualitasnya sama. tapi emang PR banget soal pendidikan agama ini. lagi lagi orang tua memang prioritas yang mengedukasi

  7. gimana ya mau ngungkapinnya, seneng banget bacanya, kebetulan saya guru di madrasah ibtidaiyah (MI) di Jombang, jawa timur, berharap banget bisa mewujudkan sekolah seperti ini. salah satu yang menarik adalah pembiasaan karakter, anak diajarkan menyiapkan tempat belajar sendiri, dan usai belajar pun anak dibiasakan memberesi tempat belajarnya sendiri, bukan sekedar memberesi alat tulis, bahkan mengepel, ini “sangat menyentuh” amazing bnget. di usia MI itu sebenarnya anak-anak dapat belajar beraktifitas dengan “ikhlas” karena begitu senangnya mereka. Tapi kadang dari sistem yang terbangun di sekolah, malah tidak memanfaatkan “perasaan asyik” nya anak-anak beraktifitas. Jadinya belajar adalah duduk, diam, menyimak, pulang. Tanpa ada kegiatan yang menyenangkan buat anak.
    Tapi di sini (negeri kita) sekarang sudah mulai ada kegiatan (pembelajaran aktif), hanya saja kadang terasa kurang “alami”, –seperti yang dialami dek Nahla di Groningen–, kegiatan yang dipaksakan, settingan, permainan yang dimasukkan dalam pembelajaran, coba kalau guru mengerti substansi dari pembelajaran, materinya, real life, dan mampu menghubungkan ketiganya, tentu kegiatan yang diberikan pada anak-anak akan tidak jauh dari kehidupan nyata anak, pada akhirnya pembelajaran menjadi “Begitu Berasa” alias bermakna bagi anak.

    1. Hallo mas idham, terima kasih sudah mampir dan baca blogpost saya. semoga tulisan ini memberikan inspirasi buat mas idham yang juga seorang guru untuk bisa perlahan mewujudkan ‘pendidikan alami’ seperti yang diharapkan.

      Pembiasaan di sekolah sebenarnya adalah hal sederhana ya, tentunya hal ini juga harus dibarengi dengan kebiasaan anak di rumah juga. Makanya komunikasi guru – orang tua juga perlu sekali memang ya.

      Ngomongin tentang pendidikan bermakna mungkin mas idham bisa baca beberapa referensi tentang pendidikan ala charlot mason. sepertinya beberapa metodenya bisa mas idham terapkan dalam kegiatan mengajar di sekolah. Tetap semangat mengajar dan mendidik ya.

  8. Oh iya umi Ghina, ditunggu nih cerita tentang pendidikan dan pembelajaran di Belanda .. kan lihat langsung di depan mata, ya kali aja manfaat buat pendidikan di sini, matursuwun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!