Random Thought,  Self Improvement

Sebuah Tirakat : Melakukan Hal yang Dibenci

Saya melihat pada pencarian di Jetpack blog saya, ternyata banyak dari orang-orang mencari hal tentang tirakat untuk meraih sesuatu. Sampe ada yang kirim pesan langsung, Mbaknya baca blog saya lalu kita ternyata kebetulan ada di satu grup whatsapp, dan dia nanya ada nggak tirakat untuk yang masih jomblo?

Tirakat tetap menjadi pembahasan yang menarik ya, meski masa sekarang ini sudah ada banyak cara cepat untuk meraih sesuatu.

Tirakat ini mungkin dikenal hanya pada sebagian kalangan. Kalau kalangan santri/yang pernah mondok di pesantren salaf biasanya sudah dibiasakan untuk melakukan hal ini. Namun tirakat sendiri erat kaitannya dengan adat jawa, tirakatan.

Dulu, ketika saya masih di Mlangi, Jogja, saya menemukan kata-kata itu dalam budaya masyaratat di sana. Tirakat dilakukan pada malam 17-an, pada malam peringatan hari besar, dan lainnya.

Kegiatan tirakatan yang dilakukan antara lain : berkumpulnya orang-orang di satu rumah tertentu, mengundang banyak orang untuk melek semalaman sambil melakukan sesuatu. Kegiatannya seperti membaca dzikir bersama-sama dengan nada bacaan yang dilagukan, dan diakhiri sambil wedangan sembari meramaikan malam.

Mereka bilang, cara tersebut menjadi salah satu cara untuk mengingat perjuangan para Pahlawan ataupun orang-orang terdahulu. Cara ini juga menjadi salah satu kegiatan yang mengakrabkan masyarakat agar tetap guyub rukun.

Nah, tirakat juga diidentikkan dengan kegiatan yang dilakukan oleh tertentu untuk mendapatkan satu hal tertentu. Misalnya, mendapatkan jodoh, mendapatkan pekerjaan, maupun mendapatkan rumah, dan lainnya.

Baca juga : Romantisme dalam Tirakat Istri

Oleh karena itu, tirakat disebut sebagai usaha bathin yang dilakukan, selain usaha-usaha lahiriah, untuk meraih sesuatu. Orang yang beragama mempercayai bahwa selalu ada campur tangan Tuhan atas apa yang ia kehendaki. Maka keduanya dianggap perlu untuk dilakukan.

Jenis Tirakat Baru Ala Cak Nun

Pagi ini, ditengah scrolling media sosial, saya menemukan hal baru dari tirakat yang cukup mengganggu fikiran saya.
Ada status seorang teman yang mengutip wejangan yang dituturkan oleh Cak Nun. ‘Tirakat itu berwujud : ‘ lakukan sesuatu yang kau benci’.

Apa yang ada dalam fikiran kamu saat membacanya?

Kalau saya, baca tulisan tersebut saya merasa hal yang selama ini saya lakukan ini agak useless. Saya masih melakukan banyak hal hanya karena memang saya suka untuk melakukannya. Karena itu, hal yang tidak saya sukai saya enggan bahkan untuk bersinggungan dengan hal tersebut.

Hal demikian semakin dipertegas dengan ajakan para influencer masa kini yang lebih menekankan kita untuk melakukan apa yang kita sukai. Kalau kita suka, pasti kita enjoy melakukannya, dari hobi bahkan bisa menghasilkan cuan.

Saya amini bahwa perkataan tersebut memang benar nyatanya. Namun, pernyataan Cak Nun tadi seakan mengobrak-obrak pola pikir kita yang terlena dengan hal-hal yang kita sukai saja.

Padahal, tentu saja ada banyak hal yang kita nggak suka melakukannya, namun ternyata itu baik.

Tirakat itu berwujud : ‘ lakukan sesuatu yang kamu benci’

Cak Nun

Dari sinilah, saya akhirnya mencoba memahamkan diri maksud dari perkataan tersebut. Memahamkan dan menganalisis personaliti saya. Dengan kepribadian yang cenderung introvert, kadang insecure, dan seringnya berfikir tak beralur membuat saya perlu melakukan tirakat seperti ini, nih.

Cara Mempraktekkan Tirakat

Dari penuturan Cak Nun tadi, saya menyimpulkan bahwa sebenarnya ada banyak hal yang bisa dilakukan, yang baik meski kamu tidak suka melakukannya, harus dipaksa. Nantipun hasilnya dimampukan, jika niatnya memang baik.

Jadi, inilah kira-kira bentuk tirakat yang bisa dilakukan, jika melihat dari hasil analisa personaliti saya dan mungkin berlaku juga untuk generasi yang nggak bisa lepas dari social media. Berikut antara lain:

Analisis kepribadian sendiri

Seperti saya sebutkan di atas, yang memahami kita adalah kita sendiri. Baik yang disukai maupun yang tidak kita sukai, kita yang memahami dan mengetahuinya.

Maka, pemahaman tentang kepribadian ini menjadi penting, karena dari sini kita bisa mempelajari bahwa ternyata ada banyak hal bisa kita lakukan selain hal-hal yang selama ini kita memang suka untuk melakukannya.

Kamu bukan hanya sekadar ‘cuma’

Kita adalah makhluk sempurna. Iya. Tapi apa yang sudah kita lakukan untuk menyempurnakan hidup kita? Apa kita bahkan sudah mengoptimalkan kelebihan-kelebihan yang mungkin tersembunyi pada diri kita?

Ini tantangan besar sih, buat saya terutama. Saya jadi merasa tertampar sama teh annisast kemarin. Meyakinkan bahwa rendah hati dan rendah diri itu sedang saya utak-atik sendiri dalam pola pikir saya. Ternyata ya, menghargai diri sendiri dan mengapresiasi dengan wujud you can do it saja saya masih sering abai.

Ini bukan hanya tentang kamu

Seperti cerita-cerita Mbah Cak Nun, beliau selalu merasa bahwa kehadirannya itu ada karena dukungan orang lain. Jadi, sebisa mungkin beliau akan melakukan hal-hal baik pun untuk orang lain. Meski sebenarnya beliau tidak begitu menguasai, maka ia mampukan dengan berusaha mencobanya.

Terapkan porsi cukup dan kurang

Cukup untuk segala yang berbau materi, tentu saja perlu ditekankan. Tapi, kita juga perlu untuk merasa haus dan kurang untuk mengerahkan segala kemampuan yang memberi kebaikan baik untu kita maupun orang lain.

KESIMPULAN

Keempat hal tersebut saya coba saring dari personaliti saya sendiri, ya. Tidak dipungkiri, tentu masih ada banyak yang bisa dianalisis.

Tentu lelaku tirakat ala Cak Nun ini tidak bisa ujug-ujug dilakukan. Konsep yang beliau tekankan memang tidak hanya atas kebutuhan hubungan antara manusia dan Tuhan semata. Namun, karena kita makhluk sosial maka lelaku kita juga sebisa mungkin harus berdampak pada orang di sekitar kita.

Begitu kira-kura. Nah, kalo tirakat ala kamu apa nih?

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
22 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
CREAMENO
10 days ago

Setuju mba, dengan statement jangan hanya fokus pada apa yang disuka hehe. Ini nggak jauh beda sama passion, kadang banyak anak muda di luar sana, dikasih motivasi harus kejar passion blablabla tanpa diajarkan konsekuensi dari pilihannya. That’s why, banyak pula yang akhirnya berhenti kerja, memilih usaha, berharap dapat cuan tapi akhirnya gagal di tengah jalan.

Saya pribadi termasuk orang yang nggak begitu buta sama passion, though idealisnya hidup bisa mengikuti passion, tapi saya tau realistisnya adalah saya harus membuat apa yang saya kerjakan sekarang (bisa jadi sesuatu yang saya benci sebelumnya) dengan passion yang besar. Jadi passion itu datang berjalan dengan usaha saya mencintai apa yang saya kerjakan sekarang 😀

Dan soal Tirakat, well, saya suka banget sama kata-kata “Ini bukan hanya tentang kamu.” karena pada dasarnya kita hidup nggak bisa egois meski kadang sah-sah saja untuk melakukan hal tersebut ~ hehehe. Tapi sebisa mungkin, kita harus punya eye measure untuk orang-orang di sekitar kita. Agar kita bisa hidup berdampingan, beriringan, dalam kebaikan 😀

As usual, terima kasih untuk tulisannya ya, mba ❤

Arai Amelya
8 days ago

Baru tahu kalau ternyata konsep tirakat Cak Nun sangat dalam. Saya malah tahunya ya tirakat itu identik dengan budaya Jawa…

Diem, sendirian, gelap, nggak tidur semalam suntuk dan berdoa, hehe. Karena itu akhirnya mikir kalau tirakat hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berilmu saja.

Sungguh pandangan baru, mungkin saya bisa mencoba melakukan hal yang saya benci

kyndaerim
8 days ago

maknanya hampir sama kayak keluar dari zona nyaman nggak sih kak Ghin? Kalo aku sih jujur, masih selalu suka ngelakuin hal yang aku suka, mungkin pernah beberapa kali ngelakuin yg nggak disuka, tapi bisa jadi dalam keadaan nggak sadar, atau spontan gitu aja, hehe..

Alif Kiky Listiyati
Alif Kiky Listiyati
8 days ago

Di sini biasanya santri yang sekolah pada tirakatan. Entah itu makan hanya nasi putih atau sesuai sama yang diminta kyainya. Hmmm… Kalau melakukan sesuatu yang kita benci tantangan banget sih

Leila
8 days ago

Tirakat itu berat, biar aku saja…ehh tentunya bukan begitu juga, ya. Beberapa kali ada saja yang mengingatkan untuk tidak terjebak pada zona nyaman, karena bisa melenakan. Siapa tahu, lewat upaya atau kalau level tingginya tirakat itu, ketemu hal menyenangkan atau minimal manfaatnya ya, meski awalnya tidak suka.

Shafira-ceritamamah.com

jujur mbak ghina aku masih bingung sama tirakat itu apa ya? yang aku tangkep di tulisan mbak gina di atas ttentang kita sebisa mungkin mengekplore diri dan keluar dari zona nyaman

twitter: @iffiarahman

kalau tirakatku, mencoba berfikir dan beraura positif hehehe, jujur susah banget tapi kalo ga dicoba ga akan berhasil…

Steffi Budi Fauziah
8 days ago

Mba tapi tirakat ini bukan suatu ibadah kan? Karena ngerih jg kalo dianggap ibadah. Soalnya saya baca ada dzikirnya gitu. Hehe. Mohon maaf ya mba.

Jihan
8 days ago

Haii mba ghina. Terimakasih remindernya. Saya merasa ditampar juga oleh perkataan Cak Nun.
Saya sendiri mencoba keluar dari Zona nyaman udah 4 bulan ini. Awalnya sangat berat dan memang untuk mengejar sesuatu yaa butuh perjuangan yg berat.
Mudah-mudahan bisa ketemu dengan tujuan sayaaa dengan tirakat ini. Aamiin.

triyatni
8 days ago

Jujur baru tahu tirakat ini. Bukan orang Jawa, dan bukan anak pesantren hehe. Tapi mungkin sedara umum banyak yang melakukan tirakat ini tapi dalam bentuk lain dan nama yang lain mungkin ya

eka
eka
7 days ago

apakah tirakat ini sama dengan muhasabah? evaluasi diri?

tapi tirakat yang kak ghina jelaskan diatas yang kumpul bersama terus dzikir bareng dan baca doa untuk mencapai keinginan tertentu, saya ngerasa kekeluargaan dan kebersamaannya besar ya. saling membantu mewujudkan keinginan saudara. karena ntah doa dan dzikir dari siapa yang ikut tarikat yang Allah kabulkan

Chairina
7 days ago

Kalau aku tiap minggu ngadain pengajian bareng keluarga. Sambil berdoa kalau ada yang ingin di pinta.

Renov
7 days ago

Hallo mbak Ghina,

suka banget sama tulisannya mbak dan quote dari Cak Nur.
Saya pribadi termasuk orang yang biasanya mendekatkan diri dengan kegiatan yang kurang saya sukai, dari mulai pemilihan jurusan kuliah, sampai milih job desc karir (ini yang susah karena karirnya suka tapi ada bbrp job desc nya yang gak suka) dan hobi. Ibu saya dulu bilang, mungkin karena saya Rebel jadi gak ikut aliran, dan antara ngga suka lama-lama berada di zona nyaman dengan ngga fokus #tutupmuka.
Kalau dipikir, padahal seharusnya kita mendahulukan mengerjakan apa yang kita cintai dulu

Sepertinya pilihan saya tidak mengerjakan apa yang saya cintai, selain mungkin menantang diri lebih baik juga karena berusaha menemukan dan memantapkan apa yang sebenarnya saya cinta. Beberapa contoh sudah terbukti dan ternyata ketika sudah menemukannya, saya menjadi tidak gentar walau badai menghadang hehehe.

Ps: menulis bukanlah sesuatu yang saya sukai, gak pernah bisa konsisten kecuali nulis buat kerjaan. Hanya karena kepengen banget bisa berkomunikasi lebih baik, saya pun jadi “wajib” menulis.

22
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x