Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Belajar Dari Ensiklopedia

4 min read

Belajar dari ensiklopedia

Dulu, di Inggris itu jika kamu ingin belajar di perguruan tinggi, kamu harus membaca ensiklopedia dulu. Encyclopedia Britannica namanya. Supaya kamu tahu latar belakang tempat yang kamu singgahi dan sejarahnya

Miss Rena

Belajar dari Ensiklopedia

Tahun 2019 menjadi tahun yang cukup berkesan buat saya. Sepulangnya dari Belanda, saya diperkenankan oleh suami untuk belajar bahasa inggris di Pare, selagi suami riset di Jombang. Kursus sambil membawa anak pun akhirnya mau tak mau saya lakoni. Meski awalnya perasaan takut datang mengganggu, namun alhamdulillah semua berjalan dengan lancar berkat bantuan tim pengajar, teman-teman sekelas maupun teman-teman di asrama.

Dari lima  level kelas grammar yang perlu dilewati, saya hanya mampu melewati tiga level saja. Bukan kenapa-kenapa, tantangannya (kesulitan-red) semakin naik level semakin berat. Entah itu hafalan materi, ujian oral, ataupun hafalan oral certain dan bermain dengan anak yang perlu waktu khusus membuat saya sangat kewalahan.

Baca juga : Metamorphosa Belajar Bahasa

Oh iya teman-teman, naik level ini cukup berat lho beneran. Syarat untuk naiknya harus lulus placement test dulu. Ketatnya lebih parah daripada Ujian Nasional deh. Bahkan menjelang pengumuman hasil ujian, kita bakal dikasih konseling dulu tentang pentingnya pemahaman akan bahasa. Bahasa tidak hanya sekadar buat cas cis cus saja. Banyak hal penting yang perlu dipahami juga, seperti tentang ilmu bahasa, tata bahasa, ilmu pengucapan maupun pengaplikasian bahasa itu sendiri.

Setiap konseling, kita akan selalu diingatkan tentang dasar-dasar dan tahapan penting untuk menguasai bahasa. Satu cerita yang saya ingat saat itu, Miss Rena bercerita tentang seorang calon mahasiswa di Inggris yang sedang mengalami kesulitan. Konon, mahasiswa ini sedang stres karena harus belajar dari Ensiklopedia, yaitu Encyclopedia Britannica. Sementara itu, dia sendiri tidak menguasai bahasa inggris dan jurusannya pun bukan jurusan sosial melainkan teknik.

Sekadar info, Encyclopedia Britannica ini merupakan karya yang digagas oleh duo Skotlandia, Andrew Bell dan Colin Mcfarquhar. 250 tahun yang lalu buku ini lahir. Dua nomor awal diluncurkan pada 6 Desember 1768 dan selesai pad atahun 1771.

Nah, lanjut ke cerita Miss Rena tadi ya. Ternyata mahasiswa baru itu kalang kabut. Dia tentu harus belajar banyak dengan usaha yang lebih besar. Jika tidak lolos, maka dia tidak bisa melanjutkan untuk kuliah di perguruan tinggi tersebut. 

Miss Rena bilang bahwa dengan mempelajari Ensiklopedia Britannica, mengajarkan bahwa ketika seseorang akan memasuki suatu wilayah baru, dia harus belajar memahami budaya, bahasa, bahkan sejarah tempat yang ditinggali. Hal itu tidak lain agar tumbuh rasa cinta untuk mengenal keberagaman dan menghargai sejarahnya.

Sumber Rujukan dalam Sejarah

Memahami tentang ensiklopedia itu sendiri membuat saya jadi kepikiran tentang Wikipedia. Ada yang kepikiran sama seperti saya nggak nih? Pertama nih, kan sama-sama menjadi rujukan pengetahuan. Kedua, sama-sama menyediakan berbagai informasi yang terus diperbarui setiap tahunnya. 

Membahas tentang waktu, perubahan waktu, dan peristiwa yang muncul mengingatkan saya pada materi tenses. Dalam tenses acuan utamanya adalah waktu dan peristiwa/kejadian.

Waktu akan berlalu begitu saja tanpa ada peristiwa yang mengiringinya. Karena adanya peristiwa yang berarti dan bersifat positif, maka masa lampau, masa kini, maupun masa yang akan datang menjadi hal berarti yang layak untuk dikenang, diperjuangkan, dan dipertahankan bahkan dijaga hingga kemudian.

Hal tersebut senada dengan pernyataan Kang Asep Kambali dalam diskusinya bareng teh Ani Berta yang menyatakan bahwa sejarah sendiri merupakan hal yang diciptakan dengan maksimal di masa sekarang, untuk menjadi pegangan dan pengetahuan di masa yang akan datang. Kita sedang menciptakan sejarah, lho!

Kenapa harus ada Ensiklopedia?

Ensiklopedia sendiri berasal dari bahasa Yunani enkyklios (yang berarti  menyeluruh, lengkap atau sempurna) dan peideia yang bermakna pendidikan atau pemiaraan anak-anak.

Dalam bentuk aslinya enkykliospaideia berarti pendidikan umum lengkap atau kursus pendidikan komprehensif, yang kemudian dibakukan sebagai istilah untuk menunjukkan konsep rangkuman karya kecendekiaan yang bersifat universal. Kata ensiklopedia terkadang disingkatkan menjadi ‘siklopedia’ (cyclopedia) dengan arti dan cakupan makna yang sama.

Budayawan Perancis, Denis Diderot, orang yang menginspirasi duo Skotlandia untuk membuat Encyclopedia Britannica, menyatakan bahwa:

Tujuan suatu ensiklopedia adalah menghimpun bersama semua pengetahuan yang tersebar di seluruh muka bumi, menyajikan kerangka umumnya kepada semua orang yang hidup semasa dengan kita, dan meneruskannya kepada orang yang bakal datang sesudah kita. Dengan demikian, segala jerih payah manusia selama berabad-abad tidak akan menjadi sia-sia’.

Denis Deriot

Indonesia juga memiliki ensiklopedia lho. Di era klasik zaman Hindu-Budha ada yang namanya Cantaka Parwa, berisi segala macam ilmu pengetahun dan cerita-cerita mitologi dan wiracarita yang ditulis pada abad ke-9 Masehi. Ada juga macam kitab mau serat yang muncul setelahnya. Selanjutnya, di era kontemporer pasca kemerdekaan sekitar tahun 1954 muncul pula buku ‘Ensiklopedia Indonesia’ dan 1977 ada juga buku ‘Ensiklopedia Nasional Indonesia’. Dan saat ini kita dihadapkan dengan era ensiklopedia digital. 

Ensiklopedia bukanlah buku yang mudah dipahami ataupun sedikit pembahasannya. Bukunya bisa berjilid-jilid, dibuat oleh para ahli di bidangnya, masing-masing buku memiliki halaman yang lebih dari 300 halaman, pembahasannya pun dari berbagai aspek pengetahuan. Namun, mengetahui tentang sejarah suatu bangsa adalah suatu keharusan, agar kita tidak diinjak-injak oleh bangsa lain dan bukti bahwa kita menghargai jasa para pahlawan dan para ahli pengetahuan.

Ensiklopedia di era digital

Adakah yang sudah membaca buku ensiklopedia? Saya sendiri belum semuanya. Sempat melihat-lihat dan membaca sekilas saja. huhu. Berat sekali memang, perlu waktu khusus dan dana yang tidak sedikit. Pada akhirnya, semua memang lebih mudah dengan bertanya langsung pada google yang akan direspon oleh ensiklopedia populer internet yang dikenal dengan Wikipedia.

Baca juga : 10 values Timmyness dari IDN Media

Semua pasti sudah tahu kan tentang Wikipedia? Mencari apapun, laman awalnya yang ditampilkan paling atas adalah Wikipedia.  Nama Wikipedia berasal dari gabungan kata wiki dan encyclopedia. Wikipedia dirilis pada tahun 2001 oleh Jimmy Wales dan Larry Sanger. Kini Wikipedia telah menjadi referensi terbesar, populer cepat berkembang. Proyek Wikipedia bertujuan untuk memberikan ilmu pengetahuan manusia. 

Saya sempat mendengar bahwa sumber di Wikipedia itu ada yang tidak valid juga. Massachusetts Institute of Technology (MIT) bahkan tidak merekomendasikan wikipedia sebagai referensi. Keberadaan laman untuk proses pengeditan artikel untuk semua orang memungkinkan kredibilitas pengetahuan yang tidak pasti. Wales tak menampik sih, memang Wikipedia memiliki masalah atas pilihannya mengadopsi prinsip kolaborasi.

Sementara itu, di sela gempuran internet yang semakin berkembang, berbagai  ensiklopedia pun mulai beralih ke media daring. Mengutip dari BBC Indonesia, Encyclopedia Britannica yang sudah berumur seperempat milenium itupun akhirnya menyudahi masa cetaknya dan beralih ke media internet.

Belajar dari perjalanan Encyclopedia Britannica, ternyata Indonesia pun sempat menggagas pembuatan Ensiklopedia Indonesia secara daring pada tahun 2019. Namun, sampai saat ini ternyata proses tersebut belum terlaksana dengan baik. 

Mari, Membaca Sejarah kembali 

Tulisan ini sebenarnya merupakan refleksi saya setelah ikutan diskusinya Teh Ani Berta sama Kang Asep Kambali. Ketika Kang Asep mengutip kembali quote Soekarno  bahwa ‘bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya’ beliau mencoba menampar kami yang banyak rebahan dan sering menyepelekan sejarah agar mengingat kembali, belajar kembali dan terus belajar agar tidak menjadi bagian dari anak bangsa yang durhaka.

Ensiklopedia menjadi bagian penting bagi para ilmuwan juga buat kita untuk menambah wawasan. Memahami sudut pandang sejarah juga perlu. Karena seringkali memang bias, dan glorifikasi biasanya digaungkan oleh kelompok yang menang. 

Terlepas dari hal itu, poin utama dalam memahami sejarah dan penerapannya adalah agar tidak ada lagi kerugian yang muncul. Sudah cukup banyak kasus yang membuat Indonesia kehilangan sesuatu yang berharga karena ketidaktahuan untuk menjaganya.

Contohnya seperti lepasnya kasus Sipadan dan Ligitan, yang Kang Asep bilang  bahwa kedua pulau tersebut lepas karena tidak adanya mata uang rupiah di sana. Selain itu juga agar tahu banyak pahlawan bukan hanya sekadar yang dijadikan nama jalan atau ditaruh di gambar uang kertas. Dan terpenting agar generasi masa depan yang terlahir dari rahim para ibu juga tahu dan paham dengan sejarah bangsanya. Yuk, baca lagi!

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

22 Replies to “Belajar Dari Ensiklopedia”

  1. pertama kali mengenal istilah ensikopedia waktu SD kayaknya, karena dari kecil suka baca dan kluyuran ke toko buku, jadi nggak asing dengan buku tebel bertuliskan ensiklopedia
    malah aku naksir buku berwarna dengan gambarnya yang bagus mengenai ilmu pengetahuan khusus untuk dipahami anak anak waktu itu, menarik. dan aku suka juga baca buku tentang tokoh tokoh dunia, koleksinya lumayan banget ini dirumah

    kampung inggris di kediri ini jadi jujugan sodara dan temen aku mba buat belajar inggris, seterkenal itu ya kampung inggris ini

    1. kursusan mana mbak yang jadi jujugan saudaranya mbak? Soalnya ada banyak banget kursusan dan kualitasnya jg bagus2 ya.

      Saya jadi bercita-ciata untuk membelikan buku2 ensiklopedia gitu buat anak. Semoga kesampaian yaa

    2. Pas kecil sayangnya g ada toko buku di desaku nih mbak aynun. Lihatnya buku2 abah aja udah males duluan karena tulisannya arab dan tebal-tebal.

  2. ensiklopedia juga bisa jadi warisan yang paling berharga untuk anak cucu kita kelak ya teh. bukan cuman soal harta warisan tanah melulu. ini yang paling krusial ya teh. soalnya menyangkut identitas dan budaya bangsa kita.

    saya sedih juga mendengar Encyclopedia Britannica menyudahi cetak fisiknya.

    kegemaran saya terhadap buku dan ilmu pengetahuan juga berkat adanya ensklopedia lho, waktu smp saya doyan nongkrong di pusda, dulu namanya pusda (perpustakaan daerah) cuman buat terkesima dengan visual dari ensklopedia anak. wow lah pokoknya

    1. Ih keren lah mamah kinan ini bacaannya dari kecil udah berkualitas gitu. Saya juga di jogja suka banget main ke perpusda, ngerjain skripsi juga saya habiskan di perpusda. Tempat favorit banget deh perpustakaan itu.

      Iya sayang banget yaa. Mau gimana lagi, keadaan memang menuntut kita pada digital, termaasuk pada buku ya. Semoga meski dah diubah ke bentuk digital akan memudahkan kita dan generasi selanjutnya untuk bisa mengakses dan belajar sejarah tanpa henti

      1. bukan keren teh, karena awalnya ngecengin kakak kelas yang doyan ke perpus! wkwkwkwkwk, kecengan gak dapet….yaaah pacarannya sama ensiklopedia deh

        iya, lama-lama buku jadi barang mahal ya kaya di film ELI

  3. Aku juga pertama kali kenal ensiklopedia sewaktu SD. Aku senang lihatnya warna-warni dan banyak gambarnya.
    Tapi semenjak dewasa, aku malah belum pernah lagi baca ensiklopedia fisik, lebih sering bacanya Wikipedia 😂
    Tapi aku harap untuk pembuatan ensiklopedia ini tidak pernah berhenti dibuat. Supaya generasi penerus tetap bisa menikmati manfaatnya.

    1. Nah, kan seringnya baca wikipediaa yaa. samaan donk. Mudah diakses karena tinggal klik aja di google yaa. Sudha dihentikan sih pembuatan secara fisiknya. Tapi udah didigitalkan.

      Menunggu banget ini hasil dari ensiklopedia indonesia jg segera didigitalkan dan diupdate terus. soalnya sampe skrg belum jadi malah

  4. Sometimes, bahasa Indo aja masih suka belibet, boro-boro ng-english, bisanya dasar doang, hihi.. memalukan!

    Oalah, ternyata si wiki sama encyclopedia ini collab toh. Pantesan.. wkwk.. Baru tahu aku mbak.

    Indonesia mah beresin Covid dulu aja, jangan bikin ensiklopedia Indo dulu, toh masih ada wikipedia sama google, hihi.. Lagipun, artefak yang pernah hilang dari museum nasional juga nggak ada kelanjutan ceritanyakan, naah..

    Eh, aku ini kenapa sih, kok jadi esmosi gini, wkwk..

    1. Bukan collab Mbaaak. Wikipedia itu ya sumber pengetahuan jg, menariknya dia memiliki bnyk versi bahasanya banyak.

      Haha, 2019 itu masih perencanaan sih mbak, kayaknya sekian puluh tahun lagi baru jadi deh. artefak sama museum aja belum kita jelajah semua yaaa. Pandemi gini semoga masih tetep keurus ya.*kebawa tulisanku yang ngegas kali ya

  5. Waah, ternyata cukup berat ya kalau mau mahir bahasa Inggris, harus sampai ke ensiklopedia. Tetapi, nampaknya itu cukup seru ya. Semoga nanti kalau ada kesempatan bisa ikut kursus Bahasa Inggris di Pare…

    1. Halo mas dodo, salam kenal. Iya, Berat memang, tapi manfaatnya terasa sih, jadi semua mahasiswa memahami basic pengetahuan tempat dia belajar seenggaknya.

      Semoga pandemi segera berakhir, biar kurusan di pare segera buka juga. Kasihan sekarang sepi banget pare nih.

  6. Saya penasaran sama ensiklopedi Britannica ini mbak. Anakku suka banget sama ensiklopedia yang tentang alam, membantu banget sih kalau anak tanya-tanya sesuatu

  7. Beneran jasmerah ya mbak, jangak sekali-kali melupakan sejarah. Beberapa tahun yang lalu saya demen tuh ke puskot (perpustakaan kota) sendirian, berjam-jam baca buku sejarah bangsa. Seru banget rasanya. Tapi sejak kerja, jadi kaum kapitalis, huhu. Lupa serunya membaca sejarah dan mengandalkan Wikipedia. Memang sih ada yg bilang ga kredibel, tapi sampe sekarang saya selalu ngerujuk informasi by Wikipedia juga.

    Btw, aku tertarik banget sama sekolah di Pare itu mbaak. Maklum english ala kadarnya dan sangat belepotan.

    1. Wah, iya jadi keingetan jasmerah lagi. saya malah hampir lupa sama istilah itu. Jaman kerja jadi kapitalis yg apa-apa pengennya praktis gitu yaa. haha

      English ku pun alakadarny, sampai sekarang pun ini ngerasanya kok masih aja nggak mudeng kalo merunut grammar sebuah artikel

  8. Barokallah ya Mba Ghina.
    Bisa belajar bahasa Inggris di Pare seru banget. Ensiklopedia ak dulu baca jaman sekolah. Sekarang masih suka baca juga lewat gramedia digital. Alhamdulillah menambah wawasan. Milenial sekarang kurang banget ngenal sejarah
    Jaman dulu ya mbak. Semoga literasi kita lekas membaik aamiin

    1. Alhamdulillah mbak. pengalaman yg sangat berharga. Bisa belajar lagi sambil momong anak itu ternyata unforgettable moment yaa.

      Semoga tetap dimampukan untuk mengenalkan sejarah pada anak-anak kita nanti yaa

  9. Bagus cara pengajarannya …
    Bahasa sendiri adalah bagian dari budaya.
    Ada pepatah dari Goethe, kalau ingin belajar sesuatu belajarlah dari bahasa aslinya.
    Dia merujuk kepada puisi dan karya sastra besar yang ditulis oleh penulis Jerman, seperti Goethe, Schiller dll.

    Kalau sekarang ini Ensiklopedia dalam buku cetak lebih beragam, banyak juga edisi untuk anak-anak dengan warna yang sangat colorful.

    Makasih yang sudah mengingatkan pentingnya mempelajari budaya dan sejarah dalam bahasa.

  10. Seumur-umur jujur aja belum pernah baca ensiklopedia. Kamus kedokteran, baca. Ensiklopedia, no no. Sudah terlalu banyak buku serius dalam hidupku. Kalau ada waktu kosong maunya baca komik, novel, atau nonton aja sekalian karena lelah ehehe. Hebat Mba Ghina.

    1. Saya pun kalo nggak kursus lagi mgkn ga tau sama sekali ensiklopedia britannica itu, Mbak

      Materi-materi kedokteran mh udah sangat serius mbak, udah kek ensiklopedia sendiri, emang mending kalo selo mh baca komik, novel atau nonton aja yaa. Lebih bikin fresh otak kita. hihi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!