Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Alasan Menulis Blog ala Ghina’s Journal

5 min read

alasan menulis blog ala ghina's journal

Suatu ketika saya baca instastory teman. Dia menulis kalau memang kamu menyukai sesuatu, pasti kamu akan melakukannya dengan sungguh-sungguh, tanpa tapi. Lalu, saya bertanya-tanya sendiri, saya mengidentifikasi diri bahwa saya suka ngeblog. Hmm, sekuat apa ya alasan saya untuk dikatakan orang yang suka menulis di blog?

alasan menulis blog ala ghina's journal

Pertanyaan semacam ini memang seringkali jebakan. Jebakan untuk mengetahui alasan di balik apa yang kita lakukan. Everything must be started with ‘Why’. Tentu mau nggak mau memang kita harus memiliki alasan kuat untuk melakukan sesuatu. Bukan karena pengen aja, atau malah karena ikut-ikutan.

Keberadaan Ghina’s Journal Blog bisa menjadi satu bukti bahwa saya memang suka menulis. Ya, meski seminggu sekali, setidaknya sudah ada konsistensi dalam kegiatan tulis-menulis lah ya. Saya juga dua bulan ini lagi mayan rajin buat ikutan kelas blog untuk meningkatkan skill ngeblog saya. Lalu, sebenarnya apa sih yang mendasari munculnya tulisan-tulisan dalam blog ini?

Nah lho, saya merasa ditampar kalau ditanya alasan, termasuk pertanyaan yang muncul semalam dari  mbak Monica Anggen, pemateri di pertemuan pertama kelas Growth. Beliau bilang jika kita perlu punya satu motivasi kuat untuk tetap konsisten menulis. Setelah saya coba merunut berbagai latar belakang alasan, di bawah ini akan saya uraikan alasan kuat yang memotivasi saya untuk tetap menulis. Saya urutkan berdasarkan pengalaman awal saya mengenal dunia tulis menulis hingga saat ini.

Alasan untuk menulis

Tempat menumpahkan segala rasa

Saya adalah anak rumahan. Waktu kecil, saya nggak boleh sering-sering main di luar atau ke rumah teman. Jadilah menulis sebagai pelampiasan saya buat meluapkan emosi dan membagi apa yang saya rasakan. Nulisnya ya di diary. Ada yang suka main diary nggak nih?

Menulis di diary ini terus-menerus saya lakukan hingga sekarang. Terasa sekali memang, pikiran cukup plong. Apa yang saya pikirkan, keluhkan, hingga apa yang susah untuk diutarakan tersalurkan dalam bentuk tulisan.

Suka geli sendiri memang saat membaca tulisan pribadi. Saat MTs/SMP, tiga buku catatan harian saya pun saya bakar karena saking malu dengan isi tulisannya. Sekarang, jika ada tulisan yang bikin malu dan jijik di blog saya maka saya akan memprivate tulisan tersebut. Tidak saya hapus, karena saya rasa itu adalah salah satu proses belajar dan pendewasaan.

Mengikat ingatan

Bisa dibilang saya ini memang anak visual banget. Saya tidak mudah menangkap materi pelajaran/pembicaraan tanpa menguraikannya kembali dengan mind mapping, Saya juga bukan anak yang mudah hafal lirik meski sering dengar lagu berulang-ulang. Makanya, kertas dan pulpen selalu ada di samping saya.

Cara berpikir visual ini memang agak boros. Memerlukan banyak barang. Tapi, justeru karena visual ini saya jadi masih sedikit terbayang dengan posisi tulisan di buku, tulisan di Mind mapping yang saya buat, atau bentuk objek tertentu, dan lain sebagainya. 

Nah, karena itu pula sebagai anak visual saya cukup terbantu untuk menguatkan ingatan saya dengan menulis. Menulis akan cukup membantu saya  untuk mengingat sesuatu atau menguatkan hafalan. Karena dengan menulis, berbagai penelitian bilang bahwa kita berarti  telah membaca dua kali.

Tentunya, sekadar menulis saja memang tidak cukup. Untuk lebih mengolah ingatan dan menambah wawasan, saya juga perlu membaca. Belahan hati dari menulis adalah membaca. Tanpa membaca tentu saja tulisan yang dibaca seperti omong kosong. Baca juga nggak boleh asal baca. Kudu disaring dulu sebelum dikutip.

Merunut pola pikir

Bangku kuliah adalah cerita pertama saya mengenal yang namanya tugas makalah. Dari sini, saya benar-benar kelabakan untuk menuangkan tulisan. Alhasil kegiatan saya sebelum membuat makalah adalah membaca banyak makalah dan tanya-tanya sama kakak kelas.

Oh, ternyata dalam menulis itu perlu dirunut. Biar tidak seperti orang bicara ngalor ngidul nggak jelas. Wah, ini saya banget, fikir saya. Kalau diajak ngobrol/membahas tentang suatu hal, saya juga suka tiba-tiba stuck sendiri. Lalu saya bertanya-tanya ‘tadi aku ngomong/nulis apa sih, kok muter-muter’. Sering banget begitu.

Maka dari itu, kalau diminta untuk ngomong/menulis suatu hal itu saya mending menulis poin-poinnya terlebih dahulu. Ternyata lumayan juga. Meski masih kadang acak, tapi setidaknya sudah ada pijakan untuk merombak kembali obrolan atau tulisan.  

Menyimpan kenangan

Dalam bahasa Inggris, kita mengenal yang namanya tenses (kala). Bentuk kata kerja akan berubah karena waktu dan peristiwa yang terjadi. Dengan kata lain, fakta yang tanpa adanya ikatan waktu dan peristiwa tidak akan memiliki relevansi apapun alias nggak penting sama sekali. Kita menyebutnya kenangan. 

Sebagai perempuan, kemelakatan akan kenangan memang nggak bisa lepas. Biar nggak terlalu melow, maka saya buat beberapa tulisan yang menyimpan peristiwa-peristiwa berkesan. Juga, berharap tulisan-tuisan saya suatu saat bisa dibaca oleh anak saya.

Menambah diksi dan pengetahuan

Pertambahan diksi dan pengetahuan dalam tulis menulis tentu tidak akan lepas dari kegiatan membaca. Semakin banyak baca, diksi-diksi dalam penulisan nantinya akan bertambah beriringan. 

Baca juga : Belajar dari Ensiklopedia

Maka, ketika Mbak Monic yang target sebulannya bisa menghabiskan 7-10 itu membuat saya merasa ‘ditampar’. Karena jujur saja saya malah lebih banyak nulisnya daripada membaca buku. Dalam sebulan saya hanya membaca minimal 2 buku, namun menulis hampir setiap seminggu sekali. Memang baca buku itu perlu fokus dan waktu yang cukup panjang. Jadi, sebagai gantinya saya biasakan membaca beberapa website terpercaya untuk menambah wawasan saya.

Memperluas pertemanan

Ini adalah bonus dari menulis yang sangat patut untuk disyukuri. Saya senang sekali mengunjungi blog dan membaca komentar teman-teman lain yang berkunjung. Terasa seperti menemukan kehangatan. Apalagi kalau sudah akrab dan saling memberi respon.

Selain itu, berteman dan menemukan frekwensi positif selalu memberi suntikan semangat buat saya yang acapkali naik turun semangat menulisnya. Terimakasih buat semua teman-teman yang blogger, kalian sungguh menginspirasi.

Personal branding

Personal branding ini cukup giat digencarkan oleh berbagai pakar media. Kebutuhan untuk membangun personal branding sejalan dengan berkembangnya kebutuhan media yang lebih khas dan ladang cuan yang menggiurkan. 

Oleh karena itu, menulis sebagai media untuk menunjukkan personal branding ini saya sedang coba lakukan. Masih cukup berat memang terutama karena kepribadian saya yang cukup introvert. *alesan. Ya, masih diupayakan untuk dioptimalisasikan kok. Bismillah.

Kendala-kendala dalam menulis

Belum mengoptimalkan outline

Saya baru mengetahui dari kelas blogging kemarin, jika kita bisa membuat outline terlebih dahulu sebelum menulis blog. Seringkali memang menulis langsung itu membuat fokus tulisan menjadi melebar.

Namun, saya nggak tahu kenapa seringnya tidak terencana untuk menulis satu topik dan suka muncul ide ditengah-tengah menulis. Itulah sebabnya, penggunaan outline belum dimaksimalkan dengan baik.

Manajemen waktu kurang optimal

Menurut para bloger profesional, jadwal memposting tulisan sebisa mungkin di hari yang sama atau bahkan di waktu yang sama. Karena menghargai pembaca berarti memberi jadwal rutin membaca bagi mereka. Belakangan saya mencoba menjadwalkan posting blog setiap hari rabu. Namun seringkali, keidean baru muncul setelahnya atau malah mepet-mepet pas akhir pekan sudah dipenghujung.

Selain itu, untuk meningkatkan kunjungan blog, beberapa teman malah memiliki list blogwalking sendiri. Salut banget sama teman-teman yang tersebut. Saya suka kewalahan dan merasa butuh waktu banyak untuk melakukannya.

Emang ya, kalau disempatkan sih padahal sebenarnya bisa-bisa aja lho.

Masih setengah-setengah dalam mengoptimalkan media sosial

Ini memang tantangan banget. Saya sudah lama sekali tidak memposting hal-hal berbau agak personal di media sosial. Terlalu enjoy menyimpannya sendiri, hehe. Gegara ikutan kelas-kelas blogging yang ujung-ujungnya pasti membahas personal branding, akhirnya saya coba beranikan diri untuk mengaktifkan kembali media sosial saya.

Sudah lumayan terisi lagi lah, meski masih kadang-kadang. Mengaktifkan media sosial ternyata effortnya lebih besar daripada effort untuk mengisi blog itu sendiri.

Malas

Yuhu, ini alasan paling klasik tapi memang nyatanya sering terjadi. haha. Terlalu sering menikmati kemalasan atas nama kesibukan lain dan tidak adanya ide menulis. Makanya, sempat menulis setidaknya seminggu sekali itu sudah lumayanlah buat saya mah.

Tapi, kalau bisa lebih kenapa harus kurang ya?!!

Menulis menurut Monica Anggen

Ini adalah kali pertama saya mengenal Mbak Monica Anggen. Ternyata beliau adalah seorang penulis buku dan juga tentunya seorang bloger. Kesan pertama saya, orang ini keren sekali multitaskingnya. Dia bilang, semalam mengisi materi sambil rapat bareng klien lanjut ngetik di jalan. Sebagai orang yang sering typo, saya jelas kagum sekali. Mata dan jemarinya pasti awas dan fokus banget. hihi

Menulislah dengan gaya yang paling menyenangkan untuk diri kita dulu

Monica Anggen

Hakikat menulis ideal senantiasa digaungkan oleh para penulis profesional. Tulisan yang orisinal, yang dibuat dengan ketulusan hati, penuh dengan data dan riset yang kredibel dan lebih mempercayai buku sebagai acuan utama adalah hal yang saya sukai dari tips menulis beliau.

Tidak dipungkiri, di tengah gempuran berbagai media, orisinalitas dan keakuratan data menjadi penting. Dengan dibukanya berbagai pelatihan kepenulisan, saya yakin para penulis senior ingin sekali menekankan betapa pentingnya orisinalitas dan kreativitas berpikir dalam menulis. Tidak hanya asal menulis, atau malah menulis dengan modal copy paste. BIG NO

Membaca tulisan satu orang dengan orang lainnya itu memang pasti akan berbeda. Makanya kemudian kita bisa menemukan kekhasan  pada setiap penulis. Jangan merasa nggak punya ide, begitu mbak Monic bilang. Gali ide dengan mengamati setiap detailnya. Jangan cuma menikmati nonton, baca, dengar, lalu berlalu begitu aja. Eman

Dari tulisan kita itu pasti akan menunjukkan gambaran siapa kita sebenarnya. Menurut Mbak Monic, kesadaran perlu diterapkan saat menulis. Saya kira ini yang menjadikan tulisan di media berbeda dengan model tulisan ala diary. Karena jejak digital media itu seram lho. Kita mati status kita masih bisa dibaca netizen, kita populer segala pernyataan kita saat di kondisi A dan kondisi B bisa dibolak-balikkan. 

Akhir kata, mengutip pesan dari Mbak Monic ‘Menulislah dengan gaya yang paling menyenangkan untuk diri kita dulu’. Semoga tulisan-tulisan saya mampu menebar kesenangan dengan bonus kemanfaatan ya. Aamiin.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

75 Replies to “Alasan Menulis Blog ala Ghina’s Journal”

    1. yuk, utamakan kita dulu sebelum org lain yuk mbak.Kalo saya, berasa ada momen yg hilang dan bikin nyesel banget rasanya. Makanya masih tetep main jurnal buat coret-coretannya.kali aja menginspirasi buat dibikin blogpost.

  1. Seru sekali membaca perjalanan menulis Mbak Ghina, termasuk saat menulis di buku harian. Diary-nya pakai gembok apa tidak, Mbak? Hehehe

    Tapi memang menulis membuat kita bahagia ya Mbak. Karena banyak sekali yang bisa kita tulis dalam hidup ini. Apalagi banyak orang yang bisa dijadikan motivator menulis, termasuk Mbak Monica.

    1. saya gembok dan saya umpetin pokoknya biar nggak ada siapapun yang baca. hihi.. kalo sekarang mh diarynya nggak digembok karena tulisan2nya diisi to do list dan cerita harian singkat.

      Bahagianya karena tetap berkarya yaa mas. Seenggaknya kita memanfaatkan apa yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada Kita. Mari terus berkarya.

  2. Bener banget. Ketika nulis, saya juga hepiiiii banget. Ditambah ada perasaan lega kalau udah nulis. Seharian ngga nulis rasanya kayak ada yang kurang. Sukses terus mba ghinaa

  3. Poin merunut pola pikir, ini yang sampek sekarang aku masih susah ngaturnya. Misalnya, mau bikin cerpen, tapi aku langsung aja gitu nulis, tanpa ada semacam orat-oret. Alhasil, jadinya lebih dari cerpen, haha..

    Puisi juga gitu, jadi yang ada dipikiran langsung aja dituangin, nggak pake basa-basi kata-kata dulu, kalopun “mandek”, aku bakal coba cari kata atau kalimat lain yang sekiranya nyambung.

    Anyway, cara itu nggak terlalu nyusahin otak sih, selama tulisan itu jadi, dengan waktu yang sedikit lebih lama, hihi..

    Semangat mbak Ghina.. Tulisanmu selalu seru dan bermanfaat untuk dibaca kok 😀

  4. Sebelum bisa menulis dengan menyenangkan, pembiasaan untuk menulis merupakan syarat mutlak agar bisa terus menerus menulis tanpa henti. Pembiasaan ini nantinya yang akan membuat kita paham gaya apa yang paling cocok dan menyenangkan bagi kita sendiri. Nice article.

  5. Memang terkadang seperti itu ya, seiring berkembangnya kemampuan menulis, saat membaca tulisan-tulisan lama terkadang merasa malu sendiri.

    Dulu yang kita tulis entah seperti apa bentuknya sudah terasa bagus, tapi kalau dilihat sekarang, banyak kata-kata yang biasanya bikin senyum-senyum sendiri.

    1. Hallo mas dirga. Pengalaman kepenulisan saya mh belum seberapa dibandingkan sma mas dirga dan mas bambang mh. Merasa bersyukur sekali satu tim sma orang2 keren ini.

  6. Barokallah mba Ghin bisa ikutan kelasnya. Semangat terus ya, nggak Sabar menunggu kisah selanjutnya di kelas. Semangat menulis selalu. Karena tulisan yang bagus adalah tulisan yang selesai. Pelukkkk.

    1. waaah iya nih, jadi keingetan sama draft yg belum diselesaikan nih, haha.

      Ini baru pertemuan pertama mbak. sungguh menantang. Pertemuan-pertemuan selanjutnya kita lihat nanti nih,.. semoga kuat.

    2. Alhamdulillah Mbak Nyi. Ini kesempatan berarti banget. Tim saya akhirnya tim dari jawa tengah semua, haha. serasa nemu sodara, karena selama ini kalo ketemu blogger kebanyakan dari jawa barat atau padang gt.

  7. Dulu aku tuh seneng nulis diary, tapi lama-kelamaan curhatnya pindah di FB.

    Di blog paling sesekali aja nulis, ya rata2 di media sosial sih.

    Akhirnya sekarang berusaha lebih banyak nulis di blog, karena lebih bisa bertahan lama kapanpun dia dicari. Beda dengan medsos.

    Sepakat kalau nulis sesuai gaya masing-masing saja 😍

    O ya dipungkiri atau dimungkiri? Ini salah satu hikmah dari kegiatan nulis dan komunitas, ada aja yang membuat saya mikir “wow, saya tidak tahu selama ini!”

    1. aku ga berani curhat di FB mbak tri, followerku tetangga dan temen masa kecil semua, jadi males. haha. Makanya suka nulis di blog karena pembacanya bisa jadi bukan orang dekat kita dan toh mereka jd nggak ikut campur dalam urusan kita d dunia nyata.

      Eh jadi cek KBBI nih. kata dasarnya kan mungkir ya ternyata. pungkir itu kata tidak bakunya ternyata, hihi

  8. Aku sebagai orang yang jarang menulis dan masih jarang banget untuk buka blog orang, mulai tergugah lagi nih ghin hahahaa. Semenjak SMA udah gak pernah nulis diary lagi. Kalo di inget2 bener juga ya, nulis ngebantu aku untuk meluapkan segala perasaan dan manfaat2 lainnya. Aku padamu ghinnnn huhuu

  9. Wah, kelasnya seru sekali, Mbak…. Senang ya bisa belajar langsung dari praktisi yang juga giat mencari ilmu, jadi wawasannya juga luas dari pengalaman maupun referensi. Soal baca makjleb juga, sih. Belakangan ini jarang menamatkan satu buku, lebih banyak menulis.

  10. Saya dulu bener2 gak pede kalau harus nulis diary. Padahal teman2 SD sya sepertinya banyak punya diary. Pernah nyoba nulis selembar trus sya robek dan buang lembarannya. Tapi sekarang mindsetnya sudah sya ubah pelan2. Hehehe

    1. eh kenapa nggak pede mbak? Kan tulisannya disimpan sendiri, dikunci, dan ditaruh di tempat tersembunyi kan? Saya juga ada yg dirobek terus lgsg dibakar kok. Tapi lega jadinya, karena udah diurai perasaannya.

  11. Saya juga senang tiap kali menulis. Tapi untuk menumbuhkan semangat menulis yang kadang masih mbuh-mbuhan mbak Ghina. Jadi aku emang harus tahu dulu, alasan kenapa aku harus nulis, supaya aku lebih mantep ya. Btw thamk you sharingnya 😬

  12. Waduh sama mbak, saya juga geli-geli gitu baca tulisan saya pas masih jaman awal2 jadi anak ABG.

    Ingat betul dulu itu sering nulis, nyestatus sih lebih tepatnya di FB. Status alay-alay gitu, ampun dah ke bawa sama lingkungan wkwk

    1. Geli tapi seneng. Wah, dulu aku udh nulis kayak, udah mayan juga, udah nyimpen kenangan ini. hii.

      masa-masa alayku tersimpan di fb mbak, tulisan berangka, gede kecl, dan lainnya haha

  13. Aku pun tetap nulis diary juga kak hingga menjelang akan kuliah haha habis, rasanya plong banget dan setelahnya hijrah ke blog untuk diary digital di awal tapi kalau sekarang lebih dari itu.

    1. Sekarang saya ganti diary-nya dengan isian ala bullet journal gitu. Jadi ga begitu bnyk curhatnya, malah kebanyakan to do listnya. hihi

  14. Hal yang paling dirasakan saat menulis blog adalah memperluas pertemanan. Jadi bisa mendapatkan kenalan baru dari berbagai daerah. Menyenangkan 🙂

    Semangat Mba 😉

    1. Iya mbak. ini ikutan kelasnya mas irwin kerasa banget kalo mainnya saya di dunia blog ini masih kurang luas. Ternyata banyak banget bloger keren2 dan produktif di luar sana.

  15. Aku masih sering banget nulisnya ngalor ngidul, ternyata penting banget membuat point-point ya mbak biar nggak ngalor ngidul tulisannya. Noted nih, bisa dicoba di tugas berikutnya

  16. suka sama tulisanmu yang ini. Banyak banget informasinya.

    Aku setuju kalau segala sesuatu itu harus dimulai dari kenapa dulu, dari situ ketahuan kalau motivasi kita apakah berasal dari dalam atau dari luar.

    Client kita yang pertama memang diri kita sendiri, jadi kalau copy paste sebenarnya bukan jadi membuat diri kita bangga, tapi malah sebaliknya.

    1. Aku ngutip simon sinek dari tulisannya Teh Reni juga nih. Nyari why-nya sendiri ternyata diambil dr manfaat yg kita rasakan yaa. Masih kurang luas jg nih mainnya, jd belum bisa optimalisasi blog dan bercuan jg. haha

      Setuju lah teh, client pertama itu ya kita sendiri yaa. Jadi tulisaan yang menyenangkan dgn gaya bahasa dan keleluasan pengetahuan itu akan keciri banget.

  17. Saya suka menulis diary mba 😆 hihihi ~ eniho, terima kasih info-infonya. To be honest, saya masih perlu belajar banyak untuk menulis dengan baik dan saya pribadi pun masih sering ngalor ngidul kalau sedang menulis, kadang bahkan tujuan akhirnya melenceng dari tujuan utama dan berbeda sama sekali 😂 kalau sudah begitu, ujungnya nggak saya publish 😆

    Ohya, saya menikmati tulisan-tulisan mba Ghina in general, jadi menurut saya tulisan mba Ghina sudah oke banget 😍 semoga mba Ghina semakin semangat membaca dan menulis sesuai harapan mba ~

    1. Tulisan mbak eno mh udah enakeun banget kok. Ngalor ngidulnya tapi berfaedah dan berurut. Suka banget bacanya mbak. Jadi kerasa, ih ini menurutku biasa aja jadi ga perlulah ditulis, eh abis baca punya mba eno, lho ternyata asyik juga kalo ditulis.

      Terimakasih Mbak Eno. Masih perlu mengasah ini, semoga makin berisi dan menyenangkan ya kalo mampir ke sini.

    1. iyaaa. Aku jadi punya buku khusus buat bank ide nih. Nanti tinggal dituliskan aja dari ide2 tersebut. Meski seringnya meleset, tapi seenggaknya udah ada yg inign ditulislah

  18. menulis mengurai isi kepala dan hati, hehehe. dan kayanya kita semua sama ya, karir menulis diawali dari diary, hahahaha.

    semangat menulis ka

    1. asik, anak diary nih kita teh..

      Abis diurai gt kalo ada masalah terus kerasa nggak sih ih ini mh bukan masalah cuma kita yang mempermasalahkannya aja gt ya

  19. Yupppp bener banget! Dengan menulis membuat semuanya menjadi abadi. Terima kasih atas inspirasinya Mam Ghina!❤

  20. Sama nih masalah kita mba, memanajemen waktu supaya lebih konsisten menulis hehe
    semoga kedepannya kita bisa memanajemen waktu untuk menulis

    1. Naaaah, ternyata nggak cuma aku aja yaa yg punya kendala gini. Tapi yaitu mbak, saya blm maksimal pake uotlinenya. Jadinya, yaa nulis kasaran aja dulu, yg penting menyenangkan untuk diri sendiri dulu tulisannya.

  21. Sama banget di masalah masih setengah-setengah memanfaatkan medsos, aku jarang banget share tulisan2ku di blog, wkwk. Ntar begitu di medsosnya lagi rajin, malah lupa ngeblog. Duh duh, kapan bisa seiring sejalan gitu.

    1. mba marita mah sudaha sngat optimal. Bahkan bisa bikin IG Live dengan konten yang manfaat juga. keren ih.

      saya juga kewalahan ngatur medsos ini, rasanya butuh wktu banyak banget, padahal kerjaan rumah blm kelar.

  22. Wah keren banget mba monicaa. Pantas aku ngga asing gitu sama nama beliau sebelum ketemu di BRT. MasyaAllah seneng banget pasti yaa bisa ada di sana belajar bareng2

    1. aku jadi penasaran banget sama mbak monica jadinya, Mbak. Alhamdulillah ini kelasnya super deg-degan setiap harinya. Kelihatannya santai gitu para suhu ngajarinnya, tapi ternyata main kick-nya nggak kira-kira juga, haha. Seru-seru.

  23. Salah satu yang paling aku suka saat ngeblog itu sama kyk Mbak Gina: dapat temen baru. Walaupun gak pernah ketemu, tapi rasanya baca blog temen-temen online ini serasa aku sudah kenal pribadi mereka masing-masing. Bahkan dengan ngeblog aku juga bisa belajar sesuatu dari pengalaman dan ilmu yang mereka bagi melalui blog.🥰

    Tapi kalau kekurangan aku saat ngeblog itu ya gitu, Mbak Gin, aku kadang suka males nulis 😂. Sama kalau nulis aku cuma berdasar perasaan doang.🙈

    1. tos mbak. bikin circle pertemanan meski tambah tua malah ga jadi sempit yaa. hihi. Aku pun begitu lho, merasa lebih deket bahkan drpd sama teman yg dari kecil karena passion sama dalam hal menulis ini.

      Aku pun lhooo, dengan perasaan. Tapi dengan perasaan malah lebih ngena lho. lebih menyenangkan. kan itu poinnya, menyenangkan diri sendiri dulu

  24. menyenangkan sekali bisa ikutan kelasnya mba monic dan dapat ilmu dari sana
    aku percaya dan salut sama ketekunan mba monic juga, apalagi bisa nerbitin banyak karya
    awalnya aku ngeblog juga sebagai diary online mbak dan karena memang suka nulis dan nggak nyangka sampai tahap sekarang bisa kenal dengan temen temen blogger meskipun lewat dunia maya

  25. Hola Ghina..

    Apakabar..?

    Tulisanmu bagus, mengalir dan tetap terstruktur. Rupanya pelajaran SEO yang dikau dapat sudah sebagian besar terserap dengan baik yah.. hahahaha

    Tinggal dikembangkan saja Ghin dan dilatih terus.

    Tapi buat saya cara menulis Ghina sudah bagus banget, tulisannya enak dibaca. Jangan sampai terganggu hanya karena mau memakai SEO yah.

    Salah satu poin di atas memang benar, yaitu tujuan atau alasan menulis. Sekecil apapun tujuan itu akan membantu supaya kita menjadi “terarah” dan kemudian bisa mengembangkan diri lebih jauh.

    Hal itu lebih baik daripada tanpa adanya tujuan, jadi kita kocar-kacir kayak ayam kehilangan induk, tidak tentu arah.

    Tidak masalah juga kalau menyebut “saya mau nyari uang dari blog” normal saja. Yang penting ada tujuan.

    O ya, saya sudah baca beberapa tulisan bertema ini di blog kawan-kawan lainnya dan menurut saya tulisanmu salah satu yang paling bagus.

    Keep the good work dan tetap semangat yah…

    #btw, kayaknya kelas blogmu/SEO mu sebenarnya nggak gratis deh.. wakakakaka.. tahu kenapa saya sebut begitu?

    Also templatemu bagus , clean sekali…

    1. halo juga mas Anton. alhamdulillah, sehaaat selamat. mas anton dan kesayangannya apa kabar?

      Asik, akhirnya ada yang ngeh juga sama template baruku, hihi
      Aku beli template ini gegara template kmrn kolom komentarnya nggak berurutan. Supaya lebih personal, akhirnya belilah. hihi

      Wah, jangan2 abis ngecekin seo inspectornya ya mas? sampe ditelisik aja seo-able nya. Aku sempet minder karena tulisan temen2 itu lebih formal. Tapi, ku pikir memiliki gaya menulis sendiri itu justeru identitas. iya kan yaa?

      Setelah ditimbang-timbang, perlu ada tulisan yg seo tapi tetep ada pori utk yg nggak seo pun nggak papa ya .as

      Eh eh, kenapa kok ga gratis mas? apa link link itu kah penyebabnya?

      1. Alhamdulillah sehat Ghin..

        Soalnya templatenya enak dilihat baik di ponsel atau di desktop. Hurufnya enak dibaca juga polos tidak banyak lekukan. Tampilan secara keseluruhan memang ok banget lah…Beda dengan saat terakhir kali saya kesini..

        Nggak kok.. hahahaha saya tidak pake seo inspector. Tapi kalau sudah biasa mudah kok menemukan kata kunci yang dipakai dan kemudian menelaahnya sendiri, seperti susunan judul, sub heading, ada outbound link, dan kemudian awal paragraf (walau disini kata kuncinya disebar dan dipisahkan oleh kata-kata lain).. 😀 😀

        Kalau mau, bisa ditambahkan internal linknya Ghin.. 😀

        Kenapa tidak gratis? Yah karena saya sudah membaca tulisan sejenis dalam seminggu di lebih dari 20 blog.. hahahaha.. dan ada bagian yang sama.

        1. Link ke nama tertentu
        2. Promosi buku

        Hahahahahaha… kelihatannya gratis, tapi sebenarnya saya bilang kolaborasi yang saling menguntungkan. Ghina mendapatkan pengetahuan dan pihak satunya mendapatkan promosi.

        Sudah begitu mendapatkan branding yang bagus ..

        So, sama-sama menguntungkan. Jadi, saya pikir tidak gratis juga. Tapi, karena memang tidak berbayar, ya wajar juga disebut gratis sih.. hahahaha

        1. Kata kuncinya ini berarti nggak perlu disebar ya mas?

          Iyaa ini masih peer banget masuk-masukin internal link. Baru ngeh jg sama no follow dofollow gitu. Kalo ga ikut kelas seo, mgkn pengetahuan kek gt jg saya jd ga tahu yaa.

          Kmrn sempet pake font yg lekuk2 mas. Terus kata suami bikin pusing, kalo tulisan d media enak ya yg lurus2 katanya. Akhirnya saya survey di beberapa media mainstream dan emang fontnya lurus2 gt, jd ga bikin mata siwer. Sbnrnya pengen yg kayak di medium tp blm tahu nama fontnya. Eh tp punya mas anton itu mirip, nama fontnya apa ya mas?

          Nah iya mgkn itu yg disebut simbiosis mutualisme yaaa. Naruh link aja sengaruh itu buat naikin DA dsb.

          1. Nggak masalah kok Ghin.. selama ini aku pelajari kata kunci bisa disebar juga dan diselingi kata lain. Hasilnya bisa sama. Opsinya bisa disebar atau tidak, dua-duanya bisa sama.

            Cuma kalau disebar enak karena tulisan pembukanya jadi nggak kaku.

            Iyah SEO memang butuh sedikit ekstra kerja… masuk-masukin link dst. Cuma kalau sudah terbiasa mah nggak akan jadi masalah. Pelan-pelan saja Ghin.. jangan sampai SEO merusak gaya menulis kamu, karena justru itu yang penting. Kalau terlalu dipaksakan malah nanti merusak gaya yang sudah ada.

            Aku cuma pake bawaan saja, Roboto saja. Memang kalau yang banyak lekuk terlihat “menarik”, tetapi lama kelamaan kalau dibaca bikin nggak enak. Dan kupikir huruf yang dikau pakai sudah pas banget dan ukurannya juga tidak kecil di desktop atau di ponsel.

            Btw, dikau pake Yoast kan (hahaha).. itu tool yang bagus Ghin, cuma penerapan kata kuncinya kaku (tidak boleh misah). Bisa dipakai tapi jangan keseringan karena cenderung bikin kita terlalu fokus pada SEO..

            Mungkin yang dikau harus tambah itu .. bagian menambahkan meta description.. Kan di Yoast itu ada menunya, coba pakai (inget keywordnya yah)..

            Terus belajar ya Bu… cemungutz

          2. Okay, berarti malah lebih variatif yaa. Masih suka baca tulisan orang naruh judul di baris awal banget kirain itu syarat apa, tenryata biar seo able yaaa..

            Ini masih dalam tahap pembiasaan mas. kalo udah nulis kelar, peer jadi mayan bnyk jadinya ya. hihi. Iya, semoga bertahan nih gaya nulisnyaa, meski kadang kalo abis baca tulisan orang itu suka kebawa-bawa juga padahal.

            Iya pake yoast juga, tapi aku kurang maksimal juga makenya. Banyak yg nggak ngehnya, make yoast cuma buat naruh meta desc doank. nggak naruh keyword juga, blm nemu naruhnya di mana sih itu, haha

            Siaaaap, makasih banyak mas anton atas masukannya. Berharga banget ini buat newbie seo yg terseok seok kayak aku ini.

  26. Nice post mba. Sepakat sekali, terutama yang mengikat ingatan, merunut pola pikir, dan menyimpan kenangan. Mengikat ingatan, sekarang saya mengingat beberapa poin penting yang saya tulis di blog pribadi (mungkin berguna juga buat orang lain yang membacanya). Merunut pola pikir: dengan membiasakan menulis saya jadi berlatih nulis dan ngomong lebih sistematis. Sedangkan yang menyimpan kenangan, bisa jadi “album” foto yang disertai konteks atau ceritanya. Salam kenal.

    1. hallo mas iqbal.. ketiganya ternyata ada yang seiya juga yaa. Tapi ngomongin tentang menyimpan kenangan, saya pernah diskusi di postingan teman, mungkin semua memang nggak ada yang abadi, tapi setidaknya tulisan kita akan cukup berguna dan menyimpan kenangan utk saat ini hingga masa hosting masih ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!