Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Menyanyi Untuk Mencintai Diri

3 min read

menyanyi untuk mencintai diri

Percaya nggak, saya ini pernah tampil nyanyi di depan ratusan orang? wkwk, dulu saya sering diajak manggung oleh Abah di depan jamaah pengajian gitu. Saya tentu nggak bisa nolak perintah orang tua, kan. Tapi ternyata, saat menyanyi itu membuat saya merasa mencintai diri sendiri seutuhnya.

menyanyi untuk mencintai diri

Hai, semua. Apakabarnya? kemarin rencananya ikutan odop ya, nih. Tapi ternyata, karena ikutan kelas yang super duper ketat, saya keteteran juga. Maafkeun ya. Selama ini jadi bisanya ngedraft doank. huhu *alesan

Anyway, ngomongin tentang hobi, salah satu hobi saya yang masih suka saya lakukan selain menulis adalah menyanyi. Kenangan masa kecil saya tentang menyanyi merupakan kenangan terindah, terutama karena ini menjadi jalan yang membuat saya lebih dekat dengan Abah saya.

Mempunyai Abah yang hobi mendengarkan musik dan bermain musik membuat anak-anaknya pun ikut-ikutan. Musik selera Abah menjadi selera kami juga. Abah bermain musik, kami menyanyi bersama-sama.

Musik kesukaan Abah sebenarnya seperti bapak-bapaknya pada masanya. Lagu-lagu seperti lagu Rhoma Irama, Nasida Ria, Ida Laila, Elvi Sukaesih dan lainnya. Iya, cenderung suka dangdut gitu. Uniknya Abah juga suka sekali dengan lagu padang pasir seperti lagu-lagunya Ummu Kultsum. Itu lho penyanyi yang berasal dari Mesir.

Nah, yang paling kuat ini adalah Ummu Kultsum dan lagu-lagu religi. Keempat kakakku saat kecil suka diajak manggung juga sama Abah kalau ada acara pengajian. Enaknya bahkan sempat direkam juga sama Abah.

Saya juga beberapa kali diajak manggung sama Abah, tapi sayangnya saya nggak ada barengannya. Adik saya lebih suka main musik daripada nyanyi. Jadi, biasanya kalau tampil gitu Abah akan mengajak orang lain untuk bernyanyi juga. Sedihnya, saya nggak punya rekaman masa-masa kejayaan itu ya. haha

Apa yang kami nyanyikan saat di panggung? Ya tentu saja lagu-lagu religi, seperti qosidahan maupun sholawatan. Kan ngisi pengajian, masa dangdutan, hihi

Memahami Suara Sendiri

suara rekaman lebih jelek daripada suara asli

Apakah saya menyanyi karena memiliki suara yang bagus? hmm, rasanya suara saya biasa saja. Hanya bisa sedikit cengkok, suka suara mlengking, dan memang senang bersenandung saja.

Kebiasaan di rumah selama 19 tahun tentu membekas cukup erat dalam diri saya. Rumah yang sering ramai oleh alunan musik padang pasir dan kamar saya yang biasa saya ramaikan dengan suara radio membentuk saya suka menyenyi sepenuhnya. Lemahnya, saya tidak mudah menguasai lirik, tapi saya mudah mengingat nada. *Eh piye?

Nah, suara saya ini identik dengan suara kecil tapi bisa melengking tinggi. Lagu-lagu kayak Mariah Carey gitu saya suka, karena menantang saya untuk bersuara tinggi. Tapi belakangan ini malah aneh, suara saya semakin tidak kuat untuk nada tinggi. Iyalah, nggak pernah dilatih sih.

Memang benar ya, untuk memiliki suara yang bagus itu tidak cukup hanya sekadar membiarkannya begitu saja. Perlu diolah vokalnya, dilatih cengkoknya, diuji rendah-tingginya dengan konsisten.

Satu lagi, saya ini suka-nggak suka untuk mendengarkan suara saya. Sering penasaran sama suara rekaman sendiri, tapi setelah mendengarnya, malah saya langsung auto-delete, haha.

Memang katanya secara biologis ada alasannya sendiri. Ketika kita mendengarkan suara kita sendiri, suara yang asli itu punya frekuensi yang lebih tinggi atau cempreng dari yang kita dengar. Jadi, turunkan ekspektasimu saat mendengarkan suara sendiri, ya.

Menyanyi Bukan Untuk Jadi Penyanyi, Tapi….

Banyak orang yang memiliki suara bagus, tapi tidak jadi penyanyi. Banyak orang punya suara pas-pasan tapi malah jadi penyanyi, Mawang contohnya. wkwk. Suara bagus di satu telinga pun terdengar tidak bagus di telinga orang lain juga bisa. Selera dan cara mengekspresikan dari masing-masing individu juga tentu berpengaruh ya.

Menyanyi untuk Gembira

Buat saya sendiri, menyanyi itu adalah salah satu sumber kebahagiaan. Penelitiannya juga bilang bahwa saat menyanyi, kita mengeluarkan hormon oksitosin dalam jumlah banyak.

Mau nyanyi mah pokoknya nyanyi aja. Bodo amat orang berkata apa ataupun diri benci sama hasil rekaman sendiri, tapi menyanyi memberikan nuansa ketenangan dan kebahagiaan yang membuncah. Sungguh, menyanyi membuat saya sering lupa jika sedang bersedih, stress ataupun kalut terbawa suasana menjelang PMS.

Baca juga : Guilty feeling, Guilty pleasure

Menyanyi memang tak melulu untuk jadi penyanyi, tapi banyak hal yang bisa dilakukan kok. Menyenandungkan sebuah lirik dengan nada bisa dilakukan oleh siapa saja, fals atau merdu tak masalah, karena menyanyi lebih pada membahagiakan diri sendiri.

Menjaga Kinerja Pernapasan

Kegiatan mengolah napas dengan baik saya dapati dari dua hal, yaitu menyanyi, qiro’ah dan mengaji. Mengatur pernapasan dalam ketiga hal tersebut terasa penting karena jika kita hela napas ditengah-tengah, efeknya tidak baik.

Baca juga : Tips Menikmati Membaca Qur’an dengan Khusyuk

Jika mengaji dan berhenti bukan di tanda waqof, jelas tidak bagus, kecuali harus mengulanginya lagi. Qiro’ah apalagi. Saya belajar teknik qiro sedari MI dan memahami bahwa teknis pernapasan saat qiro itu memang perlu dilatih. Bernapas secara samar aja ada tekniknya. Nah, ternyata hal ini juga berlaku saat menyanyi.

Inhale-exhale itu benar-benar dilatih saat melakukan kegiatan tersebut. Makanya aktivitas bernyanyi ini disebut juga sebagai aktivitas aerobik untuk pernapasan. Bagusnya, kegiatan tersebut ternyata mampu membersihkan dan mencegah perkmembangbiakan bakteri yang mengganggu sistem pernapasan. Yang suka ngorok tidurnya, bisa banget sering-sering nyanyi ya untuk mengurangi intensitas ngoroknya, nih.

Olah vokal, olah tubuh dan olah rasa

Hal yang menarik ketika kita melantunkan sebuah lirik dan paham maknanya. Saat menyanyikan lagu sedih, vokal kita akan menunjukkan kesedihan, rasa kita ikut-ikutan pilu dan hanyut dalam nyanyian tersebut hingga kadang tanpa terasa meneteskan air mata jika diresapi dalam-dalam. Tubuh kita pun akan memberikan reaksi pada apa yang kita nyanyikan.

Mengolah vokal, tubuh, dan rasa ini seakan meminta kita untuk mengajak anggota tubuh lebih peka terhadap suara. Di antara kebisingan dan distraksi, menyanyi meminta kita untuk meresapi dan memahami, bukan hanya sekadar sambil lalu.

Baca juga : Seni Untuk Tidak Melakukan Apa-apa

Jadi gimana, masih malu-malu untuk bernyanyi?

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

29 Replies to “Menyanyi Untuk Mencintai Diri”

    1. Hahahah, itu masa lalu, mbak. Kalau ga disuruh abah aku pun kayaknya ga pernh naik panggung gt. πŸ˜†

      Yok kapan yok.. Ditunggu undangannya *lho

  1. Nggak malu sih Ghin, kalau saya mah sudah sampai taraf malu-maluin πŸ˜† Soalnya kalau sedang di rumah dan lagi ngerasa bete kadang nyanyi-nyanyi sendiri, setidaknya bersenandung nggak jelas sendiri. Persis seperti yang Ghina katakan, hal kecil itu banyak membantu untuk meringankan beban perasaan.

    Baru tahu kalau Ghina gemar bernyanyi, jadi pingin dengar suaranya. Gimana kalau blog ini mulai pasang podcast atau video yang punya blognya nyanyi. Kayaknya seru juga dan menarik.

    Gimana Bu Ghina, apa bisa request ini dipenuhi? 😁

    1. Haha, untung di rumah aja nyanyinya jadi malu sama org rumah mh biasa aja yaa, mas.

      Aku udah bikin channel youtubenya mas. Tapi baru bikin puisi doank, itupun gara2 tugas odop. Wkwk. Nanti ada tantangan lg suruh ngmg sendiri di depan kamera. Udah take berkali-kali terus kuhapus lagi hapus lagi. Ya ampun percaya sama kemampuan sendiri aja ternyata mayan jg effortnya yaa.

      Tunggu ya. Kalaupun nanti malu-maluin yaa sambil ditinggal main jg gpp. πŸ˜†

      1. Malu maluin itu wajar wakakakakak… mau urusan nyanyi atau berbicara atau menulis mah hal biasa. Karena biasanya kan dari situ kita melangkah dan membuat perbaikan. Hahaha…

        Sama kayak menulis Ghin, kalau terus merasa kurang baik, lama kelamaan ga akan ada yang dipublish. Make mistakes and learn.

        Good luck

        1. Lho kok mas anton paham sih, aku kadang masih ngerasa gitu sih kalau baca tulisanku lagi. Ngepublish tulisanpun sambil tutup mata kadang kalau lagi nggak pede mh. wkwk

  2. mbakk ghinnnn, waktu aku nyanyi lagunya Audi suaraku imutttt gitu mbak, itu terjadi di room karaoke hahaha, mungkin karena pengaruh sound kali ya, kaget pas pertama kali denger suara sendiri
    aku pede nyanyi hanya buat diri sendiri aja, nggak pernah ikutan lomba nyanyi, kalau perform baca puisi waktu sekolah masih mending

    1. Lagu audi yang judulnya apa ya mbak? aku pernah karaokean dulu, tapi kayaknya nggak ada yang berubah deh sama suara kita. berarati emang suara asli mba ainun bagus nih..

      Aku juga nggak pernah ikutan lomba mbak, itu aja kalau nggak diminta tampil sama abah mh kayaknya ga ada pengalaman manggung deh..

  3. eaaaa samaaaa mba hihi

    akupun

    suka banget nyanyi walau sadar diri suara kayak grememengan tawon…tapi aku kok ya pede nyanyi wkwkkwwk…biasa buat hiburan palagi sambil karaokean oake headset setel mode bass dari donloadan mo3 wah dijamin relax…aku sekarang karena rempong jadi me time ga sempet baca buku tapi malah klo nyanyi atau dengerin musik langsung joss berasa tercharge kembali…palagi klo nemu lirik lagi yang lagi klop dengan suasana hati wkwkkwk

    1. Mba niiiit.. Seru sekali denger ceritanya. Suara jelek, fals, grememengan kek tawon pun kalau bikin kita hepi mah lanjut aja yaa.

      Aku kalau lagi ngapain2 seringnya disambil nyanyi-nyanyian. Ngajak anak nyanyi jg seru, kalau lg sempat malah kita jadi gerak2 ceria gitu sambil nyanyiin lagi kesukaannya dia

      Emang pilihan lirik juga ngaruh ya. Aku kalo lg badmood tp anehnya suka pengen dngerin lagu sedih nih, terus kebawa sedih deh.

  4. musik kesukaan abah nya sama persis dengan bapak saya, sepertinya mereka sumuran haha..

    keren mbak, punya pengalaman bernyanyi di depan banyak orang itu luar biasa.

    1. Waaah, jangan-jangan iya mas. Mas Dibyo apa ikut-ikutan suka sama musik tersebut nggak? Kalau aku mayan masih nyangkut nih seleranya ngikut Abah. Tanpa sadar sih..

      Lumayan mas, bisa belajar percaya diri yaa. Skrg ini malah yg menciut pedenya.. Cuma berani jadi vokalis kamar mandi aja. πŸ˜„

      1. kalo musik pop klasik sebagian suka sih, tapi ga bisa nyanyi saya mbak wkwkwk

        sepertinya mbaknya punya bakat yang bagus tuh, pertahankan

  5. Aku masih maluuuuu hahahaha. Sadar diri suaraku untuk menyanyi, lebih bagus tidak untuk diperdengarkan :D.

    Pantes ya mba, para juri2 kompetisi nyanyi itu, bisa banget mendeteksi suara2 peserta dengan detil. Suara yg menurutku udh bagus bangettt, tapi mereka bisa menangkap ada yg ga pas. Sampe skr aku juga masih bingung dengan yg namanya suara perut. Kalo menurut juri kan, itu bisa bikin penyanyi ga ngos2an saat nyanyi. Tapi serius, cara menyanyi memakai suara perut itu piyeee maksudnya :D. Pantes aja ada sekolah2 vocal yaaa. Krn menyanyi bukan cuma sekedar ngeluarin suara πŸ˜€

    1. Haha, makanya untuk diri sendiri aja mbaaak. Untuk anak juga denk skrg mh.. Suami nggak pernh muji juga soalnya.

      Kalau dulu aku latihan qiroah memang pake suara perut mbak. Nafas bisa lebih panjang dan teratur. Tp memang agak susah praktiknya,.

      Telinganya harus lebih awas yaaa..

  6. Saya suka nyanyi, tapi ga ada yang suka denger saya nyanyi. Ya mungkin karena selera dan musikalitas mereka ga sebanding dengan saya. Punya mereka kebagusan, jadinya sumpek denger suara saya yang khass…sihan 🀣

    1. Bio sama istri pasti sering jadi pendengar setia mas prim donk. emang selera ini ngaruh banget ya. Tapi saya juga meski selera musiknya beda sama suami, karena suami suka ngulang2 lagu misal mari g klau gitu saya yg nggak suka jadi ikutan nyanyi bareng juga. haha

  7. Saya paling nggk PD klo diminta nyanyi di depan umum..pdhl aslinya ya suka bersenandung, bahkan sempat ada masanya saya melagukan puisi2 sendiri dan merekamnya, sampai 3 kaset lhoh..haha.. Selain melatih suara, melatih ke-PD-an itu juga penting menurut saya..hehe..

  8. Saya penasaran sama suara vokal cengkoknya mbak Ghina ^^. Nyanyi dong mbaaaakk. Punya podcast ndak?
    Memang yaa kebanyakan yang bisa qori’ pasti nafasnya panjang dan pastinya bagus pula kalau dibuat menyanyi. Ah beneran nih saya jadi penasaran sama suaranya mbak Ghina ^^

  9. Aku aslinya gak suka nyanyi, tapi membaca yang bagian ngorok itu bisa disembuhkan dengan nyanyi langsung auto nyetel music YT nih buat karokean. Wkwkk. Ah tapi kayaknya mah, nyanyinya di saat gak ada orang aja we.

  10. Nah, aku dulu suka banget main Smule, jadi karoke nyanyi di apps terus bisa kita post di appsnya jadi bisa dengerin suara asli kita pas nyanyi, hahaha mayan lah bikin serasa peserta Indonesian Idol abal-abal hahahhaa, or kalo gak aku kalo lg butuh nyanyi ak cari di YT yang cuma minus onenya gitu

  11. aku paling nggak pede kalau disuruh nyanyi. haha. bahkan kalau diajak karaoke jarang banget ikut nyanyi. fals dan meleset terus aku kalau nyanyi. mungkin kayak song hwa di hospital playlist cuma bedanya dia pede aja. hihi

  12. Iya, menyanyi gak harus jadi penyanyi profesional. Kalau saya menyanyi seringnya untuk mengekspresikan yang sedang terjadi pad diri saya. Entah sedih atau seneng. Menyanyi jadi makin enjoy rasanya.

    Ya, cukup didenger sendiri aja sih kalau saya. Abisnya kalau ada orang lain yang denger bakalan diketawain karena suara sumbang saya. Haahhah

  13. Mba Ghin kita sama….mudah hapal nada, ga mudah hapal lirik haha…
    Dl jaman smu klo aku pen hapal ku tulis di buku..jadi aku punya buku lirik haha..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!