Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Lembutnya Ikan Dorang Bakar Madu di Ikan Bakar Lautan (IBL) Jogja

3 min read

ikan bakar lautam jogja

Ketika kami sampai di depan rumah makan Ikan Bakar Lautan (IBL) saya seperti menemukan rumah. Ada tempat sholat dari kayu di dekat tempat parkir. Halaman rumah yang luas, kursi-kursi kayu, dan tatanan meja saji yang ditempeli dengan plat-plat kendaraan menambah keunikan tempat ini. Oke, tempat ini lumayan bagus untuk menikmati makan malam romantis kami.

Sebelumnya, beberapa minggu yang lalu saya bilang ke suami : ‘Kita lama ya nggak makan di luar. Tapi nggak berani juga sih pandemi gini makan di tempat makan kesukaan kita’.

Eh, seminggu kemudian pas jadwalnya buka puasa dan pukul lima sore saya masih uprek di depan laptop, tiba-tiba dia bilang ‘ayo kita makan di luar’.

Baca juga : Sate Ambal Pak Kasman

Sepertinya ini jadi rutinitas setiap kami akan menjalani LDR. Kadang memang butuh ruang khusus untuk bisa ngobrol leluasa selain di rumah, ya. Memilih tempat makan agak private jadi pilihan kami. Di Jogja untungnya nggak begitu sulit.

Ikan Bakar Lautan, Nuansa Homey dengan Menu Laut

Saat kami sampai di depan gerbang, petugas buru-buru datang dan mempersilahkan kami untuk cuci tangan terlebih dahulu. Kemudian petugas melakukan pengecekan tubuh kami.

Saat kami masuk, ada dua rombongan yang sedang makan malam. Kami pun disambut oleh petugas menuju ruang reservasi. Langsung diminta memilih ikan laut yang akan diolah. Tapi sayang sekali, pilihannya tinggal sedikit. Mungkin karena kami datang cukup malam ya, jadi udah mau tutup.

‘Mau ikan dorang atau ikan kakap, Mbak? tanya pelayannya.

Wah, saya bingung. Ukurannya ikannya besar-besar. Saya sih ikan apa aja oke, tapi ternyata suami agak kecewa karena dia sebenarnya ingin sekali mencicipi kepiting.

Akhirnya kami pun memutuskan untuk memilih ikan dorang bakar madu. Untuk ikan dorang, saya selama ini tahunya itu hanya merk salah satu minyak kelapa yang sering saya pakai. Oke, saya penasaran dengan wujud dan rasanya. Meski agak worry sama harganya, tapi tak apalah, nanti suami kan yang bayarin, kan dia yang ngajak. wkwk

Baca juga : Mengenal Wadai dan Budaya Mawarung di Banjar, Kalsel

Setelah memilih menu, kami dipersilahkan mencari tempat duduk. Sembari berjalan menuju tepat duduk pilihan, saya dibuat kagum dengan lukisan perempuan-perempuan berjarit ala pakaian zaman baheula dan piring-piring jadul yang membuat diri terbawa pada kenangan masa kecil dulu. Rasanya seperti pulang ke rumah. Ah, jadi kangen orang-orang rumah.

Setelah duduk, pelayan datang membawa buku menu. Tadi berarti cuma milih menu utamanya saja ya. Yang ini baru menu lengkapnya.

Lalu saya memilih tumis bunga pepaya. Tiba-tiba suami kaget ‘kenapa bunga pepaya?? Aneh nggak sih rasanya? tanya dia.

‘Kalau makan di luar mending memilih menu yang nggak biasa kita makan donk. Kalau tumis taoge atau kangkung kan tiap hari juga bisa masak sendiri. Tapi kembang pepaya ini kan aku nggak bisa mengolahnya 😄’ timpal saya.

‘Sama jamur enoki yang ini ya, Mas.’ tambah suami saya.

‘Eh, sebentar,’ saya merespon dengan cukup kaget. ‘ ini jamurnya import apa lokal, Mas? soalnya kan yang import saya baca ada kandungan yang berbahaya.’ Lalu si pegawainya gugup nggak tahu jawabannya.

Ya sudah, akhirnya kita tidak memesan jamur enoki tersebut. Sebenarnya suami agak kecewa dan saya agak penasaran juga, tapi daripada berbahaya ya mungkin lain kali saja.

Untuk Nahla, saya pesankan sup. Di menu adanya sup timun papua. Meski agak aneh namanya, tapi karena cuma ada satu jenis sup, tak apalah saya coba.

Akhirnya, memilih menu selesai. Dan kami tinggal menunggu makanan datang. Sembari melihat secara seksama ke sekeliling ruangan, kami mengobrol tentang beberapa hal. Sementara Nahla asyik jalan-jalan keliling ruangan sendirian.

‘Mamah, kok di sini nggak ada mainan anak ya. Hmm, masa adek jalan-jalan doank’ Nahla berkata sambil mecucu itu mulutnya.

Saya pun mengajaknya jalan-jalan memperhatikan ruangan. Bercerita tentang plat kendaraan yang ada di meja. Eh dia malah banyak tanya, ‘Apa itu plat kendaraan? plat itu buat apa? kok ada di sini bukan di motor? wkwk.

Sebenarnya ada ternyata mainan anak di Ikan Bakar Lautan nih, tapi letaknya memang agak tersembunyi, yaitu di sebelah kanan rumah makan. Kami baru sadar saat mau pulang, mungkin kalau siang gitu dari tempat parkiran juga keliatan ya.

Mencicipi Ikan Dorang Bakar Madu yang endeus pisan

Kami memilih menu ikan karena kita memang nggak lebih suka olahan ikan daripada ayam maupun daging. Olahan ikan entah kenapa nggak bikin kita cepat bosan. Mungkin itu sebabnya suami memilih tempat di sini, Ikan Bakar Lautan.

Sesuai ekspektasi donk, nggak cukup satu centong kalau udah makan begini. Saya aja jadi khilaf entah kayaknya lebih dari 2 centong sih ambil nasinya.

Apa bedanya mencicipi ikan dorang dengan ikan lainnya? Hmmm, saya nggak bisa jelasin dengan detail soal rasanya. Tahunya makanan itu enak, nggak enak dan enak banget yaa. wkwk.

Dan, masakan ikan dorang bakar madu ini enak banget. Gurihnya dapat, manis madunya juga terasa kuat. Kulitnya tebal juga ternyata. Kalau nggak terkontrol, bisa nambah-nambah mulu nih nasinya. wkwk

Ikannya ternyata cukup besar ya. Bentuk tubuhnya agak gepeng dan lebar, warnanya agak gelap kalau sebelum dimasak tih. Ternyata ikan dorang ini adalah nama lain dari ikan bawal hitam.

Mengutip dari beberapa situs, ikan dorang ini memiliki beberapa kandungan seperti vitamin D, asam amino esensial, omega 3, dan protein yang tinggi. Cocok banget dikonsumsi oleh ibu hamil dan anak-anak nih.

Cocoklah, nanti-nantai kalau ngidam minta diajak ke sini lagi. kapan? kapan-kapan. hahaha

Penutup

Jika kamu sedang di Jogja dan ingin mecicipi tempat makan ala-ala jadeol dan ingin mengenang masa kecil, cocoklah Ikan Bakar Lautan ini jadi referensi tempat makanmu. Ada diskon 10% untuk kamu yang sedang berulang tahun, caranya dengan membuat member terlebih dahulu.

Ikan Bakar Lautan

Jl. H.O.S. Cokroaminoto No. 152, Tegalrejo, Yogyakarta

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

19 Replies to “Lembutnya Ikan Dorang Bakar Madu di Ikan Bakar Lautan…”

  1. Nahla lucu banget sih, Kak 🤣 kalau lagi seumur Nahla, lagi masa-masa banyak bertanya dan kadang suka lucu sendiri dengerin pertanyaan-pertanyaannya 🤭
    Btw, saat lihat penampakan ikan dorang ini, aku malah merasa mirip gurame, eh ternyata ini sejenis bawal, ya mirip-mirip lah ya 🤪
    Entah kenapa, ikan bakar emang lebih mantep rasanya dan kalau makan yang model kayak gini, akupun selalu nggak cukup 1 porsi nasi 🤣. Nafsu makan auto meningkat kalau disuguhkan menu makanan kayak gini 🤤
    Btw, gimana dengan rasa sup timun asamnya Kak?

    1. Iyaaa, Li. Akubaja bingung bedanya apa, pas dimakan jg keknya sama aja itu rasanya. Wkwk . Udah pokoknya tahu enk, ga enak, dan enak banget lah.. Nggak bisa mencecap lebih dalam lagi.

      Emang kalau masak ikan plis sambel itu bisa khilap banget ya Li. Aku nambah2 terus pdhl itu makan malam. Hiks

      Rasa sup timunnya enak kok. Ada sensasi gurih karena ada ikannya, dan itu pake santan ternyata cocok jg dikasih sayur timun. Nggak enek timur dimasak kuah gitu.

  2. waaahaaaaa akhirnya ada post baluuwwww huehehhe

    asyik..kuamankan dulu ah pertamaxnya

    btw kalau di luar menu ikan ikanan emang porsinya guede ya…tapi sama lah mumpung ada yang siyap mentraktir dan bayarin ya habiskan saja hihi

    ikan kan sehat buat si calon debay yakan?

    bunga pepaya enak, krius krius kranciiii…trus jamur enoki? kok jadi penasaran juga ada apakah kandungan di dalamnya? hmmm …aku suka banget nih desain restonya…ada art wall gambar wanita jawanya gitu kan yang gelungan dan kebayaan..memang kalau konsepnya ngene iki bikin betah sih..walau dateng kemalaman tapi kan malah syepi dan berasa reservasi seorang diri hihi

    1. Wkwk, Niiit tiap minggu aku pasti ada postingan kok km ga liat yg slide geser2 itu yaa.. Makanya kuganti deh skrg biar nggak dikira aku mandek. 😃

      Emang sehat dan bagus ikan tuh, ingat ga orangtua kita suka ingetin kita suruh makan ikan biar pintar katanyaa. Hihi..

      Katanya yg import dr Korea itu ada zat berbahayanyaa, terus indo telat mengabarkan itu sih. Drpd aneh2 kan mending ga usah pesen aja.

      Emang enak sih sepiii. Musik yg dimainkan jg bikin suasana romantis. Cuma saya kalau kemalaman pilihan seafoodnya jadi dikit banget..

  3. Oalaaah ikan bawal hitam ya mba. Aku bingung pas baca namanya, ikan dorang, jujur ga pernah denger :D.

    Aku ga tau tempat ini pas ke Jogja. Kalo tau aku datangin juga. Soalnya kami sekeluarga suka banget Ama seafood :D. Apalagi aku asalnya dari Sibolga, kota pesisir yg mana seafood udh makanan sehari2 hahahaha.

    Ikan bakar itu memang enak sih mau diapain aja bumbunya. Yg ptg di bakar. :D. Kalo aku ke Jogja lagi pasti aku datangin deh.

    Kita samaaa, kalo makan di restoran, pasti pesen menu yg jrg dimasak di rumahlah. Apalagi daun pepaya kalo ga pinter ngolahnya jd pait banget 😀 . Walopun aku suka juga sih Ama paitnya

    1. iyaaa mbak, ikan bawal ternyata, wkwk. Aku juga baru tahu setelah googling pas nulis ini.

      Ikan bakar emang memberikan sensasi rasa yang berbeda ya mbak, nggak tahu kenapa kalau goreng rasanya kurang mantep juga menurutku nih, tapi kalau bakar bumbu juga lebih meresap gitu.

      Tosslah, aku juga nggak bisa ngolahnya, beli juga ga pernah karena udah aneh duluan liat bentuk kembang pepaya ataupun daun pepaya. Jadi tepatlah ya nyicip makanan yg ga bisa kita diolah kalau makan di luar tuh.

      semoga nanti bisa ke sini dan mampir ke ikan bakar lautan mbaak, siangan enaknya, biar menunya masih lengkap ya.

  4. Mbaaak tempatnya apikk 😍 salfok aku pengen poto2 di sana euyy, mana aku juga pecinta makan ikan cucok dah.. Hihi

  5. hua mba Ghina, aku kangen banget bisa main ke Jogja, semoga pandemi segera selesai dan bisa jalan-jalan lagi ek Jogja dengan aman dan nyaman buat nikmatain makan ikan bakar lautan di Jogja niy, pasti bakal seru banget deh

  6. Kalo di Bali adanya Ikan Bakar Cianjur, hihi..
    Aku paling seneng nih nemu tempat makan yg konsepnya klasik ala ala rumahan gitu, pun sama menunya yang bakulan, duh aku juga khilaf kali mbak Nin, wkwk..
    Btw, aku jadi kebayang dong sama mulut mencucunya Nahla, lucu pasti :3

  7. Duh Mbak saya jadi ngiler lihat penampakan Ikan bakarnya yang begiti menggoda, hehe. Btw penasaran juga sama yang namanya sup timun Papua itu. Perasaan selama saya tinggal di Papua saya belum pernah dengar atau cicip menu seperti itu

  8. Duh, sepertinya saya salah mampir ke sini siang-siang saat puasa gini, huhuhu.

    Btw saya adalah penyuka ikan bakar. Kalo saya kesini kayaknya bakalan nambah nasi nih karena dari fotonya kelihatan banget ikan bakarnya itu enak

  9. Ternyata Ikan Dorang ikan bawal hitam toh hehe, saya juga senang banget makan ikan laut. Sayangnya di Banjarmasin jarang soalnya rawa di sini

  10. Baru tahu ada yang namanya ikan Dorang. Kalau ‘dorang’ sendiri sudah sering dengar. Orang Papua sebut dorang itu artinya mereka. Btw saya jadi penasaran dengan rasa ikannya. Pastinya mantap ya Mbak, hehe

    1. dorang apa torang mbak? hihi

      iya ini aku sering lihatnya di merk minyak goreng, ternyata memang ada ikannya, bukan cuma merk doank. wkwk

  11. Iya sih bikin worry kalo harganya selangit. Ya walaupun yang bayar suami mbak sih, tapi kan tetap “Ehm” wkwk😂

Tinggalkan Balasan

Yuk, beri komentar, kritik dan saran untuk postingan di atas.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terimakasih banyak sudah berkomentar.

© Copyright 2021 www.ghinarahmatika.com

error: Content is protected !!