Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Sampah Terpilah Untuk Sekolah Lewat Daur Resik

3 min read

memilah sampah jadi donasi untuk sekolah

Memilah sampah itu ternyata menantang sekali. Setelah selama ini saya rutin memisahkan sampah terpilah organik dan anorganik, kini lebih menyenangkan lagi saya tidak membuangnya ke tempat sampah. Alhamdulillah,  I do one step forward,  sampah organik sekarang saya bikin kompos dan sampah non organik saya sumbangkan ke sekolah lewat Daur Resik.

Ah, perjalanan untuk belajar lebih peka terhadap sampah ini membuat saya makin merasa bukan siapa-siapa. Ternyata sebagai manusia, kita banyak sekali berbuat buruk terhadap alam. Padahal manusia yang tercipta sebagai khalifah di bumi ini seharusnya mampu menjaga dan melestarikan alam sebagaimana mestinya.

Tak ayal, kita memang butuh makan untuk hidup. Tapi tidak dengan mengeksploitasi maupun mengotori bumi. Sayang, faktanya memang demikian. Syukurnya sekarang ini ada banyak orang yang peduli pada bumi. Mereka membuat gerakan yang memberi sumbangsih pada keselamatan bumi.

Saya  patut bersyukur karena semakin saya ingin mengenal, ternyata saya diberikan kesempatan untuk belajar lebih dalam. Setelah mengikuti sebuah lomba zero waste, saya mendapat kesempatan untuk ikut pelatihan zero waste lifestyle yang mengajarkan beberapa gaya hidup minim sampah. Selain itu, karena saya bergabung dengan sebuah komunitas gaya hidup minimalis, saya diberi jalan untuk mengenal Daur Resik. Keduanya semakin melengkapi salah satu mimpi saya untuk hidup lebih minim sampah.

Tulisan yang saya ikutkan lomba : Mendorong Pemerintah Mewujudkan Zero Waste Cities

Kebingungan ‘membuang’ sampah anorganik muncul karena sekarang agak susah nemu abang rongsok dan mereka nggak menampung banyak jenis sampah anorganik. Daur Resik ini kurang lebih perannya sama seperti abang rongsok yang siap menampung sampah anorganik, tapi kerennya mereka mengolah lebih dengan prinsip berkelanjutan.

Mengakrabi Sampah dengan Memilah Sampah  

Kalau flashback pada tahun lalu, perjalanan saya berteman  sampah ini kayaknya memang makin akrab deh. Alasan yang menguatkan akhir-akhir ini malah bukan berdasarkan ilmu ekologi, tapi lebih karena sudah benci sama sampah. Semakin benci, tapi malah Tuhan beri cara untuk semakin mendekat. Aneh memang! Sekarang saya melihat sampah jadi seperti teman dekat sekali malah.

Di awal saya pindah ke Jogja, ada PR yang membuat saya malas kalau lagi LDR sama suami, saya harus membuang sampah ke tempat yang cukup jauh. Tapi saya juga malas mencium bau sampah busuk. Akhirnya, keinginan untuk mengolah sampah pun semakin menggebu. Karena apa? Karena saya malas buang sampah, jadi perlu diolah.

Mau belanja minim sampah? simak pengalaman saya belanja di Bulk Store

Di suatu obrolan grup minimalis , untungnya ada yang menyarankan untuk membuang sampah non-organik ke daur resik. Dari situ, saya coba selidiki tentang Daur Resik. Wah, beneran, bisa disumbangin segala jenis sampah anorganik nih

Beberapa sampah anorganik sebenarnya sudah saya kumpulkan, memilahnya pun tidak cukup repot. Cara memilah sampah cukup sediakan tempat dan pisahkan untuk masing-masing jenis sampah seperti kardus, kertas, dan dan plastik. Sayangnya dulu tidak begitu rutin, kalau malas membersihkannya ya saya buang langsung ke tempat sampah.

Sejak saya berniat untuk kirim sampah ke Daur Resik, akhirnya saya kuatkan lagi komitmen saya untuk membersihkan plastik kotor sisa belanjaan, kumpulkan berbagai macam kertas dan kardus, dan bahkan botol plastik akhirnya saya koleksi, nggak saya potong lagi buat bikin pot.

Ternyata meski malesin, tapi kalau ditekuni jadi sayang juga sama kegiatan memilah ini. Saya akhirnya jadi semangat untuk segera membersihkan plastik, bergegas food preparation setelah belanja, dan rutin memisahkan sampahnya.

Berkenalan dengan Daur Resik

Dari obrolan di grup tersebut, akhirnya saya pun meluncur ke instagram dan mencari akun Daur Resik. Langsung terkesima saya dengan cara kerjanya. Ada banyak anak muda yang ikut berkecimpung menjadi Resikawan (sebutan teman-teman relawan Daur Resik) di sana.

Daur resik adalah sebuah layanan penjemputan sampah anorganik di Yogyakarta. Wirausaha sosial ini sudah berdiri sejak 2017. Daur resik hadir untuk memberikan alternatif solusi pengelolaan sampah anorganik yang lebih bertanggung jawab melalui pendekatan 8R dan ekonomi sirkular.

Sampah anorganik yang diterima oleh Daur Resik ini lumayan lengkap, mulai dari plastik, kertas, kaca, logam, kaleng, tembaga, sampah elektronik, pakaian, ban, minyak jelantah, nasi aking, dan masih banyak lagi. Lengkapnya kita bisa cek di instagram Daur Resik ya.

Untuk sistemnya sendiri, kemarin saya mengunjungi drop point yang sudah dikabarkan mimin Daur Resik lewat instagram story-nya. Ada beberapa titik yang memang sudah menjadi drop point tim Daur Resik yang tersebar di Jogja, Sleman, Bantul, dan Klaten kota.

Layanan yang disediakan oleh Daur Resik tidak hanya drop point saja lho. Selain itu ada juga Donasi Sampah, yang berarti layanan bagi pemilik sampah yang ingin menyumbangkan sampah terpilahnya untuk beasiswa pendidikan. Yang terakhir yaitu bussines responsibility. Sistem ini bentuknya layanan berlangganan bagi sektor bisnis untuk mengelola sampah.  

Pengalaman Menyumbang Sampah ke Daur Resik

menimbang sampah terpilah oleh daur resik

Siang itu, saya bersama suami dan Nahla berangkat dengan motor matic lawas saya. Saya membawa 1 tas berisi baju, dan suami mengapit 3 tumpuk sampah kertas, koran dan plastik. Kami pun berangkat menuju Kasongan.

Mobil biru Daur Resik saya lihat sudah lumayan penuh. Kala itu ada seorang bapak yang membawa banyak sekali baju untuk ditimbangkan. Sampai 5 kg beratnya. Sementara yang lainnya ada yang membawa minyak jelantah dalam sebuah botol kaca.

Saya disapa oleh pemuda dan pemudi yang bertugas kala itu. Si Mas bertugas untuk menyupir mobil, menimbang sampah anorganik yang disetorkan, sementara si Mbak bertugas untuk menghitung, mencatat dan memberi uang hasil dari sampah yang kami setorkan.

Lumayan, sampah yang saya setorkan terbayar dengan nominal Rp 10.500. Dari semua sampah yang saya bawa, ada beberapa sampah yang tidak bisa kami setorkan, yaitu sampah plastik mika dan strereofoam. Waktu saya ngobrol, katanya perusahaan yang mau menerima sampah tersebut sekarang sedang tutup. Lagian sampah seperti mika dan stereofoam itu adalah sampah yang susah diolah karena bahannya sudah di pengolahan terakhir. Oke, saya harus menghindari sampah tersebut nih.

Sampah Terpilah Untuk Beasiswa Pendidikan

Kita memang bisa menghasilkan uang dari sampah anorganik yang kita setorkan ke Daur Resik. Namun selain itu, hasil dari penjualan sampah itu bisa juga kita donasikan untuk beasiswa pendidikan melalui @sampahuntuksekolah.idn.

Menurut saya menarik sekali program ini. Selain kita memberikan kehidupan kedua pada barang-barang yang kita setorkan, ternyata kita juga bisa menyumbangkan dana tersebut untuk beasiswa pendidikan bagi anak-anak yang tidak mampu.

Dari sampah kita bisa memberikan beasiswa pendidikan. Hal yang nggak terpikirkan buat saya sebelumnya. Sampah ternyata memiliki makna berarti buat orang lain.

Penutup

Saya merasa lega dan senang sekali telah bisa menyumbangkan sampah-sampah anorganik tersebut ke tempat yang tepat. Apalagi ternyata hasil dari penjualan tersebut bisa kita sumbangkan untuk beasiswa pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu. Ayo, segera pilah sampah, yuk. Kamu bisa cari bank sampah di sekitar tempatmu. Untuk informasi mengenai bank sampah kamu bisa mengeceknya di webnya zerowasteid.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

26 Replies to “Sampah Terpilah Untuk Sekolah Lewat Daur Resik”

  1. Alhamdulilah bisa gabung dengan Daur Resik

    semoga semakin banyak yang meniru jejak Mbak Ghina ya?

    karena dengan menerapkan pola hidup zero waste otomatis menghemat pengeluaran lho

    hemat pengeluaran, bumi terjaga

  2. Waah asik banget yaa bisa menyumbangkan sampah-sampah anorganik pada tempatnya yang tepat, namun hasilnya dipergunakan buat bea siswa jugaa, duuh salut deh sama programnyaa.
    Semoga banyak diikuti oleh daerah2 lainnya kek Daur Resik ini.

  3. Sangat bagus program sampah resik, pengolahannya bagaimana? Apakah mereka olah lagi atau sekedar daur ulang atau dibuat produk baru? Semoga langgeng dan lestari usaha ini.

    1. Mereka sudah bekerja sama dengan beberapa perusahaan bu utk menjual sampah plastik dan lainnya. Kalau yg tdk layak pakai akan diolah ulang dgn sistem ekonomi sirkular

  4. wah menarik juga ya ada yang mau memilah sampah dengan akhirnya dijadikan sesuatu yang bernilai, daur resik…meski saat ini untuk kedua jenis sampah styrofoam dan mika blom tetima karena pengolahnya sedang tutup ya.. Duh hatiku jadi tergerak pingin ikut memilah sampah gini deh, sayang tempatku di komplek blom terorganisir pemilahan smapah organik dan nonorganiknya…masih dijadiin satu gitu hiks

    1. Hay mba nit. Kita bisa pilah sendiri sampahnya dr rumah kita. Yg sampah organik kita bikin kompos, atau kakau malas kan bisa dikasih ke ayam atau hewan peliharaan lainnya. Sampah anorganik nya baru deh kira sumbangin. Coba cari bank sampah di tempatmu, biasanya ada kok meski sedikit.

  5. coba ada daur resik ini di rumah jakarta, aku tuh juga suka bingung bagaimana menyalurkan barang-barang yang sudah tidak dipakai. sementara andalanku pemulung dan tukang gerobak barang bekas gitu mbak gina.

    1. Hallo teh ina. Di Jakarta setahuku malah udah banyak bank sampah model daur resik ini. Bisa dicari di e-bank sampah ada aplikasinya di appstore. untuk penerimaan jenis sampah elektronik juga ada waste4change, untuk kertas ada @donasibarang, untuk buku ada @rubahkertas, Aku dapat beberapa info terkait ini darintelegram lyfe swith less

    1. Hampir ada mbak, apalagi kalau di kota kota besar. Daur resik ini salah satu lahanan penerima sampah anorganik saja, yg sejenis dgn Daur Resik jg bnyk kok

  6. Keren nih penggagas Daur Resik. Semoga nanti bisa sampai ke Wonogiri. Soalnya saya masih kesulitan mau buang sampah kain di mana.

  7. Berharap semua kota ada seperti ini, karena masalah sampah bisa jadi beasiswa untuk pemdidikan. Kalau semua terlibat bakal semakin banyak juga beasiswa. Efeknya luar biasa ini.

    1. Betul sekali Mas Taumy. Dari sampah yg diolah secara sirkular ini selain memberdayakan masyarakat juga bisa mencerdaskan anak anak emang keren ya

  8. Aku jadi belajar juga nih, supaya mengurangi sampah mika dan sterofoam karena paling sulit diolah ternyata. Terima kasih udah jadi contoh untuk hidup minimalis, ya, mbak..

  9. Kalo bercerita soal sampah, saya jadi teringat jaman SMA. Suka banget ngumpulin sampah dan dijual di bank sampah. Padahal dah ada jadwal bergilir gitu, tetap juga saya yang jualnya haha

  10. Menarik sekali progamnya, mbak. Semoga masyarakat semakin menyadari tentang kepedulian sampah dan selalu menjaga kebersihan lingkungan,

  11. Bagus bgt nih program Daur Resik. Sygnya baru ada di Jogja ya. Semoga daerah2 lainnya bisa bikin program bagus kyk gini jg

  12. Dari tulisan ini jadi ingat bahwa dari sampah bisa bawa berkah karena dapat membantu sesama. Yuk semangat selalu untuk memilah sampah demi kebaikan bersama

  13. Huaah berkah banget ketemu sama Daur Results yaa Mbak Ghin

    Betewe sampah pakaian juga terima? Keren sih. Soalnya bank sampah dan pengelola sampah tenpatbaku biasa setor belum terima tekstil.

  14. Program semacam itu memang dibutuhkan, terutama dalam dunia pendidikan. Jika ada yang mengalami kesulitan soal biaya pendidikan bisa terbantu.

  15. Memilah sampah, kalau sudah terbiasa seru juga ya. Di rumah malah lagi ngajarin anak cara memilah sampah. Mereka jadinya paham.

  16. Saya juga latihan menerapkan zero waste ini di rumah mbak. Sempat kemarin saya akhirnya berikan sampah plastik dan botol bekas minyak goreng tersebut dan beberapa berisi minyak jelantah di dalamnya.
    Rasanya senang ya, bisa berbuat sesuatu untuk bumi sekaligus bisa bersedekah untuk pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!