Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Hidup Minimalis Agar Gemar Rapi

3 min read

hidup minimalis, berbenah agar gemar rapi

Banyak orang memilih hidup menjadi minimalis salah satu sebabnya ialah agar gemar rapi. Dengan sedikit barang, kita berharap rumah akan lebih mudah dibereskan sehingga kita bisa fokus pada pekerjaan kita. Tapi apakah menjadi minimalis otomatis gemar rapi ? Bagaimana biar jadi gemar rapi?

Itu dua pertanyaan yang sudah saya siapkan saat saya mendapat kesempatan untuk ngobrol dengan Mbak Nikmah. Salah satu penggagas Gemar Rapi. Sebuah organisasi yang memiliki misi untuk berbenah, yang nggak hanya sekadar rapi semata, tapi juga berbenah yang sesuai dengan kaidah yang efektif, memberikan ruang aman untuk anak, memperhatikan juga kesehatan, keamanan, serta selaras dengan alam.

Btw, ini adalah kali pertama saya belajar jadi host. Thanks to Indonesian Minimalist Mom for having me.

Well, kalau ngomongin berbenah jadi teringat dengan Marie Kondo nggak sih?

Ternyata inspirasinya Mbak Nikmah ini ya dari Marie Kondo juga, tapi berbenahnya kemudian disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia dan mencoba untuk meluaskan definisi tentang berbenah itu sendiri. Berbenah atau decluttering ala Gemar Rapi sendiri tidak hanya memperhatikan cara melipat (folding) serta urutan dalam berbenah lainnya.

Berbenah : Penat Hilang, Fokus Datang

Memulai pembicaraan tentang pilihan menjadi minimalis, Mba Nikmah bilang minimalis sebenarnya bukan hanya tentang kebendaan. Ada digital, mental, bahkan spiritual.  Tentu tidak ada salahnya untuk memulai hidup minimalis dengan memperhatikan barang-barang fisik yang kita miliki. 

Yang berwujud memang lebih terasa perubahannya daripada yang abstrak. Namun kebendaan tersebut juga butuh dibereskan atau decluttering.

Ketika dalam satu ruangan ada berbagai macam barang, jangankan untuk tiduran di tempat tersebut, kita masuk saja enggan karena saking penuhnya. Sesaknya ruangan tersebut membuat kita perlu membereskannya terlebih dahulu. Namun, karena berantakan tersebut, bukannya kita membereskan dulu, malah perasaan-perasaan seperti pusing, kesal, stres, dan macam emosi lainnya muncul secara berbarengan.

Baca juga : Beberes Sebagai Sebuah Terapi Stres

Gaya hidup minimalis menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki kondisi tersebut. Saya sebut solusi karena sebenarnya banyak barang pun sebagian orang tetap bisa merapikannya. Namun, dengan barang sedikit tentu merapikan barang tersebut akan lebih mudah dan cepat. Tapi ingat, barang sedikit tak langsung membuat orang untuk gemar rapi.

Minimalis memberikan treatment tersendiri pada pola pikir kita terhadap kebendaan. Dulu, orang-orang seringkali mengaitkan kesuksesan dengan jumlah barang yang dimiliki. Namun kini, beberapa influencer minimalis menekankan bahwa jumlah barang bukan menjadi patokan. Justeru untuk memiliki barang yang kualitasnya lebih bagus dengan jumlah sedikit itu lebih baik dibanding jumlah barang banyak namun dengan kualitas standar.

Penekanan prinsip hidup minimalis biasanya lebih melihat hal yang dibutuhkan daripada keinginan, lebih melihat fungsi dan dan kualitas daripada jumlah, serta yang paling penting  tidak lagi memikirkan hal yang bersifat material, tapi lebih fokus pada hal yang bersifat urgent.

Tahapan Memulai Hidup Minimalis yang Gemar Rapi

Karena metode Gemar Rapi ini menyesuaikan dengan kondisi dan values yang ada dalam masyarakat kita, menurut Mba Nikmah, gemar rapi juga bersifat holistic. Jadi dalam beberapa tahapannya juga memperhatikan orang-orang sekitar, lingkungan sekitar (sustainibilty living), kebersihan serta higienitas juga.

1. Tidak berlebih-lebihan

Mengikuti sebuah rule memang sebaiknya tidak perlu saklek dan berlebih-lebihan. Mba Nikmah sering sekali menekankan hal ini. Karena menurutnya, jika kita terlalu saklek yang ada ekspektasi akan cukup tinggi, namun kenyataanya justru seringkali sebaliknya.

Decluttering adalah kegiatan bersama yang memerlukan kerja sama seluruh anggota. Menciptakan visualisasi bersama-sama untuk menciptakan penataan kondisi suatu ruangan adalah hal yang perlu dilakukan. Jadwal berbenah sebaiknya lebih fleksibel. Menyesuaikan kebutuhan berbenah dengan kegiatan seluruh anggota keluarga seringkali tidak bisa seragam.

Dalam praktiknya juga tidak perlu berlebih-lebihan. Yang utama, lakukan yang bisa kita lakukan pada kebendaan yang kita miliki. Untuk urusan anggota keluarga lainnya, tidak perlu dipaksakan jika memang belum berkenan. Berbenah sendiri baiknya tidak boleh diwakilkan, tapi baiknya lakukan decluttering by owner baik itu dalam merapikan, memilah, dan lainnya. Ajak seluruh anggota keluarga bertanggung jawab pada barang-barang yang dimilikinya. Setelahnya, lakukan evalusi bersama-sama pula.

2. Jadwal Fleksibel

Jadwal yang fleksibel tidak hanya memperhatikan jam sibuk anggota keluarga yang lain, namun juga terkait dengan waktu pengerjaan itu sendiri. Jika mau bebersih besar-besaran (deep cleaning) buat kesepakatan bersama dulu, jika ada yang tidak bisa, beri bagiannya dan dipersilahkan untuk mengerjakan seselonya orang tersebut.

Jika jumlah barang yang akan kita bereskan bergunung-gunung alias banyak banget, ya kita cicip dulu sebisanya. Nggak perlu semua harus beres pada saat itu juga. Bisa dimulai dengan memilih ruangan yang agak rapi hingga paling berantakan ataupun cara lainnya.

3. Decluttering

Berbenah bisa kita mulai dengan mengeluarkan barang dalam satu ruangan, lalu kelompokkan dengan sesuai dengan selera masing-masing. Boleh ikut metode Mari Kondo atau lainnya. Namun fokusnya tetap diinget, benahi punya diri sendiri dulu, benahi semampunya, dan hargai privasi barang orang lain dengan memberikan kesempatan kepada pemiliknya untuk membereskannya sendiri.

4. Organized

Standar kerapian kita dengan orang lain tentu berbeda. Standar rapi keluarga yang punya anak dan nggak punya anak juga berbeda. Jangan menyamakan standar ataupun menyalahkan standar rapi diri sendiri ataupun orang lain. Senyamannya dan semampunya saja dulu. Rumah yang nyaman adalah nyaman pada sisi pikiran, perasaan dan juga spritual.

5. Membangun habit

Ini adalah bagian penting yang seringkali kita abai pahami. Berbenah itu bukan karena ikut-ikutan. Minimalis juga baiknya bukan hanya sekadar tren. Namun, menerapkan pilihan hidup kita secara sadar adalah hal penting yang perlu kita adalah esensial.

Dengan menerapkan berbenah secara sadar dan rutin, harapannya hal tersebut menjadi kebiasaan atau habit. Penekanan tersebut tidak hanya sadar secara pribadi, namun meluaskan kesadaran pada kondisi lingkungan. Makanya, Mbak Nikmah juga menekankan pentingnya kepedulian kepada hidup berkelanjutan yang berkelanjutan.

cara berbenah agar gemar rapi

Hidup berkelanjutan mencoba menyelaraskan kebutuhan manusia dan kebutuhan alam. Dengan contoh, cukup membeli yang kita butuhkan (refuse), memilih mendonasikan atau menjual barang yang sudah tidak terpakai (reduce), menggunakan kembali barang yang masih layak (reuse), memanfaatkan barang yang ada untuk dibuat barang baru (repurpose) dan memanfaatkan barang yang ada untuk hal lain (recycle).

Dengan menjadikan berbenah menjadi kebiasaan maka kita akan gemar rapi. Di Gemar Rapi sendiri ternyata ini masih ada di tahapan awal ya. Setelah berbenah rumah, harapannya kita akan gemar berbenah diri juga, sehingga harapannya mampu bermanfaat dan bisa menata negeri juga. Masya Allaah, semoga kita mampu ya untuk hidup minimalis yang gemar rapi ini.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

8 Replies to “Hidup Minimalis Agar Gemar Rapi”

  1. Walaupun blm menerapkan minimalis tapi aku suka sekali baca hal2 tentang minimalis seperti ini. Thank you for sharing Mba Ghina.
    Tentang minimalis tidak hanya mengenai kebendaan, tapi juga terkait mental-spiritual itu sama yang disampaikan Fumio Sasaki dibukukannya yang minimalis ala orang Jepang itu. Jd dg minimalis, kita bs fokus ke hal2 yg lbh berarti. Aku lg pelan2 juga mulai berbenah nih, walau ga murni bs lngsng jd minimalis..

    1. Fumio sasaki yaaa.. Aku blm baca bukunya malah, tp kalau Fumio ini lebih frugal gt ya mbak gaya hidup minimalisnya.
      .
      Aku pun masih sedikit demi sedikit, terutama dr kebendaan dulu. Karena nomaden jd buku pun udah bnyk beralih ke e book. Digital masih sering kebablasan, spritual ah apalagi ini masih secuil bgt..

    2. Haturnuhuuuun pisan Mba Ica.. Biar nggak menguap aku coba tuliskan aja nih. Dari ngobrol sama mba Nikmat aku merasa jd merasa ternyata minimal itu ga sederhana dan semata ttg jumlah ya. Tp melihat sikon jg, dan aku setuju sih higienitas dan ruang nyaman buat anak jg perlu yaa.

      Sama-sama belajar ya Mba, aku pun masih suka impulsive kadangan. Semangaat 😊

  2. Gemar Rapi? Baru denger dan auto visit ke webnya. Mirip sama Konmari ya? Apakah foundernya juga pernah ikut sertifikasi Konmari?

    Menarik sih, semoga Gemar Rapi bisa berkontribusi banyak buat negeri ini nih.

    1. Sepertinya karena beberapa pendiri Gemar Rapi ini pernah menginjakkan kaki di Jepang utk kuliah gitu mas.. Kelasnya mereka selalu penuh lho..

  3. Minggu lalu, aku beresin lemari bajuku, dan kayak puaaaaaaas banget mba pas bisa membuang setengah dari isi lemari hahahaha. Lgs lemari berasa rapi, baju aku atur berdasarkan fungsi, ga numpuk berantakan lagi. Memang yaaa decluttering gitu bikin perasaan jd puas pas selesai ngelakuin. Aku termasuk paling ga suka numpukin barang, kecuali buku, kalo itu msh sulit mbaaa :D. Tapi Buku2ku disimpan rapi di ruangan khusus, Krn dari dulu impianku punya perpustakaan pribadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!