Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Akhirnya Membuat Podcast

3 min read

membuat podcast itu mudah

Yeay, akhirnya saya punya siniar alias podcast nih. Haha.

Masih ingat betul waktu desember kemarin, saya membuat cuitan di twitter yang isinya bahwa saya ingin sekali membuat podcast. Teman masak saya saat pagi dan sore adalah suara-suara dari siniar ini. Hampir nggak pernah terlewatkan.

Tiba-tiba Mas Fatkhur, kakak angkatan saya di kampus merespon dan bilang : Ayo, bikin saja. Ajak temanmu untuk berdiskusi di podcast tersebut.

Sempat saya bergabung dengan kelas podcast yang diadakan oleh Siberkreasi. Namun, nggak tahu kenapa saya kurang greget untuk mengikuti kelasnya. Tepatnya, saya melewatkannya begitu saja.

Awal bulan Februari, untungnya ada pembukaan kelas podcast lagi. Tetiba, kali ini niat saya lebih kuat.

Obrolan Iyes Lawrence bersama Nino Kayam di salah satu podcast favorit saya, Makna Talks, menggugah hati saya untuk segera membuat siniar. Memang ya, kadang inspirasi itu datangnya dari hal yang tidak terduga. Seperti obrolannya mereka ini. Nino bilang :

Kalau kamu mau, lakukan saja. Selama baik dan kamu suka, lalu apa yang menghalangimu untuk melakukannya?

Nino Kayam

Saat mencuci piring di kamar mandi, mendengarkan kata-kata Nino, batin saya bertanya-tanya. ‘Eh iya juga, apa sih yang membuatku nggak segera buat podcast?’

Setelah bertanya begitu, saya bertanya lagi pada diri sendiri ‘Kenapa sih mau bikin siniar ini?’ Lho, iya. Apa ya? wkwk

Alasan Membuat Podcast

Saya adalah pecinta hal-hal yang berbau audio. Radio menjadi teman hidup yang melengkapi malam saya sembari mencurahkan perasaan di diary. Ia juga yang membawa saya mengenal banyak hal. Media audio ini adalah teman hidup saya.

Baca juga : Asyiknya Media Audio Ceriakan Hariku

Seiring perjalanan, meski radio tetap asyik, namun ternyata ada hal yang serupa dan lebih asyik. Ialah podcast.

Bedanya radio dan podcast ada pada caranya yang non-streaming dan bisa diunduh kapan saja. Kanalnya lumayan banyak, variatif dengan tema yang menarik seperti audibook, humor, dll. Tema ala talkshow adalah hal yang saya sukai.

Bukan pemerhati orang-orang berkomunikasi, namun saya menyadari bahwa mendapatkan lawan ngobrol yang seru, mengalir, dan berwawasan luas itu sedikit sulit. Saya juga suka mengobrol yang nyambung. Senangnya, saya mendapati hal itu di podcast.

Berbicara tentang suatu hal lalu nyambung ke satu hal yang lain itu menyenangkan. Apalagi jika lawan bicara kita memiliki wawasan yang sama, kita sendiri yang mendengarkan pun pasti nggak bakal bosan.

Pandemi yang membuat saya lebih banyak tinggal di rumah pun kadang butuh teman mengobrol baru. Atau kadang butuh bahan obrolan yang unik. Jadilah, apa yang saya dengar dari podcast menjadi bahan obrolan saya dengan suami atau anak. Seru bukan?!

Lalu saya membayangkan, bagaimana kalau saya membuat podcast? Saya punya beberapa pertimbangan yang membuat saya ngebet buat podcast nih.

Belajar Public Speaking

Suami beberapa kali mengisi kelas zoom dan saya acapkali mengkritiknya; kenapa banyak sekali hmmm hmm-nya sih kalau ngomong?

Lalu kita take video dan ngobrol, lho ternyata saya juga. Kami tertawa bersama mengakui kelemahan kami. Memang teori saja tidak cukup. Public speaking yang sudah dipelajari tentu saja perlu diasah.

Mengasah Percaya Diri

Nah, ini sih alasan klise. Mengasah percaya diri dengan mendengarkan suara sendiri itu sebenarnya cukup menyebalkan. Suara saya terdengar cempreng. Meski awalnya sengaja saya setting agar suaranya cukup elegan, ternyata kalau sudah kebablasan ngobrol ngalor ngidul tetap saja suara cemprengnya terdengar. Ya udah sih, memang begitu aslinya. haha

Menyimpan Obrolan dengan Anak

Sebagai permulaan, saya awali dengan memproduksi podcast bersama anak saya, Nahla.

Rasanya cukup memuaskan. Saya senang bisa menyimpan obrolan saya dengan Nahla dan bisa menyetelnya berulang-ulang. Obrolan di podcast ini bisa jadi bahan evaluasi dan pembelajaran juga buat saya.

Oh ternyata ngobrol dengan anak umur lima tahun kurang tiga bulan itu udah seru banget ya. Cocok nih untuk diajak diskusi dan ngobrolin buku, sekalian melatih critical thinking anak, kan. Begitu pikir saya.

Diajarin Buat Podcast Bareng Siberkreasi

cara membuat podcast dengan anchor

Setelah melakukan pendaftaran lewat email, akhirnya saya resmi ikut kelas podcast. Kita pun dimasukkan ke dalam grup Telegram untuk update informasi dan membagikan link kelas yang terbatas di youtube, pengisian absen serta post test-nya.

Selama kelas, kami dipandu oleh Mas Rane Hafied, seorang penyiar radio sejak tahun 1994. Memang pengalaman yang lama dan luas membuat kelas ini beliau pandu dengan sangat luwes dan bikin betah.

Materi pertama, kami diajarkan tentang dasar-dasar ilmu podcast. Materi kedua adalah struktur dasar podcast. Mas Rane ditemani oleh pemateri yang berbeda-beda tentunya.

Nah, kemarin saat materi ketiga tentang dasar produksi podcast kita diajarkan mulai dari merekam, editing sampai publishing. Kali ini Mas Rane ditemani oleh Mas Andry “Joe” Novaliano (Editor Podcast/Sound Engineer).

Baru satu jam materi produksi podcast, saya sudah nggak sabar untuk segera membuat podcast, nih. Awalnya, saya kira ribet sekali. Perlu microphone dan alat peredam noise, kan mahal banget. Tapi ternyata pakai ponsel juga bisa. Gampil pisan.

Memproduksi Podcast Sederhana Pakai Anchor

Sekilas memang Mas Rane menyarankan kepada kami, kalau mau buat podcast yang bagus ya pakai microphone dan pakai aplikasi peredam kebisingan gitu. Tapi kalau pemula dan mau coba-coba, pakai ponsel dan dengan sekadar mengunduh aplikasi Anchor aja sudah jadi.

Cara produksi i menggunakan Anchor antara lain:

  • Unduh aplikasi Anchor;
  • Buat akun; buka dengan facebook atau gmail, atau bisa juga masukkan email lagi. Jangan lupa untuk memverifikasinya
  • Buat episode; tekan tanda + yang berwarna ungu untuk memulai
  • Mulai merekam
  • Ketuk x untuk menyudahi rekaman
  • Bisa ditambahkan backsound dengan menekan ‘tambahkan musik latar’
  • ketuk tanda centang untuk menyimpan rekaman

Horeee! Kamu sudah bisa mendengarkan rekaman suaramu.

Kemarin Mas Rane memberi contoh, dia suka membuat rekaman pembuka, isi, dan penutup. Jadi tiga kali merekam. Penggunaan tersebut menurutnya akan mempermudah, jika nanti akan dipakai lagi, bisa.

Jika ingin yang lebih bagus hasil rekamannya, teman-teman bisa menggunakan microphone yang bagus dan mengunduh Audacity untuk menghilangkan kebisingan yang ada di sekitar kita.

Podcast NaraTalks

NaraTalks adalah nama podcast yang saya buat. Apa maknanya? apa yaa?? hihi, gabungan dari nama saya, suami dan Nahla kayaknya*mekso.

Nama podcast ini murni tiba-tiba keidean aja nama tersebut. Terinspirasi dari siniar kesayangan saya tentunya, MaknaTalks.

Konsep podcast atau siniar ini seperti akan lebih sering mengajak Nahla untuk ngobrol deh. Saya beberapa kali membujuk suami belum mau, sih. Kalau ngobrol sendiri, hmm rasanya memang kurang asyik dan garing nih pastinya.

So, inilah dia siniar NaraTalks bersama Ghina dan Nahla. Voilaaaaaa..

Masih trial and error yaa. Ada yang bilang backsoundnya terlalu kencang, ngalahin suara. Ada yang bilang suara kami terlalu kecil juga. Iya sih, pas ngobrol sama Nahla posisinya ubah-ubah mulu, dari duduk, terus tiduran, terus pindah tempat. Ya, bayangin pindah posisi sambil ngomong dan bawa ponsel gitu. wkwk

But it’s okey. Baru permulaan. Setelah memulai, tantangan terberatnya tentu saja mempertahankan dengan terus memproduksi konten podcast tentunya.

Untuk keberlanjutannya, masukan dan ide dari teman-teman pembaca tentu saja saya persilahkan. Yuk, share ide dan masukan teman-teman di kolom komentar.

Salam hangat dari NaraTalks

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

What I Learn In February

Ghina
2 min read

Kegagalan Pertama Dalam Hidup

Ghina
5 min read

A Poem : Tahun Kembar

Ghina
30 sec read

25 Replies to “Akhirnya Membuat Podcast”

  1. Huaaaa Kak Ghina suaranya merdu banget 😍 nggak ada cempreng-cemprengnya, Kak! Suaraku masih jauh lebih cempreng 🀣 dan semisal suara Kakak dibilang cempreng, apakabar suaraku? Kayak kaleng rombeng kali πŸ˜‚πŸ˜‚.
    Suara Kak Ghina cocok banget sih kalau bawain podcast. Kayaknya kalau bahas hal-hal berbau self-love atau self-improvement gitu cocok, sebab suara Kakak terdengar lembut dan kalem gitu πŸ™ˆ
    Nahla juga gemesin banget deh ahhh πŸ™ˆ agak malu-malu di awal, tapi lama-lama ngalir juga 🀭
    Menurutku backsoundnya betul agak kekencengan, Kak. Aku sendiri sebenarnya prefer dengar podcast yang kalau lagi bagian ngomongnya nggak ada backsound, jadi bisa fokus ke pembicaraannya 😁
    Kak Ghina, pokoknya harus bikin episode lainnya! Aku tunggu yaaa 😁

    1. Hallo Liaaa, Wkwkwk, nggak percaya kalau belum ada buktinyaa, nih Li, coba-coba mana suara cemprengnya Lia, wkwkwk

      Wah, apakah suaraku kayak motivator ya, wkwk. Itu mgkn karena ngobrol sama anak aja kali yaa. Tunggu di podcast selanjutnya moga suaranya tetap bisa lembut dan kalem seperti yang Lia maksud.

      Lagi bingung juga nih pake beskon apa nggak ya enaknya. Pake bekson emang agak ganggu, tapi kalau nggak pake bekson takutnya pas kita lagi pada diem-diemaan atau nggak ada ide mau ngomong apa jadinya malah horror karena sepi. Tapi next podcast coba nggak pake bekson deh..

      Makasih yaa Liaaa.. terimakasih sudah mendengarkan podcast naratalks. sehat selalu buat Lia.

    2. Wah Lia bikin aku merah-merah nih pipinya. Masa suara Lia lebih cempreng, nggak percaya kalau nggak ada bukti? XD

      semoga suaranya bakal bisa bener2an merdu dan lambut terus yaa sampai di episode-episode selanjutnya, moga nggak kebablasan sampai teriak2 nih nanti.

      Oke, bener nih emang bekson agak ganggu ya. Suka bingung soalnya, kalau pake bekson tumpang tindih sama suara sendiri, tapi kalau nggak pake bekson malah jadinya kikuk kalau2 kitanya bingung mau ngobrol apa, kan enak kalau ada bekson tetap ada yang bisa didengar. Tapi, next podcast coba nggak pake bekson deh.

      Makasih ya Lia sudah mendengarkan, ditunggu untuk episode selanjutnya. Sehat selalu untuk Lia..

      1. Jiahaha beneran suaraku lebih cempreng. Tidak untuk diperdengarkan karena takut merusak pendengaran yang mendengarkan 🀣🀣

        Semisal nanti nggak pakai backsound, kalau ada part ngomong yang kosong, mungkin bisa di-cut aja Kak Ghinaa. Jatuhnya butuh lebih diedit kalau nggak pakai backsound sih πŸ˜‚

        Bagaimanapun hasilnya kelak, aku tetap mendukung Kakak! Hihihi cemungudh 😘

        1. Wkwk, malah aku jadi penasaran amaa suara Lia, nih πŸ˜€

          Iya kemarin abis record langsung save dan publish aja. Terlalu menggebu-gebu semangat pengen dengerin hasilnya wkwk.

          Makasih banyak masukannya Liaaa.. Thanks for supporting me 😍

  2. Aaah suaramu sih ga cempreng mbaaaa. Ini malah ingetin aku Ama suara pendongeng yg dulu kasetnya sering aku beli, zaman aku kecil. Dulukan ada tuh kaset2 dongeng , aku sering beli.trus dengerin bareng Ama adek. Daan narator ceritanya suaranya pasti empuk, kayak suaramu gini :D.

    Aku bukan tipe yg suka bicara jujurnya. LBH suka membaca. Kalo mendengar gini, aku masih mau dengerin, apalagi kalo topiknya menarik yaaa. Tapi utk bicara sendiri ato bareng Ama temen di suatu podcast, rasanya ga cocok di aku :D.

    Jadi, aku mendengarkan aja laaaaah πŸ˜€

    1. Kek motivator siapa ya Mbak? Waaah terimakasih nih. Aku jadi terharu ☺

      Dulu aku nggak dengerin kaset dongeng sih Mbak, tapi dengerin dongeng di radio-radio. Kisahnya kadang kisah daerah sih..

      Enak banget kemarin bikin podcast tuh. Nggak perlu banyak yg diedit, kalau nulis atau bikin video udah kebayang itu lamanya ngedit-ngedit. Tapi ini ngajak anak buat mau diajak podcast malah yg susah..

      Makasih banyak Mbak fanny sudah mendengarkan. 😁

  3. Mba Ghina, saya barusan dengar Podcastnya hihihi, suara mba Ghina bagus bingits, so calm mirip suara pendongeng yang dulu jaman kecil sering saya lihat dan dengarkan kisah-kisah dongengnya 😁

    Terus teruuuus, mba Ghina suaranya punya melodi ketika berbicara. Nggak flat macam saya πŸ˜‚ Wk. Ada naik turunnya ~ kalau guru saya di sekolah suaranya begini, dijamin saya ketiduran. Seperti dikasih nyanyian soalnya. Hahahahaha. Dan yang paling saya salut, tata bahasa yang mba Ghina gunakan ketika berbicara dengan Nahla itu rapiiiii dan bagus sekali, which is mempengaruhi cara Nahla bicara 😍

    Semoga sukses Podcast-nya mba Ghina πŸ₯³πŸŽ‰

    1. Haii Mbak Eno. Makasih lho sudah mendengarkan. Kok pada bilang dongeng jaman kecil, aku nggak tau yaa. Huhu. Apa ada di TV ya Mbak? 😁

      Wah makin semangat nih kalau respon pada bagus gini. Hihi.. Aku sendiri kalau dongengin Nahla yg ada aku duluan yg ngantuk sih Mbak. Tapi Nahla malah nggak ngantuk dan dia malah yg memperhatikan mataku kalau aku udah mulai ngantuk. Hihi

  4. Wow, selamat sudah memiliki podcast . Selamat menikmati dan saya kapan pengin dengarkan. Sering kali dengarkan istilah podcast tapi belum mengerti. Sekarang sedikit demi sedikit mengerti.

  5. Wah keren sekali sudah jadi bikin podcast. Selamat ya, semoga tetap konsisten menghadirkan konten positiv dalam podcastnya. Jangan kayak Saya, udah jarang bikin podcast karena males

  6. Pengen banget buat podcast apa daya suara sy paless banget yang ada pendengar auto gumoh nanti kak denger suara saya hehehe..selamat ya kak akhirnya bisa berpodcast ria

  7. Keren banget mbak. Dulu saya juga pernah sih pertama kalinya bikin podcast yang waktu itu gara-gara ada tugas dari ODOP yang tugasnya suruh bikin podcast sendiri. Cuman sayangnya saya gak lanjutin nyoba podcast lagi karena saya belum terbiasa ngerekam suara dan suara saya tuh masih kaku banget πŸ™‚

  8. Media sosial yang belum saya miliki adalah Youtube, Tiktok dan Podcast Entah kenapa saya tidak pede jika harus bermedsos dengan menggunakan suara, hehehe. Tapi bukan berarti saya anti namun belum tahu ilmunya saja kali ya.

  9. Suara mbak Gina nggak cempreng kok. Bagus banget…dulu penyiar ya? Ah aku tuh dari tahun kapan ya udah dikomporin temen2 buat bikin podcast tapi nggak kelakon juga. Nggak tau mau bikin podcast apaan dengan suaraku yang kayak anak2 gini.

  10. wah suaranya merdu mbak
    emang sekarang bloggger juga butuh bikin podcast ya mbak…
    senang ya bisa belajar podcast bareng mas rene

  11. Aku jadi tergugah buat bikin podcast bareng anak juga. Kayanya seru bisa jadi kenangan. Mba, kalau ngobrol sama anak gitu biasanya bertahan berapa lama buat bikin poscast? Tips dong supaya anaknya ga bosenan. Makasi mba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *