Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Mindful Eating Saat Puasa Ramadan

4 min read

mindful eating di bulan puasaadan

Seminggu sebelum puasa, saya mendapat kesempatan untuk ngobrol dengan Ibu Dini Kusuma Wardhani tentang mindful eating saat Ramadan di instagram Indonesian Minimalist Moms. Senang sekali rasanya bisa dapat kesempatan berbincang tentang makanan dengan beliau. Beliau ini salah satu panutan saya dalam menjalankan gaya hidup zero waste.

Mindful eating adalah pola makan yang melibatkan secara penuh, sehingga asupan yang masuk bisa lebih terkontrol. Hasil dari mindful eating ini adalah terkendali asupan yang sehat serta tercukupinya kebutuhan tubuh akan makanan. Bonusnya, kita bisa lebih sehat dan sedikit menghasilkan sampah makanan.

Baca juga : Ramadan dan Berkah Makanan

Tentu ini penting mengingat saat puasa kita justru biasanya lebih ‘rakus’ saat momen buka puasa tiba. Sementara perlu kita ketahui, bahwa faktanya Indonesia dan Arab Saudi yang notabene keduanya adalah negara islam namun pada saat Ramadan justru menghasilkan sampah makanan terbanyak selama Ramadan.

Saya sendiri jadi teringat pada masa kecil dulu, sepulang ngaji sore saya biasanya langsung ke warung untuk memborong berbagai cemilan. Ibu memberi uang saku 5000 rupiah langsung habis semua. Di meja, sudah terkumpul berbagai cemilan yang membuat saya nggak sabar untuk melahap semuanya.

Bedug maghrib datang, lalu saya langsung melahap makanan yang sudah ibu sajikan. Ada bubur sumsum kesukaan Abah dan sup buah kesukaan anak-anaknya. Kami langsung menyantapnya dengan lahap dan sedikit begah karena kebanyakan minum. Isya dan tarawih pun akhirnya terkantuk-kantuk, habis tarawihan saya dan teman-teman ke warung depan untuk rujakan, sementara cemilan yang tadi sore saya beli masih teronggok begitu saja.

Gambaran di atas banyak terjadi pada kita saat puasa. Karena puasa meminta kita untuk menahan lapar dan dahaga, kita justru mencoba memuaskannya pada saat buka puasa datang. Malam pun, bukannya mendaras ayat-ayatNya, yang ada kita sudah tepar karena perut penuh dengan makanan. Bagaimana sebenarnya kita puasa ini????

Sak Madyo, Gaya Hidup Sadar pada Makanan

Menurut Bu Dini, puasa ini melatih kita untuk memenej diri terhadap makanan. Sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk menjalani hidup yang pertengahan. Tidak perlu ekstrim ke kanan maupun ke kiri. Hal ini juga berlaku pada saat puasa.

Saat kita puasa, kita perlu menegakkan hak tubuh kita dengan berbuka. Saat mau beribadah, ktia juga dianjurkan untuk tidur dulu. Agama tidak menyuruh kita untuk berlebih-lebihan atau esktrem. Tidak ada juga jenis puasa sepanjang tahun ataupun sholat setiap hari. Ada hak lain yang perlu dilakukan dan diimbangi.

mindful eating saat ramadan

Maka, Bu Dini bilang, dalam menjalani hidup ini kita seharusnya memenuhi apapun secukupnya. Dalam istilah bahasa jawa disebut Sak madyo.

Sak madyo atau secukupnya ini salah satu sikap dari mindful eating . Dengan secukupnya, kita diharapkan mampu mengerem apa yang kita inginkan. Melalui Sak Madyo ini juga kita belajar untuk mampu memahami kebutuhan. Sehingga ketakutan-ketakutan yang muncul seperti takut kurang, takut masih lapar, dan ketakutan lainnya dapat kita hindari.

Selain faktor pemenuhan hak tubuh, puasa juga memiliki pengaruh pada kesehatan tubuh kita. Asupan yang tiba-tiba melimpah pada saat buka puasa tentu tidak baik untuk kesehatan tubuh. Tubuh jadi kaget merespon makanan yang masuk, belum lagi jika saat berbuka malah makanan cepat saji, manis-manis, dan kebanyakan air dingin plus manis yang dilahap.

Pola makan saat berbuka puasa perlu diperhatikan dengan baik. Hindari makanan bergula tinggi, gorengan, serta minuman berkarbonasi saat berbuka. Sebagai gantinya pilih berbagai jenis makanan yang memiliki kandungan kalium tinggi seperti yoghurt, kacang-kacangan, labu, yoghurt, alpukat, jamur, dan pisang, cairan yang cukup dan sayuran yang mengandung air.

Cara untuk Mindful Eating saat Ramadan

Nah, setelah kita tahu betapa tidak baiknya berlebih-lebihan dalam makanan, lalu bagaimana caranya untuk mengelola makanan agar tidak berlebih-lebihan yang berujung mubadzir dan jadi sampah makanan? Berikut penjelasan dari Bu Dini yang bisa kita praktikkan.

1. Buat perencanaan belanja

Sebelum belanja berbagai menu takjil dan lauk-pauk yang lezat, terlebih dahulu kita perlu membuat yang namanya perencanaan belanja. Ini penting banget untuk mengurangi hal-hal yang besifat konsumtif saat belanja.

jika muncul kekhawatiran akan tidak cukup dari biasanya, maka boleh dilebihkan. Namun Bu Dini mewanti-wanti bahwa melebihkan juga nggak boleh sampai dua kali lipatnya. Cukup lebihkan 5-10 persen saja dari tiap makanan tersebut.

2. Tahu porsinya seluruh anggota keluarga

Ini hal yang penting banget dilakukan oleh seorang ibu atau siapapun yang kebagian untuk menyiapkan menu buka dan sahur keluarga. Mengetahui porsi seluruh anggota keluarga menjadi solusi awal mengurangi jumlah sampah makanan yang terkumpul nantinya.

Selain mengetahui porsi makanan, kita juga perlu mengetahui selera masing-masing anggota keluarga. Dengan demikian makanan yang disajikan akan lebih minim sampah nantinya. .

3. Cek rencana mendatang

Biasanya kan kita kadang ingin makan di luar, atau teman ngajak buka bersama, atau rencana mau buka bersama keluarga besar, sebaiknya kabarin dulu kepada pihak yang akan memasak. Tentu supaya pihak yang memasak bisa mengurangi porsi atau malah tidak perlu masak sama sekali, sehingga bisa meminimalisir sampah makanan.

4. Simpanan makanan di kulkas

Jika memang masih ada sisa makanan, taruh di kulkas. Cara lebih mudahnya ialah dengan cara membagi makanan dengan menggunakan porsi-porsi kecil, sehingga lebih mudah mengeluarkan makanan tersebut.

Jika tidak memiliki kulkas, kita bisa membuat makanan yang tahan lama tanpa kulkas seperti olahan rendang, tempe kering, serundeng, dan lainnya.

5. Lakukan food preparation

Food preparation (food prep) adalah metode yang cukup sederhana untuk mempersingkat waktu masak dan memudahkan kita dalam menyiapkan berbagai keperluan makanan. Sudah tidak cukup asing kan dengan metode food prep ini, atau teman-teman sudah mempraktikkannya?

Hal yang jarang kita sadari, dengan melakukan food prep ini ternyata bisa mengurangi jumlah sampah makanan (food waste) lho. Karena makanan sudah disiapkan, sehingga pengelolaan makanan akan lebih mudah. Kita bisa memberi tanda tanggal, sehingga saat memasak bisa memilih makanan yang udah hampir busuk terlebih dahulu.

6. Olah Ulang Makanan

Ketika sahur dan masih ada beberapa sisa makanan dari buka puasa, kita bisa mengolahnya ulang jika cukup bosan dengan olahan awal. Seperti tempe yang bisa dijadikan sambal tempe, sisa sayuran macam-macam bisa kita buat risoles, atau malah kita bikin nasi goreng yang hampir semua anggota keluarga suka, pastinya.

Kita perlu ingat bahwa dalam suatu makanan itu ada yang namanya kehidupan kedua. Jadi jangan serta merta membuangnya saat tidak termakan. Kembangkan ide kreatif kita untuk mengolah makanan tersebut menjadi olahan makanan lainnya.

7. Berbagi dengan tetangga

Jika masih memiliki banyak makanan, tidak ada salahnya untuk membagikan makanan tersebut kepada tetangga. Saya jadi ingat ucapan Habib Ja’far, ‘Bukankah musik dan parfum yang haram itu adalah suara kegaduhan kita di dapur yang menebarkan bau masakan kita kala tetangga sedang kelaparan?

Bukankah musik dan parfum yang haram itu adalah suara kegaduhan kita di dapur yang menebarkan bau masakan kita kala tetangga sedang kelaparan?

Habib Husein Ja’far Al Hadar

8. Lakukan pengomposan

Jika memang tetap ada sampah makanan, maka sudah saatnya kita belajar untuk mengolah sampah makanan menjadi kompos. Yups, pengomposan adalah  proses di mana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.

So, dari tanah kembali ke tanah.

Mindful Sedekah

Kemarin saya mencoba bertanya kepada Bu Dini tentang masalah nasi-nasi dari sedekah jum’at yang malah teronggok banyak di pojok suatu tempat. Kebaikan ternyata tidak selalu berujung baik.

Untuk menyikapi hal tersebut, Bu Dini bilang bahwa saat sedekah seharusnya kita melakukan survey terlebih dahulu. Baik jumlah peserta, waktu pembagian, serta menu yang akan kita berikan. Waktu sedekah tidak melulu harus hari jum’at, kapan pun tentunya baik dan boleh-boleh saja. Jika dikhawatirkan makanan akan mudah busuk, bisa diganti dengan menu kering, cemilan berat, dan lain sebagainya.

Untuk penjelasan lengkapnya, teman-teman bisa buka di instagram Indonesian Minimalist Moms. Psst, buat kamu yang merasa perempuan baik single maupun sudah menikah dan ingin belajar hidup minimalis, bisa lho join di sini :

Penutup

Puasa memang mengharuskan kita untuk tidak makan dan minum selama kurang lebih 14 jam, namun memenuhi hak tubuh tidak hanya dengan menyiapkan berbagai makanan yang diinginkan. Mindful Eating menjadi salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menjalani Ramadan yang lebih berkesadaran. Ramadan seharusnya menjadi momen untuk lebih menyederhanakan keinginan, dan memperbanyak waktu untuk beribadah, bukan?

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

25 Replies to “Mindful Eating Saat Puasa Ramadan”

  1. Passss banget aku juga baru posting soal mindful eating di instagram mbaaa, tahun lalu belajar lalu terlupakan hahahha…Aku coba melakukan lagi beberapa hari ini, tapi masih lebih ke sikap ketika makan sih.. Belum selengkap prinsip2 yang mbak bagikan, terutama ini selama puasa ya. Menarik bange, tapi butuh disiplin dan pastinya butuh waktu buat latihan sampai terbiasa huhuhu

    1. yeaaay, samaan donk. bisa ditulis juga donk blogpostnya, mba erika.

      untuk sikap ini memang permulaan yang abgus ya mbak, jadi lebih khidmat juga terhadap makanan. tapi kalau prinsip di atas udah eksekusi lanjutanya. moga denngan gitu ktia bisa lebih mindul pada makanan yaa.

  2. Suka ulasannya, saya juga baru beberapa tahun menerapkan hal ini setelah anak-anak sudah bisa memahami hakekat puasa yang sesungguhnya. Benar sekali tentang sak madyo atau tidak berlebihan karena sesungguhnya kita sedang menahan diri dan memperbanyak ibadah di saat Ramadan.

    1. Hai mba erly, terimakasih sudah mampir. Senang ya kalau anak2 bisa diajak kerja sama gitu.

      Benar banget, emang ujung2nya cukup itu sering jadi kata kunci, cuma cukup bagi satu orang tentu berbeda dengan definisi cukup bagi orang lain ya

  3. Waah dapet ilmu baru lagi nih dri Mba Ghina. Aku baru tau istilah mindful eating ini. Selama ini taunya, makan jangan berlebihan. karena kan sesuatu yg berlebihan itu blm tentu baik.
    Makasi tipsnya Mba Ghina. Aku yg masih peer itu buat porsi masakan selama ramadhan ini. Sering banget nyisa n ujung2nya mubazir, walaupun masih bisa ditaro kulkas sih sebenernya yaa. Tp harusnya itu secukupnya aja biar ga pd mubazir yaa..

  4. Saya suka dengan ulasan ini yang benar-benar edukasi tentang puasa. Mindful eating your food sesuai dengna kebutuhan bukan keinginan, makna yang penting adalah ibadah.

  5. Baru tahu istilah ini. Ilmunya daging banget ini kak terima kasih telas menuliskannya yaaa. Sebagai perempuan yang akan jadi ibu ini memang penting banget

  6. sejujurnya setiap puasa ada masanya makan berlebih saat berbuka puasa. suka lapar mata soalnya. Tapi mindful eating ini sangat bisa diaplikasikan, karena kita juga dilarang berlebih-lebihan kan

    1. Naaah iya ya. Buka puasa itu udah kyak pengen balas dendam aja rasanya. Apa apa pengen kita lahap. Makanya, mindful saat ramadan ini tantangan bgt

  7. Saya sepakat. Kalau saya justru Ramadan menjadikan saya lebih teratur dan sederhana dalam perihal makan. Namun sulit sekali menerapkannya di bulan selain Ramadan.

  8. Benar sekali pernyataan kalau bulan puasa justru jadi bulan dengan sampah makanan terbanyak. Ironi ini fakta menyedihkan. Berkat tulisan ini saya jadi tahu tentang mindful eating dan tips-tipsnya berguna sekali. Merasa beruntung karena sudah blogwalking kemari. Semoga bisa saya aplikasikan. Terima kasih, Mbak. Dan, salam kenal.

    1. Hai Mba Celestilla, salam kenal juga.

      Iya sedih banget mendengar fakta tersebut ya Mbak. Sebagai masyarakat kita harusnya makin peka thd keadaan ini, apalagi di luar sana ternyata masih banyak orang yg kelaparan.. Sedih sih

  9. Setuju bgt mba gina sama kalimat penutupnya, aku tuh pengen belajar komposting tpi kok masih maju mundur..jdi sebisa mungkin ga ada makanan sisa

  10. Thank you Mbak Ghina udah nulis ini hehe. Noted banget tips-tips dari Bu Deka. Salut juga sama Mbak Ghina yang bisa living without refrigerator. Aku pernah coba dan sulit buatku :’)

  11. Wah, istilahnya sak madyo ya?
    Btw, terimakasih lho, ulasannya. Sejauh ini yang aku sering terapin itu olah ulang makanan biar ngga mubajir. Memang peran seorang ibu penting banget ya, kebiasaan olah ulang makanan ini juga aku lakuin rutin sampe sekarang karena sering lihat ibuku ngelakuinnya.

  12. Daku juga melakukan itu simpanan makanan di kulkas terutama buah, karena juga selain jadi fresh dan dingin bisa mengurangi kunjungan bolak balik ke pasar.

  13. Ramadhan saat berbuka bukan harus makan apa saja yang diinginkan, tapi mensyukuri yang ada. Dengan mindfull eating jadi lebih banyak bersyukur

  14. Filosofi yang baik sekali ya Sak Madyo atau Mindful Eating ini.. Tubuh kita butuh makanan, tapi bukan berarti semua bisa dimakan dan baik untuk tubuh

  15. Aku kayaknya kalau buka, makan kurma sama air putih doang sudah kenyang banget wkwkw, habis itu beraktifitas ngadep laptop, eh nga kerasa jam 11 malam dan belom makan apapun wkwkw

  16. Wah mantabbb ilmunya…

    sebuah reminder diri supaya tidak berlebihan dan menjalankeun prinsip sakmadyo saja. Btw pesan ini selalu digaungkan sama kedua orang tuaku nih…
    kadang kalau mau tergoda beli ini itu agak banyakan luamyan nampol juga kalau udah dikandani kalimat ini wkwkkwkw…..

    btw yang belom bisa aku lakukan ini food prep..selalu kacau jadwalnya hihi. jadilah beli sekiranya aja kalau mau masak dan dikira kira ntar bakal abis nyampe hari ke berapa.jarang nyetok ampe mingguan soalnya ntah kenapa cepet layu..huhu..apa aku yang kurang lihai ya nata nata bahan bakal sayur n lauknya huhu

    1. Iya ya mba nit. Pesan orang tua itu emang benar adanya. Kita sbg generasi yg bakal jadi orang tua jg emang harusnya ikuti apa yg mereka katakan bisr jadi leluhur yg baik. 😄

      Kalau mba nita ada kulkas malah tmbh enak food prepnya. Aku dulu suka nyetok sampe semingguan mbak. Mayan hemat bgt sih. Skrg karena ga ada kulkas jd belanja tiap 2-3 hari sekali. Cuma emang ga bisa belanja bnyk karena tkut selak kayu itu.

  17. Sepakat sekali teh Ghina. Jika tidak direm, buka puasa menjadi ajang balas dendam memenuhi nafsu dan kerakusan kita. Semoga bisa mengamalkan ilmu mindful eating ini agar lebih terkontrol. Hatur nuhun teh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!