Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Hubungan Kita dengan Uang

5 min read

relationship of money hubungan dengan uang

Hubungan kita dengan uang akhir-akhir ini semakin akrab, ya. Semenjak pandemi datang, kita mulai diwaspadai dengan berbagai kemungkinan buruk yang akan datang. Banyak para perencana keuangan pun menyarankan untuk menyiapkan dana darurat berkali kali lipat. Tapi sebenarnya, bagaimana hubungan kita dengan uang selama ini?

Baik-baik? Uang cuma mampir saja? Atau duit tabungan udah banyak tapi nggak punya perencanaan yang jelas?

Masih ada banyak di antara kita yang merasa dekat dengan yang namanya uang, tapi tidak menjalin keakraban lebih intim dengannya.

Baca juga : Mengatur Keuangan Keluarga saat Mudik

Dalam sebuah podcast favorit yang saya dengarkan sambil nyuci pagi hari, ada obrolan menarik yang membahas tentang hubungan uang. Bukan membahas tentang bagaimana menghasilkan uang, berinvestasi, maupun menabung.

Lebih dari itu, obrolan dalam podcast ini justru membahas tentang hubungan kita dengan uang dikaitkan dengan masa lalu, pengasuhan, serta interaksi kita selama kita hidup. Hah, bagaimana bisa? Yuk, simak sampai tuntas.

Relationship with Money bersama Yusa Aziz

Yup, podcast favorit saya, Thirty Days of Lunch nih yang membawakan topik obrolan ini. Kali ini yang memandu acara adalah @sheggario dan @aleimasharuna dan bintang tamunya adalah Yusa Aziz, seorang Master Coach & Bussiness Psychology Coach dari @sanggarjiwabertumbuh.

Sebenarnya ada banyak obrolan di podcastnya yang bagus-bagus. Hanya saja, menurut saya topik ini menggugah sekali. Ini adalah basic dari bagaimana kita mengatur uang dan memperbaiki hubungan kita dengan uang agar berjalan dan terkendali dengan baik.

Tentunya karena Pak Yusa Aziz adalah seorang bussiness psychology coach, obrolan tentang uang pun dilihat dari sisi psikoterapinya.

Mengenal Psikoterapi dan Uang

Psikoterapi adalah perawatan terhadap jiwa. Yang menangani perawatan terhadap jiwa ini adalah seorang psikolog. Hal-hal yang ditangani adalah terkait gangguan mental dan emosi manusia. Metode ini tentunya digunakan oleh seorang ahli jiwa seperti psikolog atau psikoterapi.

Lewat terapi ini, terapis akan mengidentifikasi masalah terkait dengan gangguan mental yang dirasakan oleh si pasien. Bahkan tidak jarang pula, terapi ini menjadi jalan keluar bagi pasien untuk introspeksi, evaluasi dan memperbaiki hidupnya.

Berbicara tentang gangguan jiwa, secara umum kita akrabnya dengan kasus-kasus seperti orang stres, gila, depresi, dan lainnya. Nah, ternyata penyebab dari munculnya depresi selain karena emosi yang tidak stabil juga bisa disebabkan oleh kondisi luar yang tidak dapat kita kendalikan dengan baik, seperti uang.

Uang menjadi hal yang mampu memengaruhi kondisi jiwa kita. Bahkan ini sangat fundamental, karena segala kebutuhan kita bergantung pada uang yang kita miliki. Hidup memang tidak untuk menghasilkan uang semata, tapi kita tak bisa hidup tanpa uang.

Fakta yang seringkali muncul, ketika kita sudah merasa bekerja secara maksimal, tapi uang itu hanya lewat dan susah untuk merasa bahagia. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang merasa nyaman untuk hidup menantang dengan uang. Rela jor-joran mengeluarkan uang dan siap menghadapi kerugian.

Pak Yusa mengatakan ini adalah fenomena symtomp atau gejala penyimpangan. Berbicara soal uang tidak hanya berbicara tentang bagaimana mendapatkannya, tapi juga berbicara tentang bagaimana mengelolanya. Itu adalah dua hal yang tidak bisa terpisahkan.

Piramida Maslow dan Evolusi Uang

Fenomena uang ini, menurut Pak Yusa berkaitan erat dengan Piramida Maslow. Sebuah teori psikologi yang menjelaskan tentang hierarki kebutuhan manusia oleh Abraham Maslow. Dalam Piramida Maslow ini, Maslow menekankan pentingnya terpenuhi kebutuhan dasar manusia terlebih dahulu sebelum naik pada kebutuhan lainnya.

piramida maslow dalam mengelola keuangan

Berikut susunan Piramida Maslow tersebut :

1.Fisiologis; Kebutuhan fisik seperti makan, minum, buang air, seks, tempat tinggal dan lainnya. Ini adalah insting natural manusia. Sesiapapun kita sebagai manusia pasti membutuhkannya.

2.Rasa aman (Security and safety); Mulai dari pekerjaan, pendapatan, asuransi, deposito, emas, dalam bentuk apapun properti. Kita merasa aman ketika kebutuhan kita terpenuhi dengan pekerjaan dan terpenuhinya kebutuhan utama hidup baik dalam bentuk perlindungan maupun dana masa tua.

3. Sosial ( Social needs : Love and belonging); Adanya rasa ingin dicintai, diterima oleh lingkungan dan sebagainya.

4. Penghargaan (Esteem Needs)); Ketika seseorang sudah disayangi, maka keinginan untuk meraih penghargaan, pengakuan, berprestasi, perhatian, apresiasi, reputasi, dan semacamnya biasanya.

5. Aktualisasi diri (Actualization Needs); Saat manusia ingin meraih penghargaan, berarti ia siap untuk memasuki gerbang aktualisasi diri. Dalam tahapan ini, biasanya manusia akan memaksimalkan semaksimal mungkin kemampuannya untuk mendapatkan pengakuan dan mengapresiasi dirinya.

Uang, menurut Pak Yusa, dipandang sebagai piramida pertama dan kedua untuk memenuhi kebutuhan fisik. Kepercayaan terhadap uang bergeser dari zaman dulu yang awalnya berupa barter menjadi uang berbentuk seperti sekarang ini. Pandangan terhadap uang pun berbeda.

Ketidakadaan uang membuat manusia merasa terancam. Ketika uang semakin menipis atau bahkan tidak ada, kondisi fisik kita terpengaruh, amygdala dalam otak kita memberikan respon untuk melawan sebagai kondisi mekanisme untuk tetap bertahan. Uang menjadi jebakan dan juga kenikmatan.

Kompleksitas Uang, Netral atau?

Uang itu sebenarnya netral. Dia memiliki value karena persepsi manusia terhadap uang itu sendiri. Maka menurut Pak Yusa, persepsi terhadap uang bukan hanya berbicara tentang uang saja. Kita juga perlu paham segala gejala yang ditimbulkan dari uang itu sendiri. Hal tersebut harus dikaitkan dengan segala aspek dan perkembangan jiwa yang terjadi.

Pengasuhan memengaruhi hubungan kita dengan uang

Pak Yusa menyatakan bahwa perkembangan jiwa kita dengan uang dan pengasuhan masa kecil kita. Anak yang terpenuhi kebutuhan piramidanya, tentu akan berbeda pada anak yang tidak terpenuhi kebutuhan tersebut. Ini akan berpengaruh pada mental kita.

Anak yang tumbuh dengan berkecukupan, tidak ada kekhawatiran, semua kebutuhan fisiknya terpenuhi. Tentu hal ini akan menentukan pola pikir dan hubungan emosi kita dengan uang.

Seorang bayi dari usia 0 – 4 tahun bisa menyimpan itu semua. Hal itu Pak Yusa dapatkan dari pengalaman beberapa kliennya. Ini memang cukup teknis, tapi sewaktu Pak Yusa melakukan money complex, hal itu semua didasari dari pengalaman yang sejak usia 0 – 4 tahun bersama ibunya, dan usia 4 – 12 tahun bersama ayahnya.

Ketika ada seorang ibu yang mungkin merasa tidak aman karena penghasilan suaminya pas-pasan, ternyata dalam dirinya kecemasan tersebut menular kepada kondisi bayi yang sedang dibesarkannya. Whatever the mother feels, the baby feels. Hubungan bayi dan Ibu sangat penting.

Baca juga : Menjaga Kewarasan Ibu

Hal ini berbeda dengan kondisi bayi yang orangtuanya berkecukupan. Segala hal yang anak inginkan terpenuhi. Tidak perhitungan. Untuk anak apa sih yang nggak. That gratified.

Bukan sekadar berkecukupan dalam hal materi saja, namun waktu juga penting untuk terpenuhi. Ada dan hadir untuk anak saat menemaninya di masa-masa golden age berpengaruh besar pada security and safety.

Dalam pengasuhan, Pak Yusa juga menambahkan bahwa kondisi keuangan dan ajaran yang ditanamkan orang tua berpengaruh pada pola pengelolaan kita terhadap uang. Jika ajarannya kurang tepat, hal tersebut akan menjadi disorder atau penyimpangan.

pengaruh pengasuhan dalam menyikapi uang

Faktanya mudah kita temukan sih, mudah merendahkan ketika kita berada di atas, tidak begitu struggling untuk suatu hal karena terbiasa dengan kondisi nyaman, dan lainnya. Butuh pengakuan, tercapainya target, dan hal-hal terkait dengan personality disorder bisa muncul jika tidak mampu mengendalikannya. Di sisi lain, ada juga yang bekerja keras hingga berlebihan dan tak ingat kesehatan saking inginnya hidup yang katanya harus lebih dari orang tuanya. Tapi orang yang merasa hidupnya tenang (atau malah cuek) padahal penghasilan pas-pasan dan pengelolaan keuangan nggak terampil juga masih banyak.

Permasalahan ini adalah luka dari dalam yang perlu kita obati. Bukan dengan mencari kompensasi dari luar, melakukan impulsive buying, pamer dengan barang-barang mewah, menerima tanpa eksekusi, menikmati kenyamanan, tapi dengan evaluasi dan pengendalian diri.

Evaluasi hubungan kita dengan uang

Menarik sekali bukan pembahasannya tentang uang ini? Ternyata kalau kita menarik ulur ke belakang, bahkan pengasuhan kita memengaruhi pengelolaan kita terhadap uang.

Lalu, bagaimana untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi keuangan kita yang memang tidak tepat dan ingin segera kita benahi? Berikut beberapa tips yang Pak Yusa sebutkan:

  1. Tulis ulang your money biography history; Hal ini lebih kepada untuk mengetahui perkembangan pengalaman kita dengan uang. Kapan pertama kali menerima uang, uangnya kita apakan, komentar dari luar yang kita terima, respon orang tua tentang uang, cerita kehilangan, cara orangtua menangani uang, dan lainnya. Tuliskan semuanya.
  2. Transformasikan ide dan disorder kita untuk menukarkannya dengan uang. Uang memang fisiknya dari luar, tapi nilainya dari ide-ide kita.
  3. Lakukan evaluasi dari money tracking yang telah kita lakukan, dan kendalikan.
  4. Belajar untuk menyeimbangkan kebutuhan dari Piramida Maslow di atas.
  5. Lakukan terapi dengan ahli.

Penutup

Butuh mengulang-ulang podcast ini untuk saya bisa menangkap beberapa statement dari Pak Yusa tentang hubungan kita dengan uang ini. Terutama saat kita mengaitkannya dengan pengasuhan orangtua kita dahulu. Memang saya akui bahwa beberapa sikap yang telah orang tua ajarkan pun sedikit banyak memengaruhi juga pengelolaan saya terhadap uang.

Tentu ada hal yang baik dan yang kurang baik. Pernyataan Pak Yusa bukan berarti menyudutkan perlakuan orang tua kepada anaknya. Maka, untuk hal yang kurang baik pada hal-hal bisa kita temukan, seperti sungkan menagih hutang, nggak enakan untuk menolak, menganggap receh tak berguna, tidak membuat anggaran darurat, dan lainnya perlu dievaluasi dan dihentikan semampu kita.

Syukurnya, saat bingung dan tak tahu arah untuk mengelola keuangan, sekarang ini semakin banyak orang yang menyebarkan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan. So, kita tentu saja tidak boleh ketinggalan untuk terus mengupgrade diri, demi yang namanya merdeka finansial.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

31 Replies to “Hubungan Kita dengan Uang”

  1. Wah kalau hubunganku dengan uang macem kisah cinta masa kini kak, bertepuk sebelah tangan. Akunya ngejar, dianya makin jauh mwkwkkw. Tetap semangat yuuk!

    1. Ternyata pengasuhan kita di masa lalu juga berpengaruh yaa terhadap hubungan dan pengelolaan kita terhadap uang. Berarti kita pun harus hati-hati dan teliti lagi dalam mengelola keuangan pada saat mengasuh anak-anak

  2. Menarik sekali pembahasannya. Baru kali ini baca pengasuhan mempengaruhi hubungan kita dengan uang. Emang bener perlu evaluasi lagi dengan biography history. Agar tidak salah terkait pengasuhan anak dengan money. Menarik!

    1. dan sebagai evaluasi juga buat kita jadi orang tua sekarang ini, biar lebih hadir buat anak dan kasih edukasi juga ttg pengelolaan uang sesimpel menabung atau bijak mengendalikan keinginan mgkn ya

  3. wow podcast yang bagus ya teh, ini kalau mau denger di spotify kah? bicara soal uang emang kompleks ya, ternyata ada hubungannya dengan psikologis, teori maslow, inner child sampai pola pengasuhan. tapi relate semua sih. aku mau coba ah tips tips di atas tentang evaluasi hubungan kita dengan uang. tapi secara pribadi, uang bagi saya hanya alat memenuhi kebutuhan hidup tapi ini juga berdampak dengan lifestyle kita ya dan kembali lagi, pola asuh kita.

    1. bisa donk, itu aku udah kasih linknya teh.. tinggal klik aja langsung muter nanti..

      kalau dirunut mgkn sikap orangtua yg hemat, bisa jadi ngaruh ke kita yg bakalan ikut hemat atau balas dendam sekalinya dapat uang bnyk langsung beli ini itu karena ingin lepas dari kungkungan kan

    1. coba aja mbak telusuri dengan tips pak yusa di atas.. mgkn manajemen keuangan skrg ada mirip miripnya dgn pengasuhan orgtua dulu

  4. Wahh ini noted banget kak ghin. apalagi di bagian closing, menganggap receh tak berguna. hiks. kadang ada uang receh jatuh aku biarin aja hikss. padahal itu ada artinya jg lho yaaa 😦

  5. Penting banget ini ya mba pembahasaannya, aku nyimak juga dari postinganmu memang banyak yang harus dibenahi, dulu belum seperti sekarang ini banyak orang membagikan tips ya dimedia sosial. Tapi mari belajar berbenah

  6. Menarik sekali temanya teh ghina, aku dapat insight baru dengan keilmuanku saat ini. Pengasuhan ternyata erat kemana-mana ya. Dulu aku pribadi merasakan hubungan uang ini seperti aktualisassi,setelah sekolah kuliah aku harus bisa menghasilkan uang sendiri. Lalu menjadi perhitungan atau cenderung konsumtif dengan berbagai faktor.

    Namun, perjalanannya di pernikahan aku lagi-lagi belajar dari suami untuk tidak meletakkannya di hati tapi hanya di tangan. semua jadi lebih ringan, memang perlu dievaluasi dan dicatat. tapi semuanya harus disikapi dengan tenang

    1. Wah iya banget teh ina. Uang itu meletakkannya ditangan bukan di hati, jadi emang jgn sampai hutang org mmbuat kita jadi gondok yaaa. Huhu tapi ini realisasinya susah sih..

      Aku pun bnyk bljr dr suamiku soal keuangan, dia yg lebih balabaan menyeimbangi aku yg kadang koret. Wkwk

  7. Baru ngeeh kalau tanpa kita sadari uang dan kita itu berhubungan. Baru sadar juga kalau sikap kita terhadap uang juga dipengaruhi oleh pola asuh orang tua terdahulu. Nice info kak

  8. Jadi tersadar, ternyata selama ini, bagaimana cara memanfaatkan dan mempeakukan uang, berawal dari pola pengasuhan di masa golden age. Nggak nyangka sih ketemu fakta begini. Berarti kemampuan mendeteksi keinginan dan kebutuhan dimulai sedari kecil ya Kak.

  9. Tentang uang ini dampaknya bisa banyak ya, apalagi terkait dengan hubungan keluarga dan terutama kesehatan mental. Tinggal balik lagi ke diri bagaimana bijaknya terhadap uang

  10. UAng bukanlah segalanya, tapi tanpa uang kita bukanlah apa-apa. #eehhh wkwkw
    Akrab banget hubungan kita dengan uang di masa pandemi ini kak.
    Aku banyak belajar tentang keuangan dari suami, karena dia mantan orang perbankan jadi sia yang pandai heu heu.

  11. Wahh aku menerapkan banget tuh piramida maslow dalam setiap keseharianku.. Jadi lebih teratur dalam pengelolaan uang dan tidak boros dalam menggunakannya..

  12. Wah bener y pola asuh berperan dalam gimana membesarkan anak berhadapan dengan uang, anakku ada 2 nih usia SD, ada tips nya juga kah kalo untuk membuat anak ini lebih aware sama masalah keuangan

  13. eehhh… seserius itu kah hubungan kita dengan uang? sampai detik ini sih saya menganggap uang hanya sebagai sesuatu yang mampir di kehidupan saya.. soalnya saya nggak pernah nyimpen mereka lama-lama wkwkw.. jadi nggak terlalu menganggap hubungan ini serius atau spesial
    *ngomong apa sih.

    tapi jujur, artikelnya keren banget.. saya baca gak sekedar baca, tapi sambil belajar juga

  14. Betul mbak pandemi mengajarkanku buat simpan uang dalam-dalam kalau nggak urgent banget nggak dikeluarkan. Apalagi banyak budget terpotong, travelling, nonton, makan di luar hihihi dompet Aman sentausa

  15. Ah iya memang masalah keuangan jadi salah satu pemicu juga dalam kehidupan rumah tangga. Banyak yang mengalami kesulitan keuangan bisa stress akhirnya. Betul sih, setuju untuk mengevaluasi kembali hubungan uang dengan diri sendiri. Kembali memikirkan tujuan hidup itu apa.

  16. Bener ya perlu dievaluasi kembali hubungan Kita dengan uang. Jangan sampai uang menjadi sumber perpecahan terutama dengan keluarga terdekat. Nice article Mba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!