Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Mewujudkan Indonesia Sehat dan Bebas Kusta dengan Aktif Berpartisipasi

2 min read

indonesia bebas kusta

ghinarahmatika.com – Apa yang kita saat November tiba? Hari Pahlawan, iya. Tapi tahu kah teman-teman, ternyata di bulan ini juga ada peringatan Hari Kesehatan Nasional. Gara-gara wabah Malaria 1964, 12 November pun diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional.

Hari peringatan seharusnya bukan hanya sekadar seremoni belaka, toh. Ini harusnya jadi momen, sudah seberapa bagus kondisi dan penanganan kesehatan kita dibandingkan dulu? 

Baca juga : Hidup Sehat dengan Banyak Gerak

Terlebih saat ini pandemi masih menghantui kita semua. Meski Indonesia selama beberapa minggu ke belakang ini semakin melandai kurvanya, namun tak dipungkiri suatu saat akan naik lagi. Apalagi kabar terbarunya, ada varian baru dari Afrika yang lebih parah daripada varian Delta yang juga mudah menyebar.

Fokus penanganan kesehatan nyatanya bukan sekadar mengurusi pasien semata. Tahu apa yang juga perlu dihadapi? Stigma. Entah, ini penyakit hati yang susah banget dibasmi. Melawan stigma terhadap suatu penyakit seperti kusta dan penyakit lainnya sedari dulu terus saja jadi tantangan para nakes.

 Bahu – Membahu Mewujudkan Indonesia Sehat Bebas Kusta

bahu membahu wujudkan indonesia sehat bebas kusta

Bersama teman-teman dari komunitas 1Minggu1Cerita, kami diajak untuk memahami pentingnya partisipasi masyarakat dalam mewujudkan Indonesia sehat dan bebas kusta melalui Talkshow Ruang Publik Kantor Berita Radio (KBR) bersama NLR dan PT Dahana Persero. 

Ruang publik KBR kali ini membahas lagi tentang pentingnya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia untuk negara yang peduli pada kesehatan masyarakat. Talkshow ini seakan mengingatkan bahwa PR kesehatan kita masih banyak, dan ini bukan hanya tugas para nakes saja, tapi kita semua perlu bahu-membahu untuk mewujudkannya.

NLR sebagai organisasi non-profit yang berfokus pada penanganan kusta tak pernah lelah mengajak masyarakat untuk sadar pada kesehatan, mengajak partisipasi masyarakat serta memunculkan awareness. Harapannya, semakin banyak yang mengerti sehingga semakin memudahkan kita untuk mewujudkan Indonesia sehat dan bebas kusta.

Baca juga : Memilih Menu Diet Sehat

Ya, di Indonesia ternyata masih ada banyak penderita kusta, bahkan menempati peringkat ketiga di dunia setelah India dan Brazil. Parahnya lagi, mereka tidak mendapatkan kesempatan yang sama karena kondisi dan stigma negatif masyarakat.

Di sebagian masyarakat, penyakit kusta dianggap sebagai penyakit kutukan yang tidak bisa disembuhkan. Terlepas dari anggapan tersebut, penyakit ini sejatinya disebabkan oleh kuman bernama mycobacterium leprae yang dapat menyebabkan infeksi hingga menimbulkan kerusakan pada kulit, saraf, mata, hingga anggota gerak. Penyakit ini memang menular jika tidak diobati secara cepat.

Stigma negatif dan ketakutan inilah yang membuat banyak penderita kusta di negara kita kerap mengalami diskriminasi.

Diskriminasi yang dialami oleh para penderita kusta tidak hanya dialami saat bersosialisasi dengan masyarakat awam, yang memang sangat bisa kita maklumi, mengingat akan pengetahuan mereka yang sangat terbatas tentang penyakit kusta, sehingga stigma negatif relatif sulit untuk dihilangkan dari benak mereka.

Tapi mirisnya, ternyata stigma negatif tersebut juga tidak hanya berkembang di masyarakat awam, melainkan banyak juga berkembang dikalangan para nakes, yang meskipun sudah menempuh pendidikan di bidang kesehatan, namun belum paham bagaimana menghadapi penderita kusta? Dan, bagaimana cara mengarahkan penderita kusta agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal?

Penderita Kusta Berhak Mendapat Pelayanan Kesehatan yang Bermutu

Sebagaimana disebutkan dalam konstitusi kita, semua perlu mendapatkan perlakuan yang sama di hadapan hukum. Namun menurut dr. Febrina Sugianto (Junior Technical Advisor NLR Indonesia), stigma negatif yang berkembang di masyarakat mengenai penderita kusta membuat banyak penderita kusta merasa rendah diri, malu, terkucilkan, hingga takut untuk pergi ke pusat pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Akibatnya, banyak penderita kusta yang menyembunyikan diri atau berdiam diri di rumah serta enggan berobat.

Padahal, jika mendapatkan penanganan (pengobatan) dan mendapat penanganan lebih dini, penderita kusta bisa sembuh tanpa harus menjadi cacat atau tanpa harus meninggalkan sisa-sisa (bekas-bekas) penyakit tersebut.

Peringatan Hari Kesehatan Nasional banyak dimanfaatkan oleh beberapa pihak seperti LSM serta badan-badan usaha melalui program CSR untuk mengkampanyekan Indonesia inklusif dengan partisipasi aktif untuk mengingatkan semua pihak tentang pentingnya kesehatan serta kesamaan hak dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, termasuk bagi penyandang disabilitas, khususnya penderita kusta.

Baca juga : Yang Muda Berkarya tanpa Diskriminasi

Kalau di tempat kalian atau jika kalian menjumpai penderita kusta, atau siapapun yang dicurigai menderita penyakit ini, jangan ragu untuk turun tangan membantu mereka mendapatkan informasi mengenai pelayanan kesehatan.

Selain dengan sharing informasi penting ini, teman-teman juga bisa turut berpartisipasi dan membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang stigma-stigma negatif yang berkembang serta berbagai mitos kusta. Dengan tujuan agar masyarakat lebih aware kepada saudara-saudara kita penyandang disabilitas, khususnya penderita atau yang pernah mengalami penyakit kusta.

Ayo Aktif Berpartisipasi Mewujudkan Indonesia Sehat dan Bebas Kusta

NLR mengajak partisipasi aktif masyarakat untuk bisa berpartisipasi mewujudkan Indonesia sehat dan bebas kusta, ada 3 pendekatan yang bisa kita lakukan–seperti yang telah dilakukan oleh NLR yaitu:

  • Nihil penularan atau Zero Transmission
  • Nihil disabilitas atau Zero Disability, dan
  • Nihil eksklusi atau Zero Exclusion

Untuk mewujudkan 3 poin di atas, setidaknya kita bisa melakukan beberapa hal berikut ini:

  • Tidak menjauhi OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta)
  • Ikut mensosialisasikan UU Nomor 39 Tahun 2019 tentang kesehatan. Dan
  • Berikan kesempatan kepada OYPMK untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki dengan menerima mereka bekerja

Ayo Berbuat! Demi mewujudkan Indonesia sehat dan bebas kusta.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

2 Replies to “Mewujudkan Indonesia Sehat dan Bebas Kusta dengan Aktif Berpartisipasi”

  1. aku juga ikutan nih kemaren mbak Niin. Rasanya memang nggak ada habisnya membahas dan mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan, terlebih supaya terhindar dari penyakit kusta yang bisa menyebabkan disabilitas.

    KBR dan NLR memang pakarnya nih, ditabah bersama PT Dahana yang ikut andil dalam penyuluhan bahkan memberikan pelatihan kepada teman-teman berkebutuhan khusus. Salute!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!