Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Menciptakan Rumah Tangga Harmonis Ala Pasangan Milenial

5 min read

cara menciptakan pernikahan yang harmonis

Setelah melewati lima tahun pernikahan, kata orang-orang, kehidupan rumah tangga akan cukup hambar. Menjaga rumah tangga tetap harmonis ya tentu saja tidak seperti di film-film fairy tales, yang ujung-ujungnya kalau sudah bersama bakal happily ever after. Apalagi kita sebagai pasangan milenial, tentu perjalanannya cukup berbeda dibandingkan dengan orang tua dulu.

Dengan rutinitas yang boleh dibilang masih ‘suka-suka’ kadang saya berpikir ‘Duh, ini kalau di rumah ibu atau ibu mertua kayaknya udah dibilangin, nih. Masak baru mulai jam tujuh, Istri ga melulu ke dapur, suami nggak pernah dibikinin kopi pula’.

Eh iya, jadi ingat postingan yang sedang viral belakangan ini. Itu lho yang meminta perempuan untuk melakukan 12 poin yang mana diposisikan perempuan sebagai pelayan suami, harus bangun paling pagi, selalu wangi, nggak boleh menunjukkan lelah, ngurusin semua urusan rumah, yang sayangnya di tulisan tersebut tidak berlaku sebaliknya.

Baca juga : Sensasi Hidup Nomaden

Membaca postingan itu sebenarnya cukup biasa. Saya nyengir saja bacanya, karena banyak yang saya nggak lakukan. Hahahaha.

Dalam realita pun, ibu saya suka terheran-heran tiap telepon yang ada suami sedang di dapur dan saya di depan laptop. Saat kami LDR, ibu saya pun mengkhawatirkan makan dan kebutuhan suami kalau jauhan gitu.

Langsung saja sih saya jawab ; ‘Mih, laki-laki itu sudah besar. Bukankah sebelum menikah juga dia sudah bisa melakukan semua itu sendiri. Kenapa setelah menikah harus semua serba istri?’

Lagipula, apakah dengan sikap istri yang harus melakukan 12 poin itu akan tercipta rumah tangga yang harmonis? 

Menurut saya, nggak juga. Karena pernikahan yang harmonis itu perlu diupayakan berdua. Jadi perlu juga diperbincangkan berbagai hal yang membuat masing-masing pasangan tetap nyaman, tetap jadi diri sendiri, dan tetap waras mengarungi bahtera rumah tangga. Kalian setuju juga, kan?

Tantangan Pasangan Milenial dalam Mengarungi Rumah Tangga

Memang setiap zaman memiliki tantangannya sendiri-sendiri, begitupun dalam pernikahan. Hal besar yang cukup berpengaruh dalam pernikahan sekarang ini menurut saya adalah perkembangan teknologi. Yang membuat kehidupan rumah tangga yang memang sawang sinawang menjadi tolak ukur atau bahkan perbandingan.

Gaya Hidup

Melihat orang membagikan foto perjalanannya ke sebuah tempat wisata, foto makan-makan di suatu tempat, maupun foto dengan bintang idola memberikan identitas gaya hidup mereka.

Meski tak melulu yang kita lihat di media sosial itu faktanya demikian. Namun gaya hidup sekarang ini, terutama karena media sosial yang memungkinkan orang-orang FOMO (fear of missing out), bisa membuat seseorang atau sebuah keluarga mengalami pola gaya hidup yang berbeda. 

Pilihan gaya hidup memang ada di tangan kita. Dengan merumuskan bersama pasangan dan seluruh anggota keluarga, kita bisa menciptakan gaya hidup yang sesuai dengan karakter masing-masing. 

Kita bisa saling cek dan ricek dengan baik tipe-tipe pasangan baik dalam mengendali diri, memenej keuangan, menjalin hubungan dan lainnya. Gunanya hidup bersama adalah untuk tahu dalem-nya masing-masing dan belajar untuk mengupayakan kemaslahatan, kan?

Cara Mendapatkan Penghasilan

Bekerja sekarang ini memang tak lagi melulu ke kantor. Dengan perkembangan teknologi, kita bisa mendapatkan penghasilan dari rumah. 

Bekerja di rumah tentu bukan hal yang perlu diglorifikasikan. Toh, yang namanya bekerja berarti kita butuh ruang dan waktu sendiri. Meski terlihat lebih fleksibel, ternyata pekerjaan ini cukup menantang, baik dalam mengatur waktunya, memenej urusan rumah (karena satu tempat), serta mengendalikan emosinya juga punya tantangan tersendiri.

Pola Pengasuhan

Anak-anak nggak bagus kalau pegang hp terus? iya betul. Tapi, anak-anak nggak diperkenalkan dengan gawai sama sekali malah menurut saya kurang menyesuaikan dengan perkembangan zaman ya.

Baca juga : Cara Menjaga Kewarasan Hidup bagi Ibu

Dengan adanya perkembangan teknologi, kini berbagai bekal pun mudah kita akses melalui teknologi tersebut. Pola pengasuhan tiap zaman pastinya akan berbeda. Kita tak bisa menutup diri, bahwa anak bisa jadi akan lebih cerdas daripada kita dalam menggunakan gawai. Maka sebagai orang tua, kita perlu punya kuasa untuk bisa mengendalikan terhadap teknologi dalam pengasuhan tersebut.

Pola pengasuhan pun sekarang mencoba menyeimbangkan kedudukan laki-laki dalam rumah tangga. Iya, bapak juga perlu ikut campur, bukan membantu lagi, dalam urusan pengasuhan. Meski masih jadi hal baru buat banyak pasangan, saya meyakini posisi Ayah dalam pengasuhan juga memiliki peran besar.

Pola Pikir

 Kalau menurut Carol Dweck, seorang psikolog, keyakinan kita memainkan peran penting pada apa yang kita inginkan dan cara kita mencapainya. For sure, pola pikir ini berpengaruh pada pencapaian kita dalam hidup.

Semisal masalah gawai tadi, untuk orang yang punya fixed mindset, mungkin akan tetap keukeuh menganggap teknologi sebagai musuh. Atau tetap mengharuskan perempuan hanya di rumah untuk melayan keluarga. Bisa jadi pola pikir ini akan menjadikan pola hubungan dengan pasangan maupun anak dengan pola atas -bawah juga. Yup, patriarki still alive.

Sebaliknya, growth mindset akan membuat kita lebih terbuka terhadap perubahan, menerima tantangan, dan lebih mudah diajak berkomunikasi tentang banyak hal.

tantangan rumah tangga di era digital

Cara Menjaga Rumah Tangga Tetap Harmonis ala Pasangan Milenial

Beberapa tantangan di atas menjadi bahan obrolan kami setiap harinya. Perjalanan pernikahan yang masih seujung kuku ini tentu saja masih perlu banyak bimbingan dan pengalaman.

Dengan bekal pengetahuan, kesepakatan atas segala hal, serta pelajaran patriarki yang mengajarkan kami pada kesalingan dan kesetaraan, saya dan suami pun meyakini bahwa hal berikut ini bisa cukup membantu agar rumah tangga lumayan harmonis. Ya, nggak bisa dibilang tetap harmonis, selalu harmonis juga kan, pastilah ada bumbu-bumbu yang bikin sedap macam pertikaian kecil, debat, beda pendapat, maupun adu otot ya mesti ada lah ya.

Saling mendukung impian masing-masing

Sedari awal pertemuan, membicarakan mimpi masa depan menjadi topik kami sehari-hari. Ya, meski agak mengawang, berimajinasi memang seru dan menyenangkan, bukan. Apalagi jika mulai ada yang terwujudkan.

Meski dengan tiba-tiba dibelikan tiket buat ikutan kelas online, atau kudu menjalani LDR karena riset atau kerjaan, bisa jadi bukti dukungan kami sebagai pasangan. Mendukung seringkali bukan sekadar i support you dan sudah, berlalu begitu saja.

Memberikan dukungan pada pasangan berarti kita juga harus siap dengan risiko yang akan dihadapi dan dimaklumi. Semisal ada kelas seharian, siapa yang akan menghandle urusan anak. Punya kerjaan di pagi, berarti harus gantian masak atau beli. Kerjaan pindah-pindah, harus siap mental dan fisik jadi kaum nomaden. 

Baca juga : Checklist Belanjaa saat Pindahan

Tidak membatasi ruang

Meski seringkali menjadi excuse, pasangan yang lebih banyak memperbolehkan itu kadang bisa jadi tameng agar dia pun diizinkan. Haha, ada yang merasa begitu juga nggak?

Tapi memang selama ini selagi untuk hal yang baik, kenapa pula harus dibatasi, ya kan?

Memahami pola komunikasi pasangan

Beberapa pakar bilang bahwa komunikasi adalah kunci dari keharmonisan rumah tangga. Perlu kita ketahui juga nih, ternyata cara berkomunikasi laki-laki dan perempuan itu berbeda.

Belajar banyak dari para pakar maupun mencoba untuk mempelajari pola komunikasi keseharian dengan pasangan bisa jadi bekal kita untuk ngobrol dengan lebih nyaman dan nyambung. Meski tentu saja, harmonis bukan berarti bahwa keseharian kita sebagai pasangan dan orang tua akan selalu baik-baik saja. No. Prahara dan konflik itu pasti ada. Makanya banyak yang bilang bahwa itu adalah bumbu dalam rumah tangga. Ambil hikmahnya saja.

Kesetaraan dalam ruang tangga

Ini adalah bekal yang benar-benar perlu kita jaga sebagai pasangan milenial. Bersyukurnya semakin kesini edukasi tentang kesetaraan pun semakin menggaung. Senang rasanya ketika membincangkan tentang bapak masak, ibu bekerja, bapak mencuci, ibu punya kelas, menjadi obrolan wajar.

Memahami konsep ini tentunya perlu bekal dan kesepakatan sedari sebelum menikah. Makanya, membicarakan konsep pernikahan tidak boleh berhenti hanya sebatas membahas resepsi ya, guys.

Konsep yang justru akan lebih panjang dijalani adalah perjalanan untuk menciptakan ruang-ruang seimbang bagi laki-laki dan perempuan. Bekal ini akan membawa kita pada perubahan stigma serta memunculkan narasi setara tanpa diskriminasi. 

Membuat momen bahagia

Momen bahagia bisa muncul dengan sendiri, bisa juga kita yang menciptakan. Setelah menikah, bisa jadi momen suami kasih istri uang itu lebih membahagiakan daripada dikasih bunga, tapi kadang sebaliknya pun didambakan. Siapa kira kan?

Momen bersama keluarga menjadi cara sendiri untuk meningkatkan bonding antar sesama anggotanya. Momen ini juga bisa menjadi bahan evaluasi, bahan pembelajaran atau memunculkan ide-ide baru untuk menyegarkan visi misi keluarga. Sudah punya visi misi keluarga, kan?

Punya me time sendiri-sendiri

game solitaire.org
Siapa yang dulu suka main game ini di komputer?

Dengan kesibukan kita mengurus kerjaan, anak, dan rumah, kita tetap perlu punya yang namanya me time. Sebagai manusia, tentu saja kita memiliki titik lelah dan jenuh menghadapi rutinitas dan segala urusan yang tak berujung, kan?

Sebagai keluarga muda, kami pun merasa wajar-wajar saja ketika dalam satu kesempatan, kami justru sibuk menonton film bersama-sama, atau sibuk main gim dengan gawainya masing-masing. Ya, kadang kami memiliki waktu untuk itu. Tentunya dengan kesempatan yang dibuat sebelumnya.

Saat lumayan jenuh dan butuh hiburan, saya suka buka website solitaire.org. Anak 90’an pasti akrab kan dengan mainan jadul ini?

hiburan kala me time
Gim kesukaan Nahla, Daily Maze

Gara-gara solitaire nih saya jadi tahu caranya main kartu, yang mana saya nggak pernah main kartu karena dilarang sama ayah. Dulu saya tentu saja mainnya menggunakan laptop, jadi nggak ketahuan, hihi.

Nah, kalau melalui website solitaire.org mainan kartu pun dibuat beragam. Ada yang tampilannya seperti main golf, golf solitaire, atau pyramid solitaire lebih seru.

Saya sendiri lebih suka main bareng anak, jadi biasanya kami memainkan gim Merge Cakes, Cooking Mahjong, Zuma Legend, atau Daily Maze.

game masak-masakan
Merg Cooking, salah satu game masak-masakan di Solitaire.org

Saking banyaknya pilihan gim, kita bisa coba-coba terus. Gratis pula, jadi harus terkontrol ya mainnya, jangan sampai kebablasan. Hihi. Oh iya, setiap gim ada petunjuk permainannya, kok. Jadi kamu bisa eksplor gim sebanyak-banyaknya dan sepuasnya.

—-

Saya yakin sih, setiap pasangan punya cara masing-masing untuk menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga. Nah, bagaimana nih biasanya cara kamu untuk membuat rumah tangga tetap harmonis? yuk, cerita di kolom komentar.

Salam hangat,

Ghina

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Puasa Ramadan 2021

Ghina
2 min read

Kaleidoskop 2020

Ghina
2 min read

2 Replies to “Menciptakan Rumah Tangga Harmonis Ala Pasangan Milenial”

  1. aku jg sebnernya butuh waktu panjaang banget biar saling klik sama suami. hehee. kita satu suara kalo soal game ini bener banget <3 hahaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!