Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

Menjalani Kehamilan di Groningen, Belanda

5 min read

tantangan kehamilan di belanda

ghinarahmatika.com – Hamil di Belanda menjadi salah satu wishlist saya dan suami dulu. Tanpa disadari, alhamdulillah ternyata terwujudkan juga. Bahkan kami kembali ke Belanda dalam kondisi usia kehamilan saya sudah menginjak sekitar 24 minggu.

Seharusnya kala itu saya sudah mendapatkan USG total untuk mengetahui kondisi bayi secara keseluruhan. Biasanya di minggu ke-21, beberapa bagian tubuh bayi sudah terbentuk sempurna. Jadi USG total ini bisa membuat kita mengetahui lebih dini dan tentunya mempersiapkan lebih dini kondisi bayi kita.

Namun sayangnya saat itu saya belum bisa periksa. Kondisi masih numpang di rumah orang dengan alamat terdaftar menggunakan alamat kampus membuat kami belum bisa mengurus segala urusan administrasi termasuk asuransi. Ya bisa aja sih sebenarnya periksa langsung, tapi biayanya mahal banget euy.

Hal yang harus Dilakukan saat Mengetahui Kalau Kamu Hamil di Belanda

persalinan di belanda
Usai USG yang dilakukan selama satu jam

Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan saat berencana hamil dan menjalani kehamilan serta akan melakukan persalinan di Belanda. Nah berikut check listnya :

1. Punya Asuransi

Hukum asuransi kalau di Belanda adalah sunnah muakad ketika kamu merasa bahwa kamu baik-baik saja, namun dalam kondisi sakit dan hamil harus berubah jadi wajib ya. Sangat meringankan beban biaya banget.

Saya belum pernah mendengar cerita orang yang hamil di sini nggak pakai asuransi sih. Nggak kebayang saja biayanya. Dulu sewaktu saya mau cek USG di rumah sakit dan kebetulan lihat brosur pengecekan beserta biayanya, langsung menelan ludah deh. Sekali cek saja bisa sampai 100 euro. Ya mending bayar segitu buat asuransi kan, bisa buat periksa apa pun.

Asuransi ini adalah hal yang pertama ditanyakan ketika akan melakukan pemeriksaan baik di dokter keluarga, rumah sakit maupun bidan. 

Lewat asuransi pula kita bisa mendapatkan pelayanan persalinan gratis. Bahkan beberapa kebutuhan persalinan (kraampakket) untuk ibu pun disediakan oleh asuransi ini. 

Banyak ibu-ibu di sini menggunakan asuransi Menzis dengan paket extraverzorg 2. Paket itu membuat semua kebutuhan pemeriksaan ibu hamil tercover tanpa perlu ada biaya tambahan. Namun entah kenapa kemarin suami dengan keukeuh pilih paket extraverzorg 1 saja. Katanya dia sih pelayanannya sama aja, tapi bedanya lebih murah aja. Wkwk

Terjadilah perdebatan yang cukup sengit antara saya dan suami. Saya ingin pilih paket yang kedua, tapi dia keukeuh yang paket kesatu. Ya sudah, saya bilang kalau kenapa-kenapa harus siap, dan semoga saja tidak kenapa-kenapa. Takutnya kalau kenapa-kenapa nanti ada biaya tambahan yang bikin kantong jebol. Tapi qadarullah, kehamilan kedua penuh drama, dan beneran donk ada tambahan 150 euro yang dibayar cicil selama setahun, wkwkwkwk. Makanya manut istri itu penting ya! 😀

Nah, tapi sebenarnya selama tidak ada masalah dalam kehamilan, pakai paket basic pun tidak apa-apa, kok. Bahkan kalau ada masalah pun, karena case itu bukan kehendak kita tapi pure karena kondisi kehamilan, paket basic pun bisa digunakan. Seperti teman saya yang saat kehamilan tidak ada masalah apa-apa, tapi saat mau lahiran ternyata ketuban pecah dulu sehingga yang rencananya akan melahirkan di rumah pun kemudian melahirkannya di rumah sakit.

2. Huisarts

Pertanyaan lanjutan ketika kamu akan periksa di bidan maupun di rumah sakit, siapa dokter keluargamu?

Awalnya saya sering bingung, karena merasa ketika ditanya dokter keluarga itu berarti spesifik, ada nama orangnya. Namun ternyata yang dimaksud dokter keluarga itu ya Huisarts.

Jadi setiap kita yang punya asuransi itu akan pasti punya yang namanya Huisarts. Huisarts saya sendiri adalah StudentArts. Di Huisart itu kita tidak bisa memilih dokter yang kita inginkan.

Namun di kasus saya ini saya skip untuk menghubungi Huisarts, karena tanya beberapa orang katanya langsung saja mencari bidan terdekat, biasanya hubungi Huisarts juga bakal direspon begitu soalnya. 

3. Bidan

Nah, setelah saya punya asuransi akhirnya saya langsung menghubungi bidan paling dekat dari rumah, namanya Verloskundige La Vie. Karena saya datang dengan usia kehamilan 24 bulan, jadi saya diminta laporan pemeriksaan kehamilan selama di Indonesia.

Setelah melihat riwayat kehamilan, saya pun dapat pemeriksaan USG dan beberapa pertanyaan. Alhamdulillah semua kondisi kehamilan baik-baik saja. Lebih lanjut saya pun ditanya tentang riwayat penyakit. Saat saya bilang kalau orang tua saya kena diabetes, akhirnya saya pun dirujuk ke rumah sakit untuk tes darah.

Selama hamil sebenarnya kita bisa periksa sama bidan terus. Kecuali jika punya kasus khusus dalam kehamilannya. Seperti kasus saya, gara-gara air ketuban kebanyakan akhirnya periksa ke bidan cuma sekali pas awal itu doank, setelah itu saya setiap minggu periksa dan usg sama dokter di rumah sakit.

4. Pemeriksaan di rumah sakit

Nah, seperti cerita saya di awal, kalau ada juga pemeriksaan menyeluruh yang perlu dilakukan di rumah sakit. Selain itu, kita punya jatah untuk dapat usg di rumah sakit. Jatah USG-nya tiga kali, yaitu usia kehamilan 10, 20, dan 30.  USG di sini maksudnya yang dicover sama asuransi ya. Kalau karena permintaan mah kayaknya bayar sendiri ya. Kecuali ada kasus seperti saya. 

Periksa di rumah sakit ini sayangnya nggak bisa request pengen diperiksa sama dokter siapa atau periksa sama dokter perempuan aja gitu. Tapi selama pemeriksaan sih alhamdulillah ketemunya sama dokter perempuan sih seringnya. Pernah denk sama dokter laki-laki, tapi sekali itu doank.

Pengecekan detak jantung pasca perut diputar (ECV)untuk mengatasi sungsang

Oh iya di rumah sakit ini selain periksa USG juga kita bakalan diminta untuk tes gula. Seperti cerita saya yang memang punya riwayat dari orang tua yang kena diabet jadi saya pun diminta untuk tes gula. Saya diminta untuk tidak makan minum 10 jam sebelum diambil darahnya dulu.

Nah, consent sama pasien benar-benar diterapkan terhadap di sini ya. Jadi soal data kehamilan kita, petugas akan minta izin dulu, boleh nggak data kita dikasih ke bidan, instansi, atau tempat pemeriksaan lain ketika kita akan periksa nantinya. 

Selain itu, enaknya lagi data kita terintegrasi gitu. Dari mulai pemeriksaan di mana sama siapa itu semua terekam dalam data mereka. Jadi semisal saya yang periksa di satu rumah sakit lalu periksa di rumah sakit lain itu nggak bakal ditanya panjang lebar soal kondisi kehamilan, soalnya semua data sudah ada di mereka. Semoga Indonesia segera kayak gini ya. 

5. Memilih tempat melahirkan

Di Belanda kita bisa memilih mau melahirkan di rumah atau di rumah sakit. 30% perempuan Belanda juga melahirkan di rumah. Selama kehamilan kita tidak bermasalah dan tidak ada riwayat kehamilan berisiko, kita akan diperbolehkan untuk melahirkan di rumah.

Biasanya hal ini akan ditanyakan ketika kita bertemu dengan bidan. Saya juga dulu agak ngotot ingin melahirkan di rumah. Agak trauma mendengar nama rumah sakit, takut kayak di Indonesia yang lahiran samping-sampingan gitu. Tapi apalah daya karena kondisi kehamilan berisiko, saya pun harus melahirkan di rumah sakit.

Baca juga : Cerita Kelahiran Nurayya 

6. Kraamzorg

Nah, di usia kehamilan masuk trimester kedua biasanya kita akan diminta untuk menghubungi Kraamzorg. Kalau di kasus saya itu kemarin saat periksa ke bidan pertama kali langsung diminta untuk menghubungi Kraamzorg. 

Kraamzorg ini layanan dari pemerintah untuk membantu ibu pasca melahirkan di minggu pertama. Kamu bisa mendapatkan layanan ini secara gratis jika kamu membayar asuransi. Kalau nggak bayar asuransi saya kurang tahu apakah dapat layanan ini atau nggak.

Cerita lebih lengkap tentang Kraamzorg sudah saya tulis di sini ya : Minggu pertama pasca melahirkan bersama Kraamzorg.

7. Menyiapkan mental

Iya memang kehamilan dan persalinan itu perlu mental yang kuat ya. Tapi melahirkan di Belanda juga berarti mental kita harus dua kali lebih tahan banting, harus lebih kuat dan mandiri sih.

Bidan dan dokter di sini itu bisa dibilang santai banget. Sementara kita kan suka khawatiran banget dan pengennya kalau ada apa-apa langsung ditangani lebih dini ya. Pengennya kalau kondisi tertentu dokter memberi kita aturan jelas do and dont’s-nya.

Ada cerita dari beberapa teman yang bilang bahwa melahirkan di sini ketika sakit kalau belum sakit banget mah ya ditangani sendiri aja. Kalau belum mepet mau melahirkan ya mereka juga belum datang. Kalau keguguran tapi masih di minggu-minggu awal mah yaudah nggak usah ke bidan juga gapapa. Obat paling hanya merekomendasikan asam sulfat aja suruh beli sendiri. Kalau masih kuat sepedaan, puasa, dan bepergian meski usia kehamilan sudah 30 minggu ke atas ya lakukan saja. Sok wae pokoknya mah!

Jadi menurut saya kita harus lebih tahu kondisi kita sendiri. Mampu atau nggaknya kita yang putuskan. Seperti kondisi saya yang punya riwayat darah rendah, penyebab tensi rendah ini harus saya ketahui dan tangani sebisa mungkin. Saat habis diputer perutnya (External Chepalic Version) yang harusnya lebih banyak istirahat, ada kemungkinan diabet jadi karus kurangi makanan manis, dan kondisi lainnya. 

8. Menyiapkan kebutuhan bayi

Saat pertama kali bertemu dengan Kraamzorg, selain membicarakan tentang jam kerja Kraamzorg dan hal yang perlu dikerjakan olehnya, Kraamzorg juga akan memberikan daftar list persalinan dan bayi yang harus kita persiapkan.

Ada banyak banget yang harus kita persiapkan. Wow banget, saat pertama melihat listnya pun saya langsung kaget dan bingung membayangkan pengeluaran sebanyak apa untuk list yang pastinya hanya dipakai cuma sebentar itu.

Alhamdulillah banget, ibu-ibu Indonesia di sini itu pada baik banget. Saya mendapatkan banyak sekali lungsuran. Jadi saya malah nggak beli banyak, kecuali sabun, sampo, popok dan tisu basah saja.

Nah, dari semua list yang ada, beberapa list perlengkapan bayi yang wajib ada itu antara lain : maxi cosi buat bawa bayi dari mobil, box bayi, kruiken (termos agar bayi tetap hangat), bak mandi, kain muslin, selimut, beberapa jumper, topi, dan koas kaki.

Baca juga : Menyusui adalah Pekerjaan

Untuk keperluan sebanyak itu ternyata beberapa toko bisa mendapatkannya secara gratis juga lho. Ini dia nama websitenya babystraatje. Lumayan banget sih, ini bisa dapat banyak perlengkapan bayi lho. Pastinya membantu banget kan!

9. Paket Gratis Untuk Ibu (Kraampaket)

  Selain kebutuhan bayi, kebutuhan ibu pun dipenuhi donk sama asuransi nih. Di list itu pun ada juga kebutuhan khusus untuk ibu kan. Saya sih mikirnya ya palingan butuh pembalut saja kan. Ternyata ada lumayan banyak sih.

Selain pembalut, kita juga bakal dapat hand sanitizer, sabun tangan, semacam perlak disposable (untuk menampung ketuban kalau pecah duluan). Kesemuanya alhamdulillah kepake banget buat saya. 

Nah, begitu kira-kira hal-hal yang akan teman-teman alami juga kalau hamil dan melahirkan di Belanda ini. Lumayan seru kok. Semoga bisa membantu untuk teman-teman yang berencana untuk punya anak di Belanda ya.

Ghina Hai, saya Ghina. Perempuan pecinta pagi, pendengar setia radio dan podcast, menulis tentang kehidupan perempuan dan hal terkait dengannya.

3 Replies to “Menjalani Kehamilan di Groningen, Belanda”

  1. Hai bumil yang udah lahiran, haha.. Tinggal di luar negeri, keknya memang lebih more research yah, Mbak. Apalagi poin terakhir ya, mentalnya udah harus dipersiapkan sejak dini.

  2. Aku penasaran kalau pelayanan bidaj di sana seperti apa karena aku berapa kali mengalami pengalaman buruk sama bidan, jadi sejak anak kedua sampai 5, aku takut sama bidan. Alhamdullilah dapat dokter kandungan baik, tapi memang ga semua bidan begitu ya mba.thank biat sharingnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!